
Saat itu hujan di luar amat lebat. Tiba-tiba listrik di rumah Gwen padam. Gwen memeluk lututnya karena ketakutan. Satria yang ingat kalau Gwen punya trauma kegelapan akhirnya mendatangi kamar Gwen.
"Sayang, kamu ada di mana?" tanya Satria.
"Mas, Mas Satria aku takut," ucap Gwen sambil menangis.
Satria pun membuka jendela balkon yang kebetulan belum dikunci oleh Gwen. Kamar Satria dan Gwen memang bersebelahan. Satria masuk lewat balkon karena lebih mudah dibanding keluar kamar lewat pintu depan.
Satria memeluk Gwen dengan erat. Begitupun dengan Gwen. Dia merasa lebih tenang ketika suaminya berasa di sampingnya. Sesaat kemudian lampu menyala. Tiba-tiba Gwen dan Satria mendengar ada yang datang.
"Gwen kamu tidak apa-apa?" tanya Kristal yang mengetuk dari luar kamar. Gwen takut setengah mati karena orang tuanya melarang mereka berhubungan badan.
"Tidak, Ma," jawab Gwen. Setelah itu Kristal ke kamar Satria. "Satria, are you oke?" tanya Kristal tapi tidak ada sahutan. Kristal berpikir Satria sudah tertidur.
"Aku takut ketahuan mama," ucap Gwen lirih. Satria tersenyum.
"Malam ini aku boleh tidak tidur di sini?" tanya Satria. Selama enam bulan menikah keduanya tidak pernah tidur satu ranjang. Satria sangat merindukan istrinya sehingga dia ingin semalam saja bersama Gwen.
__ADS_1
Gadis itu mengangguk malu-malu ketika menanggapi ucapan Satria.
Keduanya berbaring di tempat tidur Gwen saling berhadapan. Satria menyusuri wajah Gwen yang cantik. Sesekali dia menyematkan anak rambut Gwen yang menutupi wajahnya. Sungguh Satria sangat tergoda pada Gwen saat ini hanya dengan memandang wajah cantiknya.
"Apa kamu merindukanku?" tanya Satria. Gwen mengangguk sambil tersenyum.
Satria menempelkan keningnya di kening sang istri. "Gwen, bolehkah aku menciummu?" tanya Satria. Gwen mengulum bibirnya karena jantungnya berdebar kencang. Dia mengangguk malu-malu. Gwen menutupi wajahnya yang kemerahan.
Satria pun membuka penutup wajahnya dan mengambil dagu Gwen lalu menempelkan bibirnya perlahan. Lembut dan begitu menggoda. Itulah yang dirasakan saat bibir Satria menyentuh bibir Gwen.
Satria mengikuti nalurinya sebagai lelaki. Dia pun mulai melu*mat bibir Gwen tapi dia lakukan dengan lembut agar tidak menyakiti pemiliknya. Gwen hanya bisa diam karena ini ciuman pertamanya. Dia belum terbiasa mendapatkan ciuman dari seorang laki-laki.
Satria membalik posisi mereka yang awalnya saling menyamping kini Satria memilih berada di atas tubuh Gwen. Dia melepas pagutannya lalu kembali mencium gadis itu. Namun, saat ini bibir Satria tengah menyusuri bagian lehernya.
Wangi dan menggoda itulah yang bisa dia rasakan saat menyentuh leher jenjang itu. Gwen menggelinjang. Dia tidak mengerti kenapa tubuhnya seperti itu. "Mas, lakukan lebih."
Ucapan Gwen seolah memberikan lampu hijau pada Satria agar mengakhiri keperawanannya malam ini. Satria memainkan bagian inti Gwen dan dia menyukainya. "Kamu basah," ucap Satria. Wajah Gwen memerah.
__ADS_1
Meski dia sadar kalau ayahnya tidak akan menyukai perbuatannya berhubungan badan dengan Satria. Namun, Gwen tidak bisa melewatkan malam panas ini.
"Gwen, tahanlah sebentar. Aku janji akan melakukannya secara pelan. Kamu boleh melakukan apa saja padaku untuk mengalihkan rasa sakitmu."
Ucapan Satria membuat Gwen dag dig dug. Antara percaya dan tidak percaya dia tidak akan perawan lagi malam ini. "Akh," Gwen menahan diri agar tidak menjerit. Sakit yang dia rasakan ketika Satria memasuki bagian intinya dialihkan dengan mengigit bahu Satria.
Satria bisa merasakan bahunya sakit dan perih. Namun, itu tidak sebanding dengan surga dunia yang telah dia rasakan malam ini.
Usai mereka sama-sama mengalami pelepasan, Satria menjatuhkan diri di samping Gwen. Dia mencium kening istrinya. "Terima kasih karena telah memberiku kepercayaan." Gwen mengangguk lemah.
***
Ruli memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Gwen. Rupanya Gwen tengah hamil empat minggu.
Ruli marah besar pada Satria. "Kenapa bisa kebobolan begini sih? Kamu nggak pakai pengaman ya?" tanya Ruli.
Gwen menangis sesenggukan ketika suaminya dimarahi oleh sang ayah. "Jangan marahi Mas Satria, Pa."
__ADS_1
"Kami tidak sengaja melakukannya malam itu. Jadi kami pikir tidak akan masalah. Kami tidak tahu kalau dampaknya akan sebesar ini." Satria mengakui kesalahannya.
Ruli terduduk lemas. Dia tidak mungkin meminta putrinya menggugurkan kandungan. "Jangan sampai orang lain tahu kalau kamu sedang hamil." Gwen memeluk ibunya sambil menangis.