
"Tante kenapa kita ke butik?" tanya Satria bingung.
"Tante mau beliin Glen jas tapi dia paling anti kalau ke butik. Tante lihat ukuran badan kalian hampir sama. Jadi tante pikir nggak ada salahnya ngajak kamu," jawab Kristal.
"Jasnya buat ke acara apa, Tante?" tanya Satria.
"Buat ke acara pertunangan sepupunya," jawab Kristal. "Sat, coba pakai ini!" perintah Kristal pada Satria. Satria mengangguk patuh.
Setelah menunggu beberapa saat Satria keluar dari ruang ganti. "Pantas Gwen tergila-gila sama kamu. Kamu tuh nggak kaya driver biasa, Sat. Muka kamu jadi berkelas," puji Kristal.
"Tante bisa saja," jawab Satria malu-malu.
"Mas Satria, ayang Beb," panggil pemilik butik. Satria menjadi canggung saat berhadapan dengan Kristal. Dia takut jati dirinya ketahuan.
"Alana, kamu kenal sama dia?" tanya Kristal pada laki-laki yang berperawakan gemulai itu.
"Kenal dong!" jawab Alana.
"Saya sering mengantar makanan ke sini, Tante," sela Satria. Lalu dia memberikan kode agar Alana mengikuti akting Satria.
"Ah, betul," jawab Alana. Kristal tidak jari curiga.
"Aku mau jas seperti ini dua ya, Alana!" pinta Kristal.
"Oke," jawab Alana.
Setelah membayar tagihan di kasir, Kristal memberikan salah satu paper bag kepada Satria. "Apa ini, Tante?" tanya Satria.
"Tante tahu Gwen pasti ngajak kamu buat ikut ke acara keluarga kami. Jangan sampai dipermalukan. Pakailah jas ini saat acara nanti," ucap Kristal dengan lembut. Satria sampai terharu. Bahkan sang ibu saja tidak pernah sebaik ini padanya.
"Terima kasih banyak, Tante," balas Satria. Dia merasa tidak enak. Kristal mengantar Satria hingga ke rumah kontrakannya.
"Tante akan hubungi orang untuk memperbaiki motor kamu," ucap Kristal. Sementara kamu bisa naik..." Kristal bingung ingin menyarankan apa.
"Saya bisa pinjam motor teman saya," sela Satria. Kristal mengangguk paham. Setelah itu dia pergi.
__ADS_1
"Satria," panggil Risa.
"Mama, kenapa mama bisa di sini?" tanya Satria.
"Siapa wanita itu?" tanya Risa.
"Dia bos di tempat aku bekerja," jawab Satria.
"Kamu ada hubungan sama dia?"
"Tidak, dia butuh bantuanku tadi," jawab Satria.
"Berhentilah bekerja sebagai driver ojek online. Kalau kamu mau mama bisa beli saham perusahaan itu untuk kamu," ucap Risa.
"Aku nggak butuh itu semua." Satria berbalik badan lalu membuka pintu.
"Sat, kamu tidak menyuruh mama masuk?" tanya Risa.
"Bukankah rumah mama sepuluh kali lebih besar dari kontrakan aku ini," cibir Satria. Risa yang menyadari kalau kedatangannya ditolak menjadi kecewa.
"Aku tidak tahu." Satria menutup pintu rumahnya. Risa pulang dengan wajah kecewa.
Setelah itu Satria menyalakan rokok dan menghisapnya. "Elo udah lama nggak ngerokok, Sat," ucap Aldo.
"Nggak ada yang bisa gue lakuin, Do. Setidaknya merokok bisa mengembalikan mood gue," jawab Satria.
"Harusnya elo minum sedikit," bujuk Aldo. Satria mendorong tangan Aldo.
"Gue nggak mau mabuk dan berbuat hal gila kaya elo. Gue udah dengar cerita dari Gwen kalau elo berusaha menodai Stefy," tuduh Satria.
"Gue mabuk, Sat. Gue nggak ingat." Aldo berusaha membela diri.
"Basi lo!" Satria memilih keluar. Sesaat kemudian dia kembali dan menyambar kunci motor Aldo.
"Pinjam motor lo."
__ADS_1
"Sat, elah mau gue pakai juga," keluh Aldo.
Satria menyusuri jalan tanpa tujuan. Kemudian dia berhenti di sebuah makam. Milik siapa lagi kalau bukan Angel. Namun, saat berada di sana dia melihat musuh bebuyutannya. "Kevin?" ucap Satria menyebut nama laki-laki yang sedang berjongkok di depan makam Angel.
"Ngapain lo di sini?" tanya Satria dengan suara beratnya.
"Gue mau minta maaf," jawab Kevin.
"Basi lo!" Tiba-tiba Satria tersulut emosi. Bagaimana tidak setelah beberapa tahun Kevin baru menyadari kesalahannya.
Kevin tidak melawan ketika dia dipukuli oleh Satria. "Bahkan nyawa lo tidak cukup berharga," ucapnya menghina Kevin. Satria tidak jadi mendoakan Angel. Dia pergi dan kembali mengendarai motor milik Aldo.
Pikirannya sedang kalut sehingga dia tidak sengaja menyerempet seorang gadis. Satria turun untuk menolong gadis itu. "Apakah ada yang terluka?" tanya Satria.
"Mas Satria," panggil gadis itu. Satria terkejut.
"Kamu mengenalku?" tanya Satria.
"Aku adikmu," jawab gadis yang masih terduduk di tanah.
"Adik?" Gadis itu mengangguk.
"Aku Lusi, anak ayah Deri dan bunda Vera," jawab Lusi. Satria terkejut. Bisa-bisanya dia tidak tahu kalau ayahnya punya anak dari perempuan lain.
Satria berdiri. "Jangan tinggalkan aku!" rengek Lusi. Mau tidak mau Satria menolongnya.
"Tunggu di sini! Aku akan membelikan obat untuk membalut lukamu itu." Satria menunjuk lutut Lusi yang terluka. Lusi mengangguk patuh.
Satria membeli obat di apotek yang tak jauh dari sana. Setelah itu dia kembali ke lokasi di mana Lusi ditinggalkan. Satria mengoles luka Lusi dengan hati-hati. "Terima kasih, Mas," ucap Lusi.
"Jangan panggil aku Mas. Kita tidak ada hubungan apa-apa," elak Satria. Lusi menarik tangan Satria ketika laki-laki itu akan pergi.
"Terima aku menjadi adikmu!" pinta Lusi.
Apakah Satria akan setuju?
__ADS_1
Yuk likenya jangan lupa. Masa pembaca ribuan yang like nggak ada sepuluh orang, kalian nyata atau tak kasat mata? 🤣