
Keesokan harinya, anak-anak yang ikut dalam karya wisata yang diadakan oleh sekolah Gwen itu diajak ke perkebunan teh. Di sana mereka dikenalkan tentang proses penanaman pohon teh hingga panen.
Gwen tidak menyimak. Baginya semua informasi bisa digali di internet. Dia memilih pergi mencari keberadaan Satria. Satria berada tak jauh dari sana. Dia sengaja menunggu hingga Gwen selesai. "Udah selesai?" tanya Satria ketika Gwen berjalan mendekat ke arahnya.
Gwen menggeleng. "Aku bosan. Bisakah kita pergi saja dari sini?" Satria mengangguk. Sepanjang jalan mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Setelah berjalan cukup jauh, Gwen melihat penjual siomay keliling.
"Mas, jajan itu yuk! Aku tuh nggak pernah makan pinggir jalan. Sekali-kali pengen ngerasain makanan kaya itu."
"Boleh," jawab Satria.
Setelah itu mereka mendekati penjual siomay keliling itu. "Mang, pesen 2 porsi ya," ucap Gwen pada penjual tersebut.
"Baik, Neng."
"Oh iya, Mas. Nanti ajarin bikin laporan ya setelan dari sini!" pinta Gwen pada Satria.
"Kamu pasti ada maunya. Oh iya, kapan kamu ikut penilaian tahap akhir?" tanya Satria.
"Aku dengar-dengar Senin depan," jawab Gwen.
"Jangan sampai kalah sama Glen!"
"Iya, tahu. Aku rasa papa cuma ngancem supaya aku lebih rajin belajar."
__ADS_1
"Bagaimana kalau betulan?" tanya Satria.
"Ah, Mas Satria ini. Aku mana bisa pergi ke luar negeri. Orang aku mabuk tiap di pesawat," ungkap Gwen. Sebenarnya dia agak malu menceritakan kebiasaannya.
"Apapun itu sebaiknya kamu berusaha sampai titik darah penghabisan. Aku tidak mau berpisah lagi denganmu," ucap Satria seraya mengusap kepala Gwen.
"Neng, siomainya sudah jadi." Gwen dan Satria menerimanya.
"Rasanya enak," ucap Satria setelah merasakan satu suap siomai itu. Namun, Gwen berbeda. Dia tampak tidak nyaman dan menggaruk-garuk seluruh badannya.
"Bang, baksonya terbuat dari apa?" tanya Gwen.
"Dari ikan tengiri, Non," jawab penjual bakso itu.
Setibanya di villa, Gwen meminum obat alergi yang dia bawa. "Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu alergi ikan laut?" tanya Satria.
"Aku juga baru ingat, Mas," jawab Gwen.
Tak lama kemudian Stefy, Lusi dan Glen mencari keberadaan Gwen. "Kamu kabur ke mana?" tanya Glen. Gwen tidak menjawab. Dia memperlihatkan kulitnya yang memerah.
"Kamu makan ikan laut?" tanya Glen. Gwen mengangguk.
"Hah? Gwen alergi ikan?" tanya Stefy.
__ADS_1
"Hanya ikan laut," jawab Glen.
"Sudah minum obat, Gwen?" tanya Lusi penuh perhatian.
"Sudah."
"Ya sudah, sebaiknya kita biarkan Gwen beristirahat. Sayang, aku balik dulu ke villa. Aldo sendirian di sana. Nanti aku akan jenguk kamu lagi," ucap Satria. Gwen mengangguk patuh.
Glen menyusul Satria. "Tunggu!" Satria menghentikan langkahnya ketika Glen memanggil. "Terima kasih telah menolong adikku," ucap Glen dengan tulus.
Satria tersenyum tipis. "Sama-sama," jawab Satria lalu berbalik badan.
"Tentang ancaman ayahku pada Gwen itu sebenarnya sudah direncanakan," ungkap Glen.
"Apa maksudmu?" tanya Satria.
"Papa memang ingin mengirim Gwen ke luar negeri dari awal," jawab Glen.
Satria mengerutkan keningnya. "Tapi kenapa?" tanya Satria penasaran.
"Aku pun tidak tahu. Aku masih mencari alasan papa. Mama juga tidak memberi tahuku. Mereka merahasiakan alasannya."
Satria menghela nafas. "Baiklah, tidak masalah. Aku bisa menyusulnya ke sana," balas Satria. Glen merasa ucapan Satria tidak masuk akal.
__ADS_1
Menyusul Gwen ke luar negeri? Pakai uang siapa? Sedangkan yang diketahui Glen, Satria bukanlah orang berada. Setahu Glen dia hanya driver ojek online yang beruntung bisa kuliah.