
Budayakan like setelah membaca ya 😘
Gwen terlihat senang pagi ini. Ketika dia akan masuk ke kelas, Bram sengaja menunggu Gwen di depan kelasnya. Gwen berpura-pura tidak melihat, tapi Bram menghadang langkah Gwen dengan merentangkan sebelah tangannya. "Ngapain lo ngelarang gue masuk?" tanya Gwen dengan ketus.
"Gue cuma mau mengembalikan ini," ucap Bram. Dia memberikan sebuah buku yang dia duga milik Gwen karena tak sengaja tertinggal di bangku perpus yang diduduki Gwen.
"Bukan punya gue," sangkal Gwen.
"Terus punya siapa?" tanya Bram.
"Mana gue tempe. Udah ah, minggir!" Bram tidak mau mengalah. Sesaat kemudian Glen datang.
"Ada apa, Gwen?" tanya Glen yang hendak memberikan bekal dari sang mama untuk adiknya itu.
"Nih ada yang ganggu," jawab Gwen. Bram tidak mau berkelahi sehingga dia pun memilih pergi.
Saat Gwen akan masuk Glen memberikan kotak bekal makanan untuknya. "Buat elo aja." Gwen mendorong kotak bekal itu. Dia malu, takut teman-temannya meledek.
"Ambil! Elo kan nanti sore ada ektra jadi nggak usah jajan. Makan bekal dari mama aja!"
"Nggak, nggak. Kaya anak kecil aja," tolak Gwen. "Lagian nanti sore aku nggak ada ektra. Kan nanti sore les privat sama Mas Satria," imbuhnya.
"Ya sudah, kasih temen lo aja!" Gwen tersenyum jahil. Gwen menyambar kotak makanan itu lalu memberikannya pada Stefy.
"Nih buat lo," kata Gwen.
"Tumben-tumbenan lo baik, Gwen. Makasih ya," balas Stefy.
"Bilang makasihnya jangan sama gue tapi sama abang gue," goda Gwen. Stefy langsung mendorong bekal makanan tersebut.
"Nggak jadi, buat lo aja," tolak Stefy.
"Elah, rejeki nggak boleh ditolak Stef. Dosa lho." Stefy terpaksa menerima makanan tersebut. Gwen mengulas senyum tipis.
Ketika jam istirahat, Stefy mencari keberadaan Glen. "Glen, gue kembalikan makanan dari lo." Stefy meletakkan kotak makanan itu di depan meja Glen.
"Maksudnya apa nih?" tanya Glen.
"Jangan kirim makanan lagi, Glen. Nanti orang salah paham. Dikira elo suka lagi sama gue, pakai kirim makanan segala kaya gini," ucap Stefy penuh percaya diri.
__ADS_1
Glen meletakkan tangannya di kening Stefy. Jantung Stefy berdegup kencang dan wajahnya memerah. "Sakit lo?" tuduh Glen. Stefy langsung memanyunkan bibirnya.
"Rese lo, Glen," ucap Stefy setengah kesal pada kembaran sahabatnya itu. Glen mengulas senyum tipis.
Setelah jam pulang sekolah, Gwen menunggu Satria di depan gerbang. Namun, hingga semua siswa pulang, Satria tidak juga datang. Glen sudah pulang duluan bersama temannya. Sedangkan Stefy dijemput oleh Aldo. Gwen merasa sedih karena Satria tak juga datang menjemputnya.
Kemudian sebuah mobil berhenti persis di depan Gwen. "Mau bareng nggak?" tanya Bram. Gwen memutar bola matanya jengah.
Gwen mengabaikan Bram. Namun, Bram yang tidak suka diabaikan memilih turun dari mobil. "Udah nggak ada orang, elo mau nunggu siapa lagi?" tanya Bram sambil tersenyum.
"Bukan urusan lo," jawab Gwen dengan ketus.
Bram memaksa Gwen dengan menarik tangannya. "Lepasin! Nggak usah rese deh lo," bentak Gwen pada pemuda itu.
"Gwen." Suara itu sangat dikenali oleh Gwen. Gwen tersenyum lebar ketika melihat pujaan hatinya.
"Mas Satria ke mana aja?" tanya Gwen dengan nada manja sesaat kemudian dia melirik Bram.
"Maaf aku telat jemput. Tadi baru selesai kuliah," jawab Satria memberi alasan. Gwen mengangguk.
"Yuk pulang sekarang!" ajaknya. Satria pun memasang helm untuk gadis itu. Gwen sebenarnya malu mendapatkan perlakuan manis dari Satria. Tapi dia berusaha bersikap biasa saja di depan Bram.
Setelah itu dia naik ke atas boncengan. Gwen sengaja melingkarkan tangannya ke perut Satria. "Siap, Gwen?" tanya Satria.
Gwen bernapas lega ketika sudah menjauh dari Bram. "Tadi itu teman kamu, Gwen?" tanya Satria. Bukannya menjawab, Gwen malah senyum-senyum nggak jelas.
"Mas Satria cemburu ya?" goda Gwen. Satria tersenyum. "Bukan, sepertinya kamu tidak nyaman berdekatan dengan dia," tebak Satria.
"Emang. Dia tuh udah dua hari ini ganggu aku terus," adunya.
"Mungkin dia suka sama kamu."
"Masa bodoh. Yang jelas aku sukanya cuma sama Mas Satria," ucapnya dengan penuh percaya diri. Satria hanya menggelengkan kepalanya.
Sesampainya di rumah, Gwen mengajak Satria masuk karena mereka akan belajar bersama. Hari ini jadwal Satria memberi les privat pada Gwen.
"Aku ganti baju dulu ya, Mas," ucap Gwen. Satria mengangguk.
"Eh, ada Satria," ucap Mama Kristal. Satria mengalami tangan orang tua Gwen.
__ADS_1
"Selamat sore, Tante," sapa Satria dengan sopan.
Tak lama kemudian seorang anak laki-laki lewat di depan Satria. Satria masih ingat dengan wajah anak itu. 'Apa dia tinggal di sini? Kalau iya, berarti dia adiknya, Gwen,' gumam Satria dalam hati ketika melihat wajah Gerald.
Namun, Gerald tak melihat tamu yang sedang mengobrol dengan ibunya itu. Dia memang kurang sopan. Melihat tamu bukannya menyalami malah menghindari.
"Gerald," panggil Mama Kristal. Gerald menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Ma?" tanya Gerald.
"Kenalin, ini guru les privatnya kakak kamu," terang Mama Kristal memperkenalkan diri. Satria tersenyum tipis bahkan tidak seorang pun menyadari.
Gerald terkejut bukan main. Ternyata driver ojek online yang berdebat dengannya malam itu berdiri di hadapannya saat ini. Satria mengulurkan tangan. "Satria," ucapnya memperkenalkan diri.
Gerald ragu untuk membalas. Namun, dia bersikap seolah-olah dirinya tak mengenal Satria."Kenapa kamu gugup?" sindir laki-laki itu.
"Gerald, kamu tidak enak badan ya? Kenapa dahi kamu berkeringat?" tanya Mama Kristal.
"Aku nggak apa-apa, Ma." Setelah itu dia berjalan cepat menghindari Satria. Gerald tidak mau situasi ini akhirnya terjadi juga.
Sesaat kemudian Gwen turun. Dia mengenakan hot pants dan atasan kaos gang kebesaran. Satria tak berkedip saat melihat Gwen. Gwen tampil lebih muda dibanding saat dia memakai seragam.
"Mas, Mas Satria," panggil Gwen sambil menggoyangkan tangannya. Satria pun tersadar dari lamunannya.
"Mas Satria nggak kenapa-kenapa bukan?" tanya Gwen khawatir.
"Maaf, Gwen. Aku melamun," jawab Satria.
"Aku sudah siap belajar," ucap Gwen.
"Gwen, ajak Satria makan bareng di belakang," teriak Mama Kristal dari arah dapur.
Mereka pun menunda belajar untuk beberapa saat. "Rasanya bagaimana, Satria?" tanya Mama Kristal usai Satria menyendok obat yang harus dia minum.
"Enak, Tante," jawab Satria dengan jujur.
"Wah baru kali ini masakan tante dipuji. Biasanya cuma dikomentari," ucap mama Kristal sambil melirik Gwen lalu ke arah Gerald.
"Bukankah ini ketiga kalinya kita bertemu," ucap Satria ketika melihat ke arah Gerald. Gwen dan Mama Kristal malah curiga.
__ADS_1
"Satria, kamu pernah bertemu Gerald di mana?" tanya Mama Kristal heran.
Akankah Satria mengungkap kesalahan Gerald di depan anggota keluarganya yang lain?