Terjerat Pesona Driver Tampan

Terjerat Pesona Driver Tampan
Berdamai


__ADS_3

Satria dan Gwen saling mengurai pelukannya. "Ayo masuk! Kita bicara di dalam," ajak Satria. Gwen mengangguk setuju.


"Kamu mau minum apa?" tanya Satria ketika dia berada di ruangan pribadinya. Satria merupakan pemilik bengkel yang lumayan besar. Dia telah mempekerjakan lebih dari sepuluh karyawan di bengkel mobilnya saat ini.


"Air putih saja," jawab Gwen. Satria pun mengambil sebotol air mineral dingin dari dalam kulkas. Kemudian dia memberikannya pada Gwen.


"Jadi selama ini kamu ke mana?" tanya Satria dengan lembut.


"Aku berobat ke luar negeri," jawab Gwen singkat. Satria tidak menyangka kalau depresi yang diderita Gwen akibat perceraiannya sangatlah parah.


"Maafkan aku! Ini semua salahku aku yang menyebabkan kamu depresi," ucap Satria dengan penuh penyesalan.


Gwen menggelengkan kepala. "Tidak sepenuhnya ini salah kamu. Aku juga bersalah padamu karena waktu itu aku tidak mau mendengarkan penjelasan kenapa kamu tidak datang ketika aku berada di rumah sakit. Aku sudah mendengar cerita saat kamu mengalami kecelakaan dari Kevin kakaknya Bram."


Satria tersenyum miring. "Itu semua sudah tidak berlaku. Lagi pula waktu itu aku juga salah karena tidak memberimu kabar." Satria juga menyalahkan dirinya sendiri.


Tiba-tiba gue menangis. "Kenapa nasib hubungan kita seperti ini? Padahal dulu kita saling menyayangi."


Satria mendekat kemudian dia mengusap air mata yang menetes di pipi mantan istrinya itu dengan ibu jarinya. "Jangan menangisi sesuatu yang telah terjadi! Ini semua sudah diatur. Kita hanya bisa menjalani dan menerimanya dengan ikhlas."


Gwen mengangguk setuju.


"Jadi mulai saat ini kita perbaikan? tanya Satria sambil mengulurkan tangannya. Gwen tersenyum lalu membalas orang tangan mantan suaminya itu.

__ADS_1


"Untuk sekarang, seperti ini lebih baik Gwen. Kita jalani hidup masing-masing. Mungkin jodoh kita hanya sampai di sini saja. Aku doakan kamu selalu bahagia. Pilihlah pasangan yang bisa membahagiakan kamu. Jangan memilih pasangan sepertiku yang hanya memiliki wajah tampan saja," ledek Satria. Gwen terkekeh mendengar ucapan Satria.


"Dasar narsis." Sesaat kemudian wanita itu melihat ke arah jam tangannya. Dia sudah pergi cukup lama. Kini waktunya dia kembali ke rumah.


"Aku harus pulang karena aku belum menyapa orang tuaku sejak aku turun dari pesawat. Mereka akan protes jika aku tidak pulang secepatnya," pamit Gwen pada Satria.


"Baiklah, salam untuk orang tuamu. Sampaikan permintaan maafku juga pada mereka! Untuk saat ini aku masih belum siap menemui mereka secara langsung,"balas Satria.


"Tidak apa-apa. Kalau begitu aku pulang dulu." Gwen berjalan ke pinggir jalan raya. Dia menghentikan taksi untuk mengantarkannya pulang ke rumah.


Setelah bertemu dengan Satria dan saling meminta maaf, Gwen merasa lega. Sepertinya yang dibutuhkan selama ini bukanlah obat atau terapi dari psikiater. Melainkan keikhlasan dalam menerima cobaan yang dia lalui.


"Gwen dari mana saja kamu?" tanya Glen ketika menyambut kedatangan saudara kembarnya itu.


"Apa kamu gila? Kamu ingin mengenang masa lalu burukmu dengannya? Jangan bodoh, Gwen! Aku tidak ingin kamu terluka lagi ucap Glenn yang merasa geram.


Gwen melingkarkan tangannya di lengan Glen sambil mengusap lengannya agar Glen lebih tenang. "Tenangkan dirimu Glen! Aku hanya meminta maaf karena waktu itu aku tidak mendengarkan penjelasan kenapa Mas Satria tidak datang ketika aku berada di rumah sakit. Rupanya dia mengalami kecelakaan hingga dia tidak bisa menemuiku. Aku mendengarkan cerita itu langsung dari orang yang menolongnya. Aku merasa menyesal Glen karena kesalahpahaman di antara kami menyebabkan hubungan kami putus di tengah jalan. Aku menyesali hal itu. Seandainya saja waktu itu aku mendengarkan alasannya mungkin kami tidak akan bercerai," ucap Gwen panjang lebar.


Glen memegang kedua bahu dan menatap mata saudaranya. "Aku masih ingat kenapa Satria mengucapkan kata talak di depanmu. Dia menyalahkanmu karena kamu keguguran."


Gwen menepis tangan Glen yang ada di bahunya dengan perlahan. "Itu juga salahku. Seandainya saja waktu itu aku tidak mengikuti kegiatan olahraga seperti saranmu, aku tidak akan keguguran. Waktu itu aku belum tahu kondisi janinku sehingga aku ceroboh. Aku sok tahu karena mengira semua akan baik-baik saja. Itu murni kesalahanku." Gwen mulai menitikkan air mata.


"Sudahlah! Sebentar lagi papa dan mama pulang. Sebaiknya kamu bersihkan wajahmu. Ini pertama kalinya kamu kembali setelah bertahun-tahun lamanya jauh di negeri orang. Kamu tidak mungkin bukan, memperlihatkan wajah sedihmu itu? Orang tua kita akan merasa kecewa dan sedih karena mereka menganggap kamu belum juga sembuh dari sakitmu itu." Glen memberikan saran pada adiknya.

__ADS_1


"Baiklah aku akan ke kamar," pamit Gwen meninggalkan kakaknya. Glen mengepalkan tangan. Dia tidak terima jika Satria mendekati adiknya lagi. Sebagai seorang kakak dia tidak mau adiknya mengalami patah hati dan menderita untuk yang kedua kalinya.


Oleh karena itu sebelum orang tuanya pulang, Glen pergi untuk menemui Satria. Dia mencari tahu keberadaan Satria melalui Lusi karena dialah orang yang paling dekat dengan Satria.


"Sat, keluar lo!" teriak Glen di depan bengkel Satria. Semua orang memperhatikan sikap Glen. Mendengar kegaduhan yang ada di depan Satria pun keluar dari ruangannya.


"Ada apa ini?" tanya Satria dengan suara beratnya.


Glen maju dengan cepat dan memberikan sebuah pukulan di wajah Satria. Satria mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah segar. "Apa maksud kamu memukulku tanpa alasan?" tanya Satria dengan nada dingin.


"Mulai sekarang jangan dekati adikku lagi! Aku tidak mau kamu menyakitinya untuk yang kesekian kali. Gwen sudah bahagia dengan hidupnya yang sekarang, jadi jangan coba-coba merusak kebahagiaannya!" Glen memberikan peringatan kepada Satria. Satria tersenyum miring.


"Tanpa kamu minta pun aku akan melakukannya. Aku sadar aku tidak bisa membahagiakan Gwen. Jadi, lebih baik aku mendoakan yang terbaik untuknya. Kamu jangan khawatir, pastikan saja adikmu tidak mendapatkan laki-laki sepertiku," ucap Satria kemudian berbalik badan meninggalkan Glen.


Glen pun tidak mau berlama-lama berada di sana. Dia segera kembali ke rumah. Malam ini dia dan keluarganya akan berkumpul untuk makan malam merayakan kelulusan dirinya dan kelulusan Gwen.


Sementara itu, di tempat lain Lusi memberitahu kepada ayahnya ketika dia ingat saat itu orang tua Gwen dan ayahnya mencari keberadaan Satria. "Rupanya Mas Satria waktu itu mengalami kecelakaan, Pa. Aku juga baru dengar dari kakaknya Bram. Dia yang menolongnya. Kata Kak Kevin, Mas Satria dirawat di rumah Mama Risa. Aku tidak tahu kenapa Mas Satria tidak menghubungi Gwen saat itu. Yang aku tahu mereka tidak berhubungan lagi setelah Mas Satria mengalami kecelakaan."


Hanya Deri yang tahu kenapa Ruli mencari Satria saat itu. Lusi tidak mengetahui jika status hubungan Satria dan Gwen saat itu masih dalam ikatan pernikahan.


...***...


Semoga sesuai dengan ekspektasi kalian jangan lupa klik like give dan vote ya

__ADS_1


Salam dari penulis 😘


__ADS_2