
Deri meminta bertemu dengan Ruli. "Sebenarnya ada apa kamu memintaku bertemu?" tanya Ruli setelah menyeruput kopinya.
"Satria bukan laki-laki yang larut dari tanggung jawab." Ucapan Deri membuat Ruli bingung.
"Apa maksud kamu?" tanya Ruli.
"Satria mengalami kecelakaan parah ketika Gwen berada di rumah sakit. Apa kamu tahu itu?" tanya Deri.
Ruli mengerutkan keningnya. "Kamu dapat informasi dari mana?" tanya Ruli yang meragukan ucapan Deri.
"Dari putriku. Dia tahu dari orang yang telah menolong Satria saat kecelakaan itu terjadi," jawab Deri. Dia merasa bersalah karena saat itu dia pun munuduh Satria mengabaikan tanggung jawab.
"Sudah terlambat. Satria dan Gwen memang tidak berjodoh. Semuanya sudah berakhir karena mereka sudah bercerai. Meskipun mereka bercerai hanya dengan kata talak yang diucapkan oleh Satria. Ya, karena waktu itu pernikahan mereka belum sampai ke catatan sipil. Usia Gwen saat itu belum memenuhi syarat untuk menikah."
Deri menghela nafas kasar. Memang sangat disayangkan tapi dia menyetujui apa yang dikatakan oleh Ruli. "Kamu benar aku ke sini hanya untuk meluruskan kesalahpahaman waktu itu aku tahu putraku bukan orang yang breng*sek. Dia tidak sepertiku yang suka mempermainkan wanita." Deri mengakui kalau dirinya bukan laki-laki yang sempurna.
Deri bangun dari tempat duduknya. "Sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Aku pamit duluan." Ruli mempersilahkan Deri untuk pergi. Ruli pun berpikir apakah Queen sudah mengetahui fakta yang baru dia ketahui sesaat yang lalu.
Di tempat lain, Gwen yang telah lulus dari pendidikannya mencoba mencari pekerjaan yang cocok untuk dirinya. "Kak Revan, berikan aku semangat hari ini aku akan mengikuti wawancara kerja," ucapkan meminta restu pada orang yang selama ini menemaninya sebelum dia berangkat ke tempat diadakannya wawancara.
__ADS_1
"Aku percaya kalau kamu bisa melewati semuanya dengan baik," jawab Revan sambil tersenyum. Laki-laki yang usianya 5 tahun di atas Gwen itu memberikan semangat dan dukungannya pada gadis yang dia sukai.
Gwen menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Tidak! Rupanya aku terlambat. Bay, Kak Revan nanti aku kabari lagi doakan aku lulus ya." Gwen segera menutup panggilan videonya lalu dia masuk ke dalam mobil.
Setibanya di perusahaan yang dia lamar, Gwen berlari hingga mendekati lift. "Tunggu aku juga ingin naik," ucapnya dengan nafas terengah-engah.
Tak lama kemudian lift berhenti di lantai lima. Gwen segera keluar. Sesaat kemudian namanya dipanggil agar segera masuk ke ruang khusus yang digunakan untuk wawancara kerja. Ketika Gwen akan masuk ke ruangan tersebut bahunya tak sengaja menabrak bahu seorang laki-laki.
"Maafkan aku!" ucap Gwen tanpa menoleh pada orang yang dia tabrak. Lelaki itu tersenyum.
"Tidak masalah." Gwen menoleh ketika mendengar suaranya.
"Mas Satria apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Gwen heran.
"Mungkin jodoh kita belum berakhir Gwen," gumam Satria sambil tersenyum miring.
Cukup lama Gwen berada di ruangan tersebut. Setelah dia selesai melakukan wawancara Gwen bertanya pada salah seorang pegawai di kantor itu. "Apa yang dilakukan pemuda bernama Satria di sini?" tanya Gwen penasaran.
"Maksud anda Satria yang baru saja mengikuti wawancara di sini?" Gwen yang terkejut ketika mendengar fakta bahwa Satria juga mengikuti wawancara.
__ADS_1
'Oh tidak apakah aku akan bekerja di tempat yang sama dengan mantan suamiku?' gumam Gwen dalam hati.
Ya, hari ini Satria melamar di sebuah perusahaan otomotif terbesar. Dia memang sudah memiliki bengkel sendiri. Namun Satria memiliki pemikiran yang luas sehingga dia ingin memperoleh pengalaman di bidang yang dia bisa. Tujuannya agar kelak dia bisa mengembangkan bengkel yang telah dia bangun.
Di satu sisi Gwen melamar sebagai sekretaris di perusahaan tersebut karena dia ingin mencari pengalaman kerja di luar perusahaan orang tuanya. Meskipun ibunya merupakan pewaris perusahaan ojek terbesar tapi Gwen ingin memiliki pengalaman yang kelak juga bisa diterapkan di perusahaannya sendiri.
Gwen keluar dari ruangan tersebut dengan lemas. Jika sampai terjadi demikian maka dia tidak bisa janji akan move on dari Satria. Ketika Gwen turun ke lantai dasar, Satria telah menunggunya di depan pintu lift.
"Mas Satria ngapain di sini?" Tanya Gwen heran.
"Bukankah aku yang seharusnya bertanya kepadamu? Kenapa cucu pemilik perusahaan ojek terbesar bisa melamar di perusahaan lain dengan posisi yang lebih rendah?"
Gue menempelkan jari di bibirnya untuk memberikan kode kepada Satria agar dia tidak bicara keras-keras. "Jangan sampai orang lain tahu. Aku hanya ingin mendapatkan pengalaman kerja sebelum aku memimpin perusahaanku sendiri," jawab Gwen.
"Kamu yakin perusahaan itu akan jatuh ke tanganmu?" ledek Satria. Gwen mengerucutkan bibir. Dia tahu yang dimaksud Satria karena masih ada saudaranya, Glen.
"Terserah Mas Satria yang penting jangan sampai orang lain tahu kalau kita pernah memiliki hubungan. Berpura-puralah menjadi orang yang tidak kenal satu sama lain."
Satria agak keberatan dengan usulan Gwen. "Kenapa harus seperti itu?"
__ADS_1
"Apa perlu aku jelaskan alasannya?" tanya Gwen balik dia ingin Satria berpikir. Setelah itu Gwen berjalan melewati Satria.
"Baiklah kalau itu maumu," ucap Satria sambil melihat ke arah Gwen yang berjalan semakin menjauh.