
Gwen pergi ke sekolah dengan Satria. Dia merasa bahagia karena Satria tidak menolak ketika tangannya melingkar di perut pemuda tampan itu. "Gwen, kamu nggak ngantuk 'kan?" tanya Satria. Gwen menyandarkan kepalanya di punggung laki-laki tampan itu. Satria mengira gadis itu mengantuk.
"Enggak, Mas. Aku sedang menikmati rasa nyaman bersandar di punggung pacarku," jawab Gwen. Satria tiba-tiba mengerem mendadak. Gwen jadi terkejut.
"Pacar?" tanya Satria. Gwen mengangguk.
"Bukankah Mas Satria sendiri yang bilang kalau Mas Satria suka sama aku di depan papa? Jadi sejak kemaren kita resmi pacaran," ucap Gwen dengan polosnya.
Satria terkekeh. "Terserah kamu saja," ucap Satria kemudian kembali mengendarai motor maticnya.
"Mas, aku kepengen dibonceng pakai motor gede yang buat balapan waktu itu. Pasti keren banget," ucap Gwen sambil tersenyum membayangkan dirinya dibonceng Satria menggunakan motor sport milik Satria.
"Iya, nanti siang kalau kamu pulang aku jemput kamu pakai motor itu," jawab Satria. Gwen mengeratkan pelukannya.
"Gwen, aku tidak bisa bernafas," tutur Satria.
"Eh, maaf, Mas. Aku terlalu senang," jawab Gwen.
Sesampainya di depan gerbang sekolah, Gwen turun dari motor Satria. Dia agak kesulitan membuka helm yang dia pakai. Tangan Satria pun terulur kemudian membantu Gwen melepas helmnya. Lagi-lagi wajah Gwen dibuat merona dengan perlakuan manis Satria.
Stefy yang baru turun dari mobil mengusap-usap matanya untuk memperjelas pandangannya. Dia tidak percaya Satria berlaku manis pada Gwen. "Itu Satria sama Gwen kaya lagi pacaran aja," gumam Stefy.
"Aku pergi dulu. Kamu belajar yang rajin ya," pesan Satria sebelum meninggalkan Gwen.
"Siap, Ayang," jawab Gwen. Satria tersenyum tipis. Gwen selalu bisa membuat dia malu, tapi dia menyembunyikannya. Gwen melambaikan tangan ketika Satria pergi.
"Ayang, hati-hati ya," teriak Gwen.
Ketika Satria pergi, Stefy menghampiri sahabatnya. Gadis itu menepuk bahu Gwen. "Kalian jadian?" tanya Stefy. Gwen menaikkan alisnya saat menjawab pertanyaan Stefy.
"Kok bisa sih?"
"Lo nggak suka gue jadian sama Mas Satria?" tantang Gwen.
"Gue nggak percaya aja kalau Satria bisa suka sama elo. Kirain dia jijik lihat ulet keket yang godain dia kaya elo," ledek Stefy diiringi tawa mengejek.
__ADS_1
"Mulut lo! Belum pernah makan sambel kan lo? Sini gue sumpel sama cabe." Gwen mengejar Stefy sepanjang jalan menuju ke kelasnya.
Ketika Gwen sedang berjalan, dia tak sengaja menabrak Sarah, kakak kelas Gwen. "Heh, cewek cabe-cabean minta maaf lo sama gue."
"Sorry," ucap Gwen.
"Apa gue nggak denger?" Sarah sengaja mendekatkan telinganya ke arah Gwen.
"Sorry gue nggak sengaja," teriak Gwen tepat di telinga Sarah. Stefy tertawa melihat kelakuan Gwen. Tapi tidak dengan Sarah. Dia marah sekali diperlakukan seperti itu oleh Gwen.
"Lo kira kuping gue budeg," kata Sarah sambil mengusap telinganya yang sakit akibat suara Gwen yang menggelegar.
"Kalau situ nggak budeg kenapa tadi tanya berulang kali?" Gwen balik tanya.
"Nggak sopan banget lo." Sarah melayangkan tangannya hendak menampar Gwen tapi gadis itu menangkap tangan Sarah dan menghempaskannya.
"Lo kira gue cewek cupu yang gampang lo bully? Kalau gue mau gue bisa bully elo lebih dari ini," ancam Gwen dengan penuh penekanan di setiap kata yang dia ucapkan. Sarah jadi bergidik ngeri karenanya.
Dari kejauhan seorang pemuda memperhatikan Gwen yang dengan beraninya melawan Sarah. Padahal Sarah adalah cewek paling ditakuti di sekolah karena keluarganya berpengaruh di sekolah itu.
"Gila lo, Gwen. Nggak takut mereka akan balas dendam?" tanya Stefy.
"By the way, hubungan lo sama abang gue ada kemajuan nggak?" tanya Gwen tiba-tiba. Stefy memalingkan muka.
"Sinting! Ogah gue pacaran sama abang lo yang kaya es balok itu. Gue nggak mau hidup gue flat kaya triplek. Cari mangsa lain sajalah. Tega lo kalau jadiin gue korban kaya gini." Stefy terlalu mendramatisir ceritanya.
"Awas lo! Gue doain lo bucin sebucin-bucinnya sama Glen," ucap Gwen.
"Nggak bakalan," balas Stefy sambil menjulurkan lidah.
Saat jam pelajaran dimulai Gwen dan Stefy mengikuti pelajaran dengan serius. Gwen sudah janji pada Satria kalau dirinya akan belajar dengan serius.
Ketika bel tanda istirahat berbunyi Stefy dan Gwen akhirnya bisa merenggangkan ototnya. "Stef, ke perpus yuk! Ada soal yang gue nggak ngerti nih," ajak Gwen.
"Lo aja deh. Dari tadi pagi gue belum makan," tolak Stefy.
__ADS_1
"Makan aja terus. Lagian Glen suka kok sama cewek yang monthok gitu," goda Gwen.
"Sialan lo! Sana-sana! Gue nggak terpengaruh sama omongan lo," usir Stefy.
"Kurang asem lo, Stef."
Gwen pun akhirnya berjalan seorang diri ke perpustakaan. Dia ingin mengambil buku yang berkaitan dengan pelajaran yang tidak dia mengerti. Namun, letak buku tersebut di rak yang paling atas. Gwen tidak berusaha mengambilnya tapi tangannya tidan sampai.
Tiba-tiba sebuah tangan terulur untuk mengambil buku yang akan diambil oleh Gwen. Gwen membalik badannya. Hidungnya hampir saja bertabrakan dengan hidung seorang pemuda. "Kamu mau ambil ini?" tanya pemuda itu dengan lembut.Gwen merasa canggung dia pergi begitu saja.
"Tidak bilang terima kasih?" sindir laki-laki itu. Gwen menghentikan langkahnya.
"Thanks," ucap Gwen. Dia berlalu meninggalkan laki-laki itu. Namun, pemuda yang belum diketahui namanya itu mengikuti Gwen. Gwen jadi merasa tidak nyaman.
"Kok lo ngikutin gue sih?" tanya Gwen dengan nada tinggi.
"Siapa yang berisik?" tegur petugas perpus. Laki-laki itu menahan tawa.
"Memangnya tidak boleh kalau aku duduk di sini? Ini tempat umum jadi siapa saja bebas duduk di sini," jawabnya. Gwen tak menghiraukannya. Dia fokus membaca tulisan yang ada di buku itu.
Pemuda itu sejak tadi memperhatikan Gwen. "Gue emang cantik tapi biasa aja lihatnya," sindir Gwen tanpa menoleh ke arah pemuda yang duduk di depannya.
"Gue Bram, nama lo siapa?" tanya pemuda bernama lengkap Ibrahim Prasetya itu.
Gwen tak membalas uluran tangan Bram. Dia keluar dari perpus karena merasa tidak nyaman. Bram mengikuti Gwen keluar perpus. "Lo bisa nggak sih nggak ngikutin gue?" tanya Gwen kesal.
"Nggak bisa," jawab Bram tanpa rasa bersalah. Dia penasaran dengan gadis yang berani melawan Sarah itu.
Gwen pun reflek memukul Bram dengan buku yang dia bawa. Tapi Bram mampu menangkap tangan Gwen. Gwen hendak memukul dengan tangannya yang lain, lagi-lagi Bram bisa menangkapnya.
Tak berhenti sampai situ, Gwen ingin menendang Bram, tapi Bram berhasil menghindar. Gadis itu tidak pendek akal, dia memutar tubuhnya lalu membanting Bram. "Rasain lo!" ucap Gwen saat berhasil mengalahkan pengganggu tersebut.
Bukannya marah, Bram semakin penasaran dengan Gwen. "Ada saatnya nanti kamu akan jadi pacarku, Gwen." Bram membaca papan nama yang tertempel di seragam gadis itu.
...****...
__ADS_1
Aku sudah double up ya per chapter panjangnya 1k lebih jadi jangan lupa dukungannya
Yang belum kasih rate silakan rate bintang lima ya