
Sehari sebelum pengumuman Gwen yang baru saja membuat susu hangat mendengar percakapan ayahnya di telepon. "Baiklah, aku akan kirim Gwen besok." Gwen mengerutkan kening kemudian dia mendekatkan telinganya di pintu kamar orang tuanya karena penasaran.
"Ada apa, Pa?" tanya Mama Kristal.
"Sekretaris Pras mengabari kalau kondisinya semakin parah. Dia ingin Gwen datang ke sana. Pras ingin melihat anaknya bertunangan dengan Gwen sebelum dia meninggal," ucap Ruli.
Gwen menutup mulut ketika dia mendengar kenyataan bahwa dia dikirim ke luar negeri karena ingin dijodohkan dengan seseorang.
"Seharusnya waktu itu kita cari pendonor ginjal yang lainnya, sehingga Gwen tidak perlu bertunangan dengan laki-laki yang belum dia kenal," ucap Kristal menyesal.
"Ma, waktu itu kita juga tidak tahu kalau Pras akan mengajukan permintaan seperti itu. Lagi pula kalau saat itu Gwen tidak menemukan pendonor ginjal yang cocok, mana bisa dia bertahan hingga sekarang." Gwen sangat syok mendengar kenyataan yang dia ketahui secara tidak sengaja.
Makanya Gwen menangis histeris saat mengetahui dia gagal mengalahkan peringkat Glen. Dia benar-benar takut ayahnya mengirim ke luar negeri. Dia juga takut berpisah dengan Satria, laki-laki yang dia cintai selama ini.
Saat itu, Gwen tidak berpikir panjang. Akhirnya dia meminum banyak obat tidur hingga dia overdosis.
"Bagaimana keadaan putri saya?" tanya Ruli ketika melihat dokter yang menangani Gwen keluar dari ruang UGD.
"Semua obat yang dia telan berhasil dikeluarkan," jawab dokter tersebut. Ruli dan Glen merasa lega. "Tapi, dia perlu dirawat beberapa hari untuk memulihkan kondisinya."
"Baik, Dok. Lakukan yang terbaik untuk anak saya!"
"Apa kami boleh menemuinya?" tanya Glen.
"Boleh, setelah dia dipindahkan ke ruang perawatan," jawab dokter tersebut.
Tak lama kemudian Kristal datang ke rumah sakit. Ketika dia berjalan ke arah suaminya, Kristal menabrak bahu seseorang. "Maaf, saya buru-buru," jawab Kristal tanpa memperhatikan orang yang dia tabrak.
"Tidak sopan," ucap wanita itu.
"Pa, bagaimana dengan Gwen?" tanya Kristal.
__ADS_1
"Dia selamat, Ma," jawab Ruli. Kristal pun menangis lega di pelukan suaminya.
"Mama, tidak mau hal seperti ini terjadi lagi, Pa. Kabari keluarga Pras bahwa kita menolak kesepakatan awal!" perintah Kristal dengan tegas. Glen tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh mamanya.
"Baik, Ma. Akan papa lakukan."
Satu jam kemudian Gwen dipindahkan ke ruang rawat pasien. Glen mendapatkan telepon dari Stefy. "Sayang, kamu di mana? Kita jadi hag out apa tidak hari ini?"
Glen sudah janji akan mengajak jalan Stefy. Namun, dia lupa karena adiknya melakukan percobaan bunuh diri.
"Next time aja ya. Stef, kamu bisa datang ke rumah sakit nggak?" tanya Glen.
"Hah, siapa yang sakit?" tanya Stefy dengan ekspresi terkejut.
"Gwen," jawab Glen singkat. Dia tidak mau menjelaskan alasan Gwen masuk rumah sakit melalui sambungan telepon.
"Hah, baiklah. Aku akan ajak Lusi. Kirim saja alamat rumah sakitnya!"
"Oke," jawab Glen lemah.
"Kak, Gwen masuk rumah sakit," ucap Lusi melalui sambungan telepon.
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Satria yang sedang berada di ruangan ayahnya. Mereka hendak mengobrol serius tapi Lusi tiba-tiba membuka ruang kerja ayahnya tanpa izin.
"Pa, kita bicara lain kali," ucap Satria lalu dia mengajak Lusi pergi. Lusi ikut dengan motor Satria. Mereka menuju ke rumah sakit di mana Gwen dirawat.
Stefy sampai lebih dulu di rumah sakit karena dia memakai mobil. "Kamu sendirian?" tanya Glen.
"Lusi bareng sama Satria," jawab Stefy.
Tak lama kemudian Lusi dan Satria tiba di rumah sakit. "Glen," panggil Satria ketika pemuda itu akan masuk ruangan bersama Stefy.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Gwen?" tanya Satria dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Sudah lebih baik. Dia mau bunuh diri." Ucapan Glen mengejutkan semua orang. Stefy dan Lusi tidak menyangka Gwen bisa berpikir pendek seperti itu. Sedangkan Satria memejamkan mata ketika dia membayangkan hal terburuk yang akan terjadi jika Gwen tidak berhasil diselamatkan.
"Why?" tanya Stefy.
"Ini ada hubungannya dengan kejadian setahun lalu ketika Gwen mengalami kerusakan ginjal akibat kecelakaan yang dia alami," jawab Glen.
Satu jam sebelum Stefy tiba, Glen bertanya pada orang tuanya.
"Jadi apa sebenarnya yang membuat Gwen bunuh diri, Pa? Aku tidak yakin kalau hanya dikirim ke luar negeri. Bukankah ada saudara kita yang tinggal di sana," cecar Glen.
Ruli menatap sang istri sebelum menjawab pertanyaan dari Glen. "Papa berjanji akan menjodohkan Gwen dengan anak dari orang yang telah mendonorkan ginjal untuk Gwen." Stefy dan Lusi saling pandang.
"Gwen pasti tahu jika tidak dia tidak akan melakukan hal konyol itu," tebak Satria.
Belum sempat Glen menjawab, sang ibu memberitahu kalau Gwen sadar. Semua orang masuk ke dalam ruangan. Gwen menangis sesaat setelah siuman.
Ruli duduk di tepi ranjang yang ditempati oleh putrinya. "Gwen, maafkan papa. Karena papa kamu jadi seperti ini," ucap Ruli sambil menciumi tangan Gwen.
"Papa, aku tidak mau dikirim ke luar negeri. Aku mau tinggal di sini bersama kalian. Jangan paksa aku!" Gwen menangis sambil memohon pada ayahnya.
"Tidak, Gwen. Papa tidak akan membiarkan kamu pergi. Papa janji." Gwen langsung memeluk ayahnya.
Semua orang yang berada di sana merasa lega ketika Ruli berjanji tidak akan mengirim Gwen ke luar negeri. Setelah itu, semua orang memberi kesempatan untuk Gwen dan Satria berduaan. Gwen tersenyum ke arah Satria. Sejak tadi dia menunggu giliran untuk disapa.
"Mas Satria apa kabar?" tanya Gwen.
Satria membalas senyum kekasihnya. "Seharusnya aku yang bertanya demikian."
Di luar ruangan, Lusi menjelaskan kalau sebenarnya Satria adalah kakaknya. "Jadi kami adalah saudara seayah. Papa menikah punya dua istri. Mas Satria tidak terima ibunya diduakan maka dari itu dia keluar dari rumah.
__ADS_1
"Siapa nama ayah kalian?" tanya Ruli.
"Deri Darmawan," jawab Lusi. Ruli tersenyum miring.