
Hari ini Gwen masuk ke sekolah seperti biasa. "Gwen kamu yakin mau ikut olahraga?" tanya Glen. Tidak ada yang tahu kalau Gwen hamil karena keluarganya masih merahasiakan pernikahannya. Gwen mengangguk yakin.
"Kalau aku tidak ikut orang lain akan curiga padaku."
"Baiklah tapi hati-hati, jangan sampai membahayakan kandunganmu. Ingat di dalam perutmu ada calon keponakanku. Kamu harus menjaga dia dengan baik." Gwen terharu mendengar ucapan kakaknya.
Setelah itu Gwen mengganti bajunya dengan kaos olahraga. Dia menyusul Stefy dan Lusi ke lapangan. "Lo lama banget ganti baju doang," gerutu Stefy. Gwen hanya tersenyum menangapi Stefy.
"Anak-anak berkumpul di sini!" perintah guru olahraga.
"Hari ini kita akan adakan penilaian lompat jauh. Sekarang berbaris urut sesuai nomor Absen!" Gwen merasa khawatir. Dia pun memegang perutnya.
"Gwen, muka kamu pucat. Apa kamu sakit?" tanya Lusi. Gwen menggeleng. "Tidak apa-apa," elak Gwen.
"Gwen, sekarang giliran kamu," seru Pak Tio.
"Aku ke sana dulu ya." Tangan Gwen sangat dingin ketika dia akan molompat. Dia takut jika goncangan membuat bayinya kenapa-napa.
"Gwen, ayo lompat!" desak guru olahraga tersebut. Gwen pun melompat kemudian dia mendaratkan badannya di bak pasir. Setelah itu dia mulai merasakan sakit. Namun, Gwen menahannya. Gwen mengigit bibir bawah untuk mengalihkan rasa sakitnya.
Lusi dan Stefy menghampiri Gwen. "Gwen kamu lagi mentruasi ya? Tembus," ucap Stefy lirih. Jantung Gwen berdebar kencang. Dia bukannya tidak tahu tapi dia menutupi agar teman-temannya tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya.
"Pak, saya boleh izin. Saya mau ke belakang," pamit Gwen. Gwen berjalan mencari keberadaan Glen. Glen memang duduk di kelas terpisah.
"Glen," panggil Gwen yang bersandar di ambang pintu kelas kakaknya.
Glen langsung bangun dari tempat duduknya. Gwen tidak pernah mencarinya selama ini. Jadi Glen menduga pasti telah terjadi sesuatu pada Gwen.
Glen menangkap tubuh Gwen yang tiba-tiba ambruk. Semua orang terkejut melihat Gwen pingsan di depan kelas. Glen tak mengindahkan orang lain. Dia berlari sambil menggendong Gwen menuju ke parkiran mobil.
Di saat yang bersamaan, Stefy dan Lusi melihat Glen menggendong Gwen. Mereka pun mengikuti keduanya. Stefy membantu Glen membukakan pintu mobil. "Makasih, Yang. Aku antar Gwen ke rumah sakit dulu," pamit Glen. Stefy dibuat terkejut. Dia tidak tahu kenapa Glen ingin membawanya ke rumah sakit.
"Gwen sakit apa?" tanya Lusi. Stefy menggeleng pelan. Dia merasa curiga.
__ADS_1
Sementara itu, Glen terus fokus di dalam mobil, sesekali dia menoleh ke belakangan untuk melihat keadaaan Gwen. Gadis itu memejamkan matanya tapi sambil memegang perutnya yang terasa sakit.
Setibanya di rumah sakit, Glen turun dan membuka pintu belakang. Alangkah terkejutnya Glen ketika melihat banyak darah yang keluar dari sela-sela paha adiknya. Tak pikir panjang, Glen langsung menggendong Gwen keluar. Dia berteriak memanggil perawat agar Gwen segera mendapat pertolongan.
Sambil menunggu Gwen ditangani, Glen mengabari orang tuanya. Tak lupa dia menelepon Satria. Saat itu Satria sedang mengikuti kuliah. Ketika mendapatkan panggilan dari iparnya dia terkejut. Satria keluar kelas tanpa pamit. Nano pun heran. Tidak biasanya Satria membolos.
Satria panik bukan main. Dia mengendarai motor maticnya dengan kecepatan tinggi. Jalanan sangat macet karena ada kejadian kecelakaan beberapa jam yang lalu. Satria memukul kepala motornya keras karena kesal. Dia pun terpaksa menunggu karena posisi motornya terjepit.
Ruli dan Kristal telah sampai lebih dulu. Sepanjang jalan menuju ke rumah sakit, Kristal tak berhenti menangis. Dia tidak bisa membayangkan sesuatu buruk menimpa putrinya.
"Aku sudah menduga ini kana terjadi," ucap Ruli. "Di mana Satria?" tanya Ruli pada Glen.
"Entahlah tapi aku sudah menghubungi dia, Pa," jawab Glen. Ruli mengepalkan tangan karena menantunya tak segera datang.
Satria hampir sampai ke rumah sakit. Karena terlalu kencang saat berbelok, dia pun menabrak pembatas jalan. Motornya remuk sedangkan Satria tidak sadarkan diri. Di saat yang bersamaan, Kevin melihat langsung kejadian itu. Dia pun menolong Satria dan membawanya ke rumah sakit.
Kevin mengabari keluarga Satria. Dia menghubungi Risa, mamanya Satria. "Bagaimana keadaan Satria?" tanya Risa pada Kevin.
Kevin menggeleng. "Dokter yang memeriksa dia belum keluar tante."
"Kakinya patah dan harus segera dioperasi."
"Tolong lakukan yang terbaik untuk dia." Dokter itu mengangguk paham.
"Kevin, sebaiknya kamu pulang. Terima kasih sudah menolong Satria." Kevin mengangguk.
Operasi yang dijalani Satria berlangsung cukup lama. Risa berulang kali mondar-mandir di depan kamar operasi. Dia sendirian. Dia ingin mengabari suaminya tapi berkali-kali teleponnya dirijek.
"Dasar suami tidak bertanggung jawab," umpat Risa. Padahal yang merijek adalah Vera.
"Ngapain sih wanita ini terus menghubungi suamiku?" gerutunya.
"Siapa, Bun?" tanya Deri.
__ADS_1
"Sales asuransi," jawab Vera asal. Tak lama kemudian Lusi pulang. "Assalamualaikum, Bun."
"Waalaikumsalam," jawab Vera dan Deri secara bersamaan.
Tiba-tiba telepon Lusi bergetar. "Hallo, Kak Glen."
"Apa Satria pulang ke rumah kalian?" tanya Glen.
"Enggak, Kak. Mas Satria udah lama nggak tinggal di rumah kami," jawab Lusi. Glen pun menutup teleponnya. Pemuda itu menggertakkan gigi karena suami Gwen itu tidak menampakkan batang hidungny sementara Gwen terbaring lemah di rumah sakit.
"Bagaimana Glen?" tanya Ruli. Glen menggeleng. "Satria benar-benar membuatku habis kesabaran."
"Bagaimana kalau Gwen menanyakan suaminya saat dia sadar?" tanya Glen pada sang ayah.
"Kita pikirkan nanti."
Sesaat kemudian dokter yang merawat Gwen keluar. "Saya ingin bicara dengan orang tua pasien." Ruli pun maju ketika dokter memanggilnya.
"Apa Anda sudah tahu kalau anak Anda hamil?" tanya dokter itu pada Ruli. Ruli mengangguk.
"Sebenarnya dia sudah menikah," jawab Ruli. Dokter itu terkejut.
"Lalu mana suaminya?" tanya dokter itu. Ruli menggeleng.
"Kami tidak tahu. Bagaimana keadaan anak saya dan bayinya?" Tak mau mencampuri urusan orang lain dokter itu pun menjawab pertanyaan orang tua pasien yang dia rawat.
"Dia keguguran. Usianya terlalu muda untuk hamil jadi rawan sekali di kehamilan awal." Ruli meraup mukanya kasar ketika mendengar jawaban dokter.
"Kami akan melakukan kuretase untuk membersihkan bagian rahimnya."
Ruli menyandarkan punggungnya ke tembok karena meratapi nasib malang putrinya. Gara-gara setuju menikahkan dia, Gwen harus hamil di usianya ynag masih belia. Lalu kini dia keguguran dan ditinggalkan suaminya. Ruli menangis karena tak kuasa membayangkan masa depan Gwen setelah dia keluar dari rumah sakit.
***
__ADS_1
Maaf ya kalau banyak typo. Makasih buat yang udah mendukung karyaku.