Terjerat Pesona Driver Tampan

Terjerat Pesona Driver Tampan
Salah paham


__ADS_3

Gwen menghentikan taksi. Satria ingin mengejarnya tapi Gwen sudah lebih dulu masuk ke dalam taksi. Satria memukul udara karena kesal. Setelah itu dia mengambil motornya. Lusi mendekat ke arah Satria. Namun, pemuda itu tidak menghiraukannya. Kalau saja Lusi tidak main peluk maka Gwen tidak akan salah paham.


"Mas, aku nebeng ya?" rengek Lusi.


"Jangan menggangguku!" ucap Satria penuh penekanan. Lusi pun berhenti mengganggu Satria meski dia merasa kecewa. Satria menyalakan motornya kemudian pergi dari area sekolah.


Sementara itu, Stefy memandang tak suka pada Lusi. "Dasar pelakor!" umpatnya kesal pada Lusi. Walaupun lirih Lusi bisa mendengar ucapan Stefy. Dia memasuki mobil lalu pergi begitu saja.


"Pelakor?" tanya Lusi pada dirinya sendiri. Dia berpikir sejenak. "Jangan-jangan Gwen pacarnya Mas Satria?" tebak Lusi.


Lusi pulang ke rumah dengan menaiki taksi online. Ketika dia sampai di rumah, dia menyampaikan pada ibunya jika dia sudah bertemu Satria dua kali.


"Sebaiknya kamu tidak terlalu dekat dengan dia!" perintah Vera pada putri tunggalnya itu.


"Kenapa, Bun? Dia kan anak ayah juga," tanya Lusi dengan polos.


Vera menghela nafas. "Ibunya saja tidak menyukai kamu, apalagi anaknya," jawab Vera. Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga ucapan sang ibu.


"Tapi aku juga anak ayah Deri. Bukankah dia seharusnya memanggilku adik?" Raut wajah Lusi tiba-tiba berubah sendu. Sebagai anak tunggal dia merasa kesepian. Namun, setelah Lusi tahu kalau dia punya saudara, dia merasa senang. Walaupun kenyataan pahit harus dia hadapi.


Awalnya Lusi mengira dia adalah anak tunggal ayahnya. Namun, suatu hari Lusi mengetahui saat dia tak sengaja mengikuti sang ayah pulang ke sebuah rumah. Akan tetapi, rumah itu bukanlah rumahnya.


Lusi mengira ayahnya selingkuh hingga dia melabrak sang ayah. "Ayah," panggil Lusi.


Deri terkejut ketika Lusi ada di rumah Risa, istri pertamanya. "Sedang apa kamu ke sini?" tanya Deri.


"Ayah kenapa malah pulang ke sini? Siapa dia?" Lusi menunjuk Risa.


Risa tersenyum miring. "Kamu anaknya Vera?" tanya Risa pada Lusi. Lusi mengangguk.


"Kamu curiga kalau ayahmu selingkuh?" Lagi-lagi Lusi mengangguk. Risa bisa menebak gadis yang berdiri di hadapannya saat ini sangat polos.


"Aku ini bukan selingkuhannya, tapi ibumulah yang jadi pelakor di antara hubungan rumah tanggaku dengan Mas Deri." Lusi masih belum bisa mencerna ucapan Risa.


"Risa!" teriak Deri. Dia berharap Risa tak berbicara lebih jauh. Setelah itu dia menarik tangan Lusi agar menjauh. Deri mengajak Lusi masuk ke dalam mobil dan mengantarnya pulang ke rumah.


"Apa benar kalau ibuku seorang pelakor?" tanya Lusi setelah berpikir cukup lama. Dia sangat syok mendapati dirinya lahir dari hubungan gelap ayah dan ibunya.


"Bukan begitu, Lusi. Ayah menikahi ibumu karena sama-sama cinta. Namun, ayah masih berstatus suami Risa," ungkap Deri. Lusi menangis. Dia sedih saat ayahnya baru berkata jujur setelah dia besar.

__ADS_1


"Apa alasan ayah menikah dengan ibuku? Apakah karena dia tidak punya anak lalu ayah menginginkan anak dan menikah dengan bunda Vera?" tebak Lusi.


"Tidak. Aku dan Risa memiliki seorang anak laki-laki yang usianya di atas kamu. Namanya Satria." jawab Deri kemudian dia memperlihatkan foto anak laki-lakinya.


Deri berhenti sejenak. "Satria tidak tinggal bersama kami. Dia pergi dari rumah," ungkap Deri yang merasa sedih ketika bercerita tentang Satria. Lusi menjadi kasian pada ayahnya.


Sementara itu, Satria menghampiri Gwen hingga ke rumahnya. "Assalamualaikum, Tante," sapa Satria ketika tiba di rumah Gwen.


"Waalaikumsalam. Cari Gwen ya?" tanya Kristal. Satria mengangguk.


"Kayaknya lagi ngambek. Kalian bertengkar ya?" Satria menggelengkan kepalanya.


"Bukan, Tante. Hanya kesalahpahaman kecil saja," jawab Satria.


"Sebaiknya kamu kembali besok ya. Bukankah besok kamu ada jadwal memberikan les privat pada Gwen," usul Kristal.


"Baik, Tante. Kalau begitu saya permisi," pamit Satria. Dia pulang dengan perasaan kecewa.


"Elo berantem sama Satria?" tanya Glen saat dia masuk ke dalam kamar Gwen.


"Nggak sopan banget, masuk ke kamar cewek main nyelonong aja," gerutu Gwen. Glen menoyor kepala adiknya.


"Ampun, lama-lama kepala gue kopyor kaya kelapa," keluh Gwen.


Glen duduk di tepi ranjang Gwen. Gwen cuek dia sedang menonton drakor kesukaanya. "Tumben berantem."


"Gue nggak berantem," jawab Gwen sekenanya.


"Terus kenapa?"


"Dia selingkuh," jawab Gwen. Glen jadi mengerutkan keningnya.


"Masa sih? Cowok kaya Satria kayaknya bukan tipe orang yang suka selingkuh deh." Glen mengungkapkan pendapatnya.


"Saudara lo gue atau Mas Satria?" protes Gwen. "Dia pelukan sama cewek di sekolah tadi."


"Siapa? Bukan Stefy kan?" tanya Glen makin penasaran.


"Ya bukanlah. Siswi baru tuh. Dasar kecentilan," cibir Gwen sambil memanyunkan bibir.

__ADS_1


"Gue baru tahu kalau ada siswi pindahan." Gwen mengangkat bahunya.


Keesokan harinya, Glen mendatangi kelas Gwen. "Ngapain lo ke sini?" tanya Gwen ketus.


"Suka-suka guelah. Gue mau kenalan sama siswi baru," ucap Glen sambil melirik ke arah Stefy. Stefy terbakar cemburu. Dia meremat roknya di bawah meja.


"Hai, gue Glen dari kelas sebelah. Elo anak baru?" tanya Glen sambil mengulurkan tangan. Lusi membalas uluran tangannya.


"Gue Lusi," jawabnya gugup. 'Tuhan, seumur-umur baru lihat cowok secute ini,' batin Lusi.


"Kamu melamun?" tanya Glen dengan menggerakkan lima jarinya di depan wajah Lusi. Gwen dan Stefy yang melihatnya jadi ingin muntah. Mereka tidak menyangka Glen bisa selancar itu berbicara di depan Lusi.


Ketika Lusi tersenyum pada Glen, Stefy jadi tidak tahan mendengarnya. "Keterlaluan!" Stefy menggebrak meja.


"Lo jadi cewek kecentilan banget. Kemaren elo goda Satria sekarang elo goda pacar gue. Sok kecakepan lo!" Stefy mendorong bahu Lusi. Sementara Glen mengulas senyum tipis saat Stefy terang-terangan mengakui Glen sebagai pacarnya.


Stefy keluar dari kelas dengan terburu-buru. Glen pun menyusulnya. "Stefy, tunggu!" Stefy tak mengindahkan panggilan dari kekasihnya. Glen pun berjalan cepat kemudian menelusupkan jari jemarinya ke jari jemari Stefy.


Stefy menghentikan langkahnya sejenak. Glen tersenyum ke arah Stefy. "Kamu cemburu?" tanya Glen. Stefy memalingkan muka. Bukannya marah dia hanya tidak dapat menyembunyikan wajahnya yang kemerahan akibat perlakuan Glen yang amat manis semanis gula-gula gulali yang digulai dari gula.


"Oke, tanpa kamu jawab aku udah rahu jawabannya," goda Glen. Stefy memukul dada bidang Glen.


"Jahat kemaren tiba-tiba mengaku pacar gue, giliran ada siswi baru elo godain dia," ucap Stefy sambil menangis. Glen mengusap air mata Stefy dengan satu jarinya.


'Tuhan, ini cowok terbuat dari gula beneran kali ya gue sampai diabetes,' batin Stefy.


"Tenang aja. Gue tetep pacar lo. Gue cuma mau cari tahu siapa yang bikin ngambek Gwen kemaren," ungkap Glen.


Sementara itu hawa dingin menusuk karena Gwen sedang mode ngambek pada teman sekelasnya, Lusi. "Gwen," panggil Lusi.


"Apa?" jawab Gwen dengan ketus.


"Kamu naksir Mas Satria ya?" tanya Lusi dengan hati-hati. Gwen memberikan tatapan tajam. Lusi bisa mengartikan tatapan Gwen walau gadis itu tidak bicara.


"Sebenarnya aku ini adiknya Mas Satria," ucap Lusi.


...***...


Biasakan like dan komen setelah membaca

__ADS_1


__ADS_2