Terjerat Pesona Driver Tampan

Terjerat Pesona Driver Tampan
Taruhan


__ADS_3

Sepanjang jalan Gwen memanyunkan bibir. "Ngapain mulut lo maju kaya bebek gitu?" tanya Glen.


"Rese lo! Kenapa sih gue nggak boleh pulang bareng cowok gue?" tanya Gwen pada kembarannya.


"Lah kita kan satu rumah, lagian jam pulang kita bareng kenapa kamu harus pulang sama orang lain?" tanya Glen balik. Gwen yang kesal mengacak-acak rambutnya yang panjang.


"Awas ya, Glen. Suatu saat kalau elo punya cewek gue juga akan ganggu saat lo ingin pacaran dengannya," ancam Gwen. Glen menahan tawa.


"Gue nggak akan pacaran," gumamnya.


Gwen mengernyit. "Elo normal kan, Glen?" goda Gwen. Glen melirik dengan tatapan maut.


"Gue nggak mau pacaran sekarang soalnya gue nggak mau kalah dari elo. Gue mau elo dikirim ke luar negeri," ucap Glen diiringi tawa.


Gwen mencubit paha Glen. "Aw, Gwen. Sakit!" teriak Glen.


"Syukurin," ucap Gwen sambil menjulurkan lidah.


Sesampainya di rumah, Gwen membanting pintu kamarnya. "Adik kamu kenapa, Glen?" tanya Mama Kristal. Glen mengangkat bahu.


Gwen memukul-mukul bantalnya karena kesal. Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu kamarnya. "Gwen, boleh mama masuk?" tanya Mama Kristal dari luar kamar.


"Masuk aja, Ma. Nggak dikunci," jawab Gwen.


"Kamu kenapa, Gwen?"


"Glen tuh, Ma. Rese banget. Masa aku pulang sama Mas Satria dihalang-halangi. Aku kesel, Ma," adunya.


Mama Kristal menggelengkan kepala. "Besok kan masih ada kesempatan lagi buat ketemu Satria. Lagian apa Satria nggak sibuk dan capek tiap hari nganter jemput kamu?"


Mama Kristal mengelus rambut Gwen dengan sayang. "Kak Glen hanya cemburu karena adeknya sudah besar. Itu tandanya Kak Glen sayang sama kamu," ucap Mama Kristal memberi pengertian pada anak gadisnya. Gwen mengangguk paham.


Setelah itu, Mama Kristal turun dari lantai atas. Dia tak sengaja berpapasan dengan Gerald. "Ger, kamu kok baru pulang?" tanya Mama Kristal. Saat wanita itu ingin mendekat, Gerald malah menjauh.


"Ma, Gery bau banget soalnya belum mandi. Gery mandi dulu ya." Gerald secepat mungkin masuk ke dalam kamarnya. Mama Kristal menatap curiga.


Mama Kristal turun saat mendengar suara mobil suaminya. "Anak-anak ke mana, Ma? Kok sepi," tanya Ruli.

__ADS_1


"Ada di kamar masing-masing, Pa," jawab sang istri.


Di dalam kamar, Gwen mengirim pesan pada Satria. Tapi pesan yang dia kirim berkali-kali tidak dibalas oleh laki-laki itu. Gwen menelepon Satria tapi tidak juga diangkat. Karena khawatir Gwen menelepon ke nomor Stefy.


"Ada apa?" tanya Stefy malas.


"Elo punya nomornya Kak Aldo, kan? Kasih dong!"


"Lah, buat apa? Elo kan udah punya Satria ngapain minta nomor telepon cowok gue," tanya Stefy ketus.


"Elah, cemburuan amat. Gue dari tadi hubungi Mas Satria nggak dibalas tahu. Gue mau telepon Kak Aldo. Tanya di mana pacar gue sekarang," gitu."


"Nanti gue kirim kontaknya," jawab Stefy.


Setelah mendapatkan kontak Aldo, Gwen menelepon teman Satria itu. "Kak, lagi bareng sama Mas Satria nggak?" tanya Gwen.


"Ini Gwen ya?" tanya Aldo karena nomor yang masuk tidak ada di kontaknya.


"Ye, ditanya malah nanya balik. Iya, ini pacarnya Mas Satria. Lagi bareng nggak sama pacar aku?" tanya Gwen penuh percaya diri saat mengakui Satria sebagai pacarnya.


"Nggak tuh, Gwen. Gue lagi nongkrong sama anak-anak. Mungkin dia lagi narik," jawab Aldo.


"Gue nggak tahu," jawab Aldo sebelum dia menutup telepon.


Gwen jadi tidak bisa tidur. "Padahal gue pengen banget kaya orang-orang. Sebelum tidur dikirimin pesan romantis atau ditelepon. Ucapin 'selamat malam' kek, 'met bobok sayang, mimpi indah ya.' Lah ini nggak ada perhatiannya sama sekali," gerutu Gwen.


Sebenarnya Satria sedang menemui seseorang. Ketika dia dalam perjalanan mengantar pesanan, dia dihadang oleh Kevin dan kawan-kawannya. "Gue kira elo udah mam*pus," kata Kevin dengan kasar.


Satria tersenyum sinis. "Tuhan masih sayang sama gue."


Kevin tertawa lantang. "Sejak kapan lo mengenal Tuhan?" ledek Kevin. Satria mengepalkan tangan.


Dia ingin menghindari Kevin, tapi jalannya ditutup oleh orang-orang yang berada di atas motor. Mereka sengaja mengelilingi Satria. "Apa mau lo?" tanya Satria.


"Kita balapan. Kalau gue menang gue mau cewek lo jadi cewek gue," kata Kevin.


"Kalau gue yang menang gue jadi ketua geng motor kalian," sela Satria. Jelas dia tidak terima saat Gwen dijadikan taruhan. Namun, melawan Kevin saat ini sama saja mencari mati. Jumlah mereka terlalu banyak. Tenaga Satria tidak sebanding dengan jumlah mereka. Jika dia nekad maka nyawanya jadi taruhan.

__ADS_1


Kevin tersenyum kecut. "Oke, gue nggak akan biarin lo menang. Karena gue nggak rela kalau lo jadi ketua geng motor ini," ucap Kevin penuh penekanan.


Setelah itu, Kevin mengajak semua anak buahnya pergi. Satria bernafas lega, tapi dia kesal karena menjadikan Gwen sebagai taruhannya. "Sorry, Gwen," ucap Satria lirih.


Keesokan harinya, Gwen menunggu Satria di depan gerbang rumahnya. "Tumben jam segini belum jemput," ucap Gwen sembari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Gwen, bareng gue aja!" seru Glen yang menghentikan mobilnya tepat di samping Gwen.


"Nggak, gue males bareng elo." Gwen menjulurkan lidahnya.


"Oke, siap-siap lo dihukum ketos," ledek Glen setelah itu melajukan mobilnya.


Tak berselang lama, Satria tiba di depan rumah Gwen. Gwen bukannya senang, dia malah cemberut saat bertemu Satria. Satria tahu kalau gadis itu sedang ngambek. "Kamu marah ya?" tanya Satria.


"Kamu nanya?" tanya Gwen.


"Aku bertanya-tanya," balas Satria. Gwen langsung memukul lengan Satria.


"Mas Satria nyebelin." Satria malah terkekeh.


"Udah ah, nanti telat. Naik yuk! Kalau nggak mau aku tinggal nih," ancam Satria. Gwen pun naik ke bagian belakang motor Satria. Satria mengulas senyum tipis.


"Mas, semalam ke mana aja? Aku kirim pesan sam telepon kok nggak dibalas?" tanya Gwen.


"Narik," jawab Satria. Dia tak sepenuhnya berbohong. Namun, sebenarnya dia tidak menjawab pesan yang dikirim Gwen karena saat itu dia bertemu dengan Kevin.


"Lain kali jangan abaikan pesanku ya! Aku kangen Mas Satria." Gwen mengeratkan pelukannya. Satria jadi merasa bersalah karena tanpa sepengetahuan Gwen, dia bertaruh dengan Kevin.


'Maafkan aku, Gwen,' ucap Satria dalam hati.


Sesampainya di sekolah, Gwen melepas helm yang dia kenakan. "Nanti siang aku tidak ada ektra. Mas Satria sibuk nggak? Kalau nggak sibuk jemput aku!"


"Lihat nanti ya. Aku ada persentasi di depan dosen nanti. Kalau aku sudah selesai akan aku kabari," balas Satria. Gwen mengangguk paham. Sebelum dia masuk ke kelas, Gwen mengecup pipi Satria singkat.


"I love you, Mas Satria."


Jantung Satria berdegup kencang mendapatkan perlakuan tiba-tiba dari Gwen. Sementara Gwen, berlari setelah mengatakan itu.

__ADS_1


...***...


Kasih like yang banyak ya 🙏 aku ikutin novel ini dalam lomba bad boy, doain menang ya. Yang belum kasih rate bisa tolong kasih rate, semenit waktu kalian sangat berarti buat othor.


__ADS_2