Terjerat Pesona Driver Tampan

Terjerat Pesona Driver Tampan
Keseruan keluarga


__ADS_3

"Stefy, Stef," panggil Glen. Stefy langsung tersadar dari lamunannya.


"Ayo pulang! Gue anterin," ucap Glen. Stefy baru sadar kalau tadi dia hanya berangan-angan.


'Sial gue kira ditembak sama klan beneran?' batin Stefy kesal.


Glen menghentikan langkahnya ketika melihat gadis itu tak kunjung mengikuti. "Lo mau sampai kapan berdiri di situ?" tanya Glen. Stefy pun akhirnya mengikuti Glen keluar dari UKS.


Glenn mengajak Stefy masuk ke mobilnya. Selama di perjalanan tidak ada pembicaraan di antara mereka. Tiga puluh menit berselang, Glen menghentikan laju mobil ketika berada di depan rumah Stefy. "Thank you, Glen," ucap Stefy sebelum turun. Glen mengangguk tanpa ekspresi.


"Dasar manusia es," gumam Stefy ketika mobil Glen menjauh.


Glen langsung pulang setelah mengantarkan Stefy. Tapi ketika dia sampai di rumah, Gwen menghadangnya. "Temen gue pulang dengan selamat 'kan?" tanya Gwen.


Glen hanya berdehem. Gwen mengikuti langkah Glen. "Lo nggak ada tertarik gitu sama Stefy. Dia cantik, tajir, kurang apa coba?" tanya Gwen.


"Kurang pinter," jawab Glen.


"Yagh, lo jangan nyari yang sempurna, Glen. Nggak ada manusia di dunia ini yang sempurna. Contohnya gue, cantik, tajir tapi be*go dalam hal mata pelajaran." Gwen tidak segan-segan mengakui kalau dirinya tidak pandai.


"Elo tu bukannya be*go tapi males aja. Coba lo lebih rajin sedikit."


"Kalau rajin kenapa Glen?" tanya Gwen. Glen tak menghiraukan pertanyaan Gwen. Dia menutup pintu kamarnya sebelum Gwen masuk dan mengganggu dirinya.


"Ngga bisa gini. Gue harus lebih sering pertemukan mereka. Ngomong-ngomong Mas Satrianya aku lagi apa ya?" tanya Glen pada dirinya sendiri. Dia pun merogoh ponsel yang ada di saku celananya.


^^^'Mas lagi apa?'^^^


Pertanyaan gak jelas dari orang gabut itu terkirim ke ponsel Satria. Satria menarik ujung bibirnya. "Kenapa lo senyum-senyum gitu?" tanya Aldo. Mereka sedang ada di bengkel Satria. Satria baru saja selesai memperbaiki motor Aldo yang rusak.


"Kepo lo!"


"Alah, paling dapat pesan dari Ayang Gwen," ledek Aldo. Satria mencolek pipi Aldo dengan tangannya yang masih penuh oli.


"Sialan lo! Cuci tangan dulu, woi. Wajah gue jadi cemong nih," protes Aldo tidak terima. Satria hanya terkekeh.


"Sat, gimana jadi guru les privatnya Gwen?" tanya Aldo.


Satria menghela nafas. "Berat. Anaknya males-malesan," jawab Satria. Kini Aldo yang terkekeh melihat ekspresi wajah Satria.


"Ck, namanya juga usaha buat pdkt ya nggak?" Aldo menaikturunkan alisnya.


"Udah pulang sono lu! Gue mau narik," ucap Satria.

__ADS_1


"Elo nggak usah banyak kerja dulu lah. Kaki lo baru sembuh." Aldo memberikan saran karena khawatir dengan Satria.


"Kalau gue nggak kerja gue makan apa?" tanya Satria.


"Ya kan secara elo anak oang kaya. Balik aja lo ke rumah. Kalau gue jadi elo gue mah nggak perlu capek-capek kerja. Udah panas, keringetan lagi."


"Gue lebih nyaman di sini," jawab Satria. Kalau mengingat keluarga tidak ada kenangan manis yang terukir selama hidupnya. Orang tuanya lebih sering memberikan luka ketimbang sebuah kebahagiaan.


"Lo nggak bosen hidup sendirian?" tanya Aldo. Satria tersenyum miring.


"Lo kok tiba-tiba perhatian sama gue. Gue curiga elo pacaran sama Stefy cuma buat nutupin jati diri lo yang sebenarnya," tuduh Satria.


Aldo meninju bahu Satria. "Sialan lo! Gue bukan penyuka jeruk. Gue normal cuy." Satria terkekeh mendengar ocehan Aldo.


Di tempat lain, Gwen yang sedari tadi menunggu balasan Satria akhirnya tidak tahan lagi. Habis kesabarannya. Dia menelepon laki-laki idamannya itu. "Ck, sok sibuk banget sih. Dikirimin pesan nggak dibalas, ditelepon nggak diangkat. Maunya apa sih?"


"Gwen," panggil Kristal yang masuk ke kamar putrinya.


"Eh, Mama ada apa, Ma?" tanya Gwen.


"Gerald lagi demam, mama mau belo obat di apotek. Tolong kamu jaga dia sebentar!" pinta Mama Kristal.


"Perasaan tadi dia baik-baik aja, Ma."


"Iya, Ma."


Gwen pun masuk ke kamar Gerald. "Katanya lo sakit, Dek?" tanya Gwen.


"Apaan sih? Kakak keluar aja!" usir Gerald. Gwen mengacak rambut adiknya gemas.


"Elah yang udah gede malu ya dijagain kakaknya?" ledek Gwen. Gerald beringsut di bawah selimut.


"Kalau lagi demam jangan selimutan. Nanti tambah sakit."


"Bodo."


"Etdah, ni anak dibilangin juga." Gwen pura-pura ingin memukul adiknya. Dia menjaga Gerald sambil melihat-lihat isi kamar anak laki-laki itu.


"Jangan sentuh apapun!" teriak Gerald.


"Ck, dasar pelit!" Gwen memanyunkan bibirnya. Tak berselang lama sang mama pulang dengan membawa obat di tangannya.


"Gerald, minum obat dulu!"

__ADS_1


"Nggak mau," tolak Gerald.


"Ni bocah udah gede juga minum obat aja takut," cibir Gwen.


"Berisik! Kakak keluar!" usir Gerald sekali lagi.


"Songong amat jadi bocah. Ma, sini Gwen bantuin Gerald minum obat. Gwen yang pegangin dia. Mama yang masukin obat ke mulutnya," ucap Gwen menginterupsi ibunya. Mama Kristal mengangguk setuju.


"Nggak mau," teriak Gerald sambil memberontak.


Gwen yang memiliki kekuatan karena terbiasa berolahraga bisa menahan tubuh Gerald yang memberontak. "Diam nggak lo! Kalau nggak diem gue gigit pipi lo!" ancam Gwen. Dia masih gemas dengan adiknya. Kebiasaannya dulu ketika Gerald masih kecil, Gwen kecil sering menggigit pipi Gerald hingga menangis.


"Oke, oke. Gue minum obat sendiri." Gwen melepas tangannya. Namun, Gerald menggunakan kesempatan itu untuk lari ke kamar Glen lalu mengunci pintunya.


"Ngapain lo di sini?" tanya Glen.


"Kak, selamatkan gue. Mama sama kak Gwen mau ngasih gue obat," adunya pada Glen. Bukannya membela Gerald Glen malah menangkap tangan Gerald lalu memutarnya ke belakang.


"Kak, kak Glen. Kok jadi gini sih?" protes Gerald.


"Minum obat kalau lo mau sembuh," ucap Glen dengan ekspresi nada datar khas miliknya.


Setelah puas mengerjai Gerald, Gwen dan Glen terkekeh. "Jangan nangis! Gue rekam nih," ancam Gwen.


Ketika Gwen mengeluarkan ponselnya, terdapat notifikasi pesan dari Satria. Gwen langsung berlari mencari tempat untuk membaca pesan pria idamannya itu.


^^^'Mau martabak nggak? Aku ada di depan rumah kamu.'^^^


Gwen langsung berlari keluar. Dia akan menemui Satria yang sedang menunggu di depan rumah. "Mas Satria. Nekat banget nggak pakai rambut palsu sama kacamata," ucap Gwen sambil berbisik.


"Mulai besok aku nggak mau menyamar lagi. Aku mau jadi guru les privat kamu tapi tidak lagi menyamar." Gwen menghembuskan nafas berat.


"Aku takut. Mama sama papa melarang aku ketemu sama Mas Satria," ucap Gwen dengan wajah sendu.


"Kalau masalahnya soal biaya rumah sakit yang kamu keluarkan untuk operasiku, aku akan menggantinya," ucap Satria dengan mantap.


Tak lama kemudian sebuah mobil berwarna hitam hendak masuk ke halaman rumah Gwen.


"Gwen," panggil seorang laki-laki yang memakai setelan jas lengkap.


'Mampus,' batin Gwen ketar-ketir.


Jadi siapakah yang memanggilnya?

__ADS_1


__ADS_2