
Satria mendatangi ibunya. Namun, ketika dia berhenti kediaman orang tuanya tampak kosong. Lalu Satria pun memilih menunggu ibunya. Benar saja dugaan Satria, ibunya baru saja pulang. Yang dia curigai, ke mana? Kenapa dia lebih sering membawa sopir padahal dia bisa menyetir sendiri. Itu yang ada di pikiran Satria.
"Mama dari mana?" tanya Satria.
"Kamu sudah lama di sini?" Risa mengalihkan pertanyaan Satria.
Satria tidak menjawab pertanyaan ibunya itu. "Papa sakit, kenapa seharian ini mama tidak bisa kuhubungi?" tanya Satria.
"Aku tidak peduli lagi dengannya. Kami sedang mengurus proses perceraian," ungkap Risa. Dia masa bodoh dengan mantan suaminya itu.
"Mama tidak berubah. Mengalahlah sedikit! Papa butuh perhatian mama."
"Untuk apa? Dia sudah punya mainan baru," jawab Risa.
"Mama sadar tidak, mama yang membuat papa berpaling pada wanita lain. Mama tidak pernah memperhatikan papa sehingga papa mencari kenyamanan di luar sana," geram Satria pada ibunya sendiri.
Risa menghela nafas. "Kamu tidak tahu mereka sebenarnya sudah menjalin hubungan bahkan jauh sebelum mama menikah dengan papamu," ungkap Risa.
__ADS_1
Satria terkejut tapi dia tidak mau ikut campur urusan rumah tangga orang tuanya. "Temui papa kalau mama masih punya hati nurani," ucap Satria lalu pergi.
Dia melirik ke arah sopir Risa yang dicurigai oleg Satria. Namun, dia tidak mau menuduh ibunya sendiri jika belum menemukan bukti.
Satria pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ayahnya. "Bagaimana keadaan papa?" tanya Satria pada Vera, istri kedua ayahnya.
"Jangan pura-pura peduli pada suamiku. Lagi pula kamu yang membuatnya masuk rumah sakit. Kenapa tiba-tiba menanyakan kabarnya?" sindir Vera.
Satria paham jika ibu tirinya itu kecewa pada dirinya. "Aku menyesal. Aku ke sini ingin meminta maaf," ucap Satria dengan tulus.
"Terlambat, lihat keadaan ayahmu! Lihat!" bentak Vera. Tak lama kemudian Lusi datang.
"Lusi jangan membela anak sialan ini. Dia sudah menyusahkan orang lain untuk apa kamu membelanya?"
"Bagaimana pun Kak Satria adalah keluarga kita, Ma. Dia juga anak mama. Perlakukan dia dengan baik!" pinta Lusi.
Vera tersenyum sinis. "Aku bukan ibunya untuk apa bersikap pada orang seperti dia dan ibunya?"
__ADS_1
"Maafkan sikap ibuku jika dia pernah menyakiti Anda." Satria mewakili ibunya meminta maaf pada Vera.
"Jangan selalu minta maaf, kamu ingat gelas yang pecah tidak akan kembali sempurna."
"Saya tahu, Tante. Tapi saya akan berusaha keras memperbaiki keadaan." Vera tetap acuh.
Sementara itu di tempat lain, Gwen sangat gabut. Dia ingin pergi akan tetapi orang tuanya melarang. "Ck, membosankan. Mas Satria sedang apa ya?"
Gwen mengambil ponselnya kemudian mengirim pesan pada kekasihnya, Satria. Tak lama kemudian Gwen mendapatkan balasan pesan. Gwen pun menelepon dengan panggilan video. "Mas jemput aku! Aku bosan di rumah," rengek Gwen.
"Nanti kalau orang tuamu tidak setuju bagaimana?"
"Pasti diperbolehkan. Mas Satria datanglah baik-baik. Papa tipe orang yang memegang prinsip sopan santun." ucap Gwen setelah itu menutup telepon.
Tak butuh waktu lama, Satria ada di bawah jendela. "Gwen," panggil Satria dengan hati-hati.
"Apa kamu bisa lompat?" tanya Satria. Gwen merasa ngeri melihat ke bawah. Tapi dia mencobanya.
__ADS_1
Gwen melompati balkon kamarnya. Gwen ingin sekali menjerit tapi dia tahan agar tidak ketahuan. Untung saja Satria menangkapnya. "Siap bersenang-senang?" tanya Satria ketika Gwen masih berada di atas gendongannya. Gwen mengangguk cepat.
Ke mana Satria membawa pergi Gwen?