
Bel pulang berbunyi, Gwen semangat mengemasi buku-bukunya. "Buru-buru amat Gwen?" tanya Stefy.
"Aku nggak mau cowok aku nunggu kelamaan," jawab Gwen. Stefy menggelengkan kepalanya.
"Dasar bucin!"
Ketika Gwen berlari seorang guru memanggilnya. "Gwen."
Gwen berhenti sejenak. "Ada apa, Pak?" tanya Gwen.
"Sore ini kita udah aktif lagi buat latihan. Kamu jangan bolos. Ingat kamu akan ikut lomba karate bulan depan. Persiapkan dirimu!" Bahu Gwen meluruh ketika mendengar instruksi gurunya.
Gwen pun menemui Satria di depan gerbang. "Gwen, kenapa cemberut?" tanya Satria. Gwen memperhatikan Satria sedang membawa motor sport sesuai permintaannya.
"Aku nggak bisa pulang sekarang," jawabnya dengan sendu.
Satria mengernyit. "Kenapa, Gwen?" tanya Satria penasaran.
"Ada latihan untuk pertandingan yang akan aku ikuti bulan depan," jawab Gwen dengan lesu. Satria tersenyum.
"Hubungi aku jika sudah pulang."
"Nggak perlu. Gwen pulang bareng gue," sela Glen.
"Glen, apaan sih?" protes Gwen pada saudara kembarnya.
"Gue ada pertandingan basket sampai sore. Jadi elo bisa bareng gue aja," putus Glen.
"Ya udah kamu pulang bareng Glen hari ini. Besok aku jemput lagi ya." Satria mengacak rambut Gwen dengan lembut. Namun, Glen cepat-cepat mengajak adiknya pergi.
__ADS_1
Satria hanya menggelengkan kepalanya. Dia tahu kalau Glen terlalu mencemaskan adiknya. Setelah itu, Satria pulang. Tapi dia mampir ke sebuah rumah yang lumayan besar.
Dia tidak masuk. Satria mengamati dari kejauhan. Sesaat kemudian sebuah mobil warna merah memasuki gerbang. Satria melihat ibunya turun dari mobil. Dia turun sambil menelepon seseorang. "Masih saja gila kerja," cibir Satria.
Kemudian dia menutup kaca helm full face yang dia pakai. Satria pergi dari komplek perumahan itu. Satria berhenti di sebuah pemakaman umum. Tidak lupa dia membeli bunga untuk ditabur di atas pusara yang akan dia kunjungi.
"Gue datang buat lo," ucap Satria. Matanya mulai berkaca-kaca. Makam tersebut adalah makam mantan kekasihnya, Angel.
Angel meninggal ketika dia mengalami kecelakaan bersama Satria. Saat itu kelompok yang sedang bertikai dengan kelompok Satria menendang motor Satria secara mendadak. Satria dan Angel jatuh dari motor ketika sedang berboncengan. Angel terpental hingga beberapa meter.
Gadis itu tidak tertolong nyawanya karena benturan keras di kepalanya saat jatuh ke aspal. Sedangkan Satria saat itu hanya mengalami lecet di beberapa bagian tubuhnya. "Angel," teriak Satria sambil berusaha menghampiri Angel dengan sisa tenaganya.
Satria duduk lalu memangku kepala Angel yang sudah mengeluarkan banyak darah. Bibir gadis itu bahkan suda membiru. "Angel jangan tinggalin gue," teriak Satria.
Saat itu keadaan begitu sepi, jarang sekali orang yang lewat. Geng motor yang menendang Satria tadi sudah pergi. Mereka tidak mau berurusan dengan polisi. Satria bingung ke mana meminta bantuan.
Lalu sebuah mobil yang lewat berhenti ketika melihat Satria dan kekasihnya berada di tengah jalan. "Bagaimana keadaannya?" tanya laki-laki tua itu.
Satria tak sempat berkenalan dengan orang yang menolongnya. Dia dirawat selama beberapa hari ketika dia sampai di rumah sakit. Tidak ada keluarganya yang menanggung. Hanya Aldolah yang bisa dimintai tolong Satria. Satria tidak mau menghubungi orang tuanya.
Satria bingung bagaimana cara membayar biaya rumah sakitnya. Akhirnya dia meminta Aldo menjual motor sport miliknya itu. Aldo oun menuruti perintah Satria. Satria bisa membayar biaya perawatannya selama di rumah sakit. Lalu sisanya dia gunakan untuk membeli motor second. Sejak saat itu dia menjadi driver ojek online.
Satria tidak bisa melupakan kejadian itu. Baginya Angel gadis baik yang sangat berarti dalam kehidupannya. Namun, Satria bukan pemuda yang mudah putus asa. Dia tetap melanjutkan hidup. Untuk menghindari rasa sedihnya, sepanjang hari Satria bekerja jika tidak sedang kuliah.
"Maaf," ucap Satria yang masih berada di makan Angel.
"Maaf karena tidak bisa menjagamu dengan baik," ucap Satria penuh penekanan.
Usai dari makam Angel, Satria memutuskan mengembalikan motor tersebut pada Aldo. "Thank you, Do."
__ADS_1
Satria melempar jaket kulit yang habis dia pakai. "Elo pasti dari makam Angel bukan?" tanya Aldo.
"Gue kangen sama Angel," jawab Satria.
"Mau sampai kapan elo begini?" tanya Aldo.
"Gue nggak bisa melupakan Angel. Dia cewek yang pernah menempati hati gue."
"Tapi sekarang udah ada Gwen. Lo jangan sia-siakan dia kalau lo nggak mau kehilangan cewek yang lo suka untuk kedua kali." Aldo memberikan nasehat karena dia peduli pada Satria.
Satria mengusap wajahnya kasar. "Gue mau narik." Satria menyambar jaket driver ojek online miliknya. Satria menyibukkan diri agar dia bisa melupakan kegalauan hatinya.
Saat dia sedang bekerja, Satria mendapatkan sebuah orderan pesan antar makanan. Namun, dia tidak menyangka kalau yang memesan adalah adik Gwen, Gerald.
Gerald sedang berada di rumah temannya. Saat itu Satria curiga karena anak sekecil itu memesan bir. "Untuk siapa?" tanya Satria sebelum memberikan barang yang ada di tangannya.
"Untuk kakakku," jawab Gerald berbohong. Padahal dia dan teman-temannya penasaran dan ingin mencoba meminum bir tersebut.
Satria mengamati sekitar. Dia tidak melihat satu orang dewasa pun di sana kecuali teman-teman Gerald. Gerald ingin mengambil paksa pesanannya itu tapi Satria mengangkatnya dengan tinggi. "Katakan dengan jujur. Alkohol ini untuk siapa?" tanya Satria. Gerald hanya diam.
"Ini uangnya lalu cepatlah pergi!" usir Gerald. Namun, Satria tak mau pergi dan membubarkan teman-teman Gerald.
Satria tak menghiraukan Gerald. Dia masuk begitu saja. "Kalian ini masih bocah. Kenapa ingin pesta miras?" tanya Satria dengan nada tinggi.
"Nggak usah sok ngatur."
Satria membuang pesanan itu ke tempat sampah. "Ambil kalau kalian masih mau!" tantang Satria.
...***...
__ADS_1
Tolong yang udah baca jangan lupa like karena aku ikutkan karya ini.