
"Ma," panggil Gerald yang baru pulang dari berkemah.
"Mama pergi," jawab Satria.
"Kok elo ada di rumah gue," sarkas Gerald.
"Dek, yang sopan. Mas Satria ini suami kakak," jawab Gwen sambil mengalungkan tangannya ke lengan Satria.
"What the hell?" Gerald kaget bukan main. Tiga hari pergi berkemah membuat Gerald tidak mengetahui kalau kakaknya sudah menikah dengan Satria. Bukan apa-apa Satria masih memegang kartu As Gerald. Dia takut suatu hari Satria membongkar rahasianya.
Satria tersenyum tipis. Sedangkan Gerald menatap kesal pada kakak iparnya itu. Dia berjalan melewati Satria dan Gwen begitu saja.
"Yee... Pulang-pulang malah sewot. Jin hutan masih nempel tuh mungkin." Satria menempelkan satu jarinya ke mulut Gwen.
"Gwen, jangan berkata kasar!" Gwen tersenyum kikuk di hadapan suaminya.
"Mas Satria mau makan apa hari ini? Biar Gwen masakin," ucapnya dengan manja.
"Emang istriku bisa masak?" goda Satria. Gwen mengerucutkan bibir.
"Bisa dong. Masak air," jawab Gwen. Satria terkekeh mendengar jawaban spontan istrinya.
"Bagaimana kalau Mas Satria yang masak hari ini?" Gwen terkejut.
"Mas Satria bisa masak?" tanya Gwen.
__ADS_1
"Bisa dong," jawab Satria. Laki-laki itu pun mengambil apron dan memakainya.
"Mas Satria belajar masak di mana?" tanya Gwen penasaran. Dia melihat Satria begitu lihai memotong bawang.
"Belajar dari handphone," jawab Satria.
"Mau masak apa hari ini?" tanya Gwen.
"Karena nggak persiapan aku masakin nasi goreng saja ya," jawab Satria.
"Boleh. Kalau suamiku yang masak pasti aku makan," jawab Gwen dengan antusias.
Setelah selesai, Satria menghidangkan nasi goreng buatannya untuk Gwen. Tapi belum sempat Gwen mencicipi Glen menyambar piring itu. "Kak Glen," teriak Gwen.
"Gue laper. Makasih banget ya Sat udah dimasakin," ucap Glen tanpa dosa. Gwen kesal bukan main.
"Sayang, nanti aku buatin lagi," ucap Satria menengahi.
"Lo pinter juga masaknya, Sat. Boleh gantiin mama kalau lagi nggak ada di rumah," ucap Glen.
"Kak Glen," protes Gwen.
"Eh, Gerald mana? Kenapa setibanya di rumah tadi dia tidak keluar," tanya Gwen. Glen menggedikkan bahu.
"Sayang, aku pesankan makanan buat kalian," kata Satria. Gwen mengangguk setuju.
__ADS_1
Tak lama kemudian Ruli dan Kristal pulang dari kondangan. Dia membawa paper bag di tangannya. Gwen menyambut kedatangan orang tuanya seperti anak kecil. "Ya ampun mama tahu aja kalau kita belum makan."
"Kenapa nggak pesan makanan?" tanya Ruli.
"Mas Satria udah pesan tapi belum nyampe. Aku udah laper banget, Ma," rengek Gwen. Kristal pun memberikan makanan itu pada Gwen.
Gwen membaginya dengan yang lain. "Terima kasih, istriku," ucap Satria dengan lirih. Gwen tersipu malu ketika Satria memanggilnya dengan kata istri.
"Sama-sama, suamiku," jawab Gwen. Glen merasa muak dengan kebucinan pasangan suami istri itu hingga dia ingin muntah.
"Satria kapan kamu mengatakan pada orang tuamu kalau kalian sudah menikah?" tanya Ruli.
"Tunggu sampai papa pulih. Aku mengkhawatirkan kesehatannya, Pa," jawab Satria. Ruli mengangguk setuju.
Tiba-tiba Gwen merasa mual ketika baru memakan dua sendok nasi plus ayam goreng. Dia berlari ke dalam toilet. Kristal dan Ruli melihat ke arah Satria. "Kalian sudah berhubungan suami istri?" tanya Ruli. Satria menggeleng cepat.
"Tidak, Pa," jawab Satria.
"Lalu kenapa Gwen mual muntah?" tanya Kristal setelah itu dia menyusul putrinya.
"Gwen kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya Kristal. Gwen menggeleng lemah.
"Perutku mual banget, Ma," jawab Gwen sambil memegangi perutnya yang sakit.
Ruli menatap tajam pada Satria. Padahal dia sudah diwanti-wanti agar dia tidak menyentuh Gwen selama Gwen masih sekolah.
__ADS_1
Benarkah Gwen hamil?