
Gwen menghentikan langkahnya. Dia memejamkan mata sejenak setelah itu kembali berjalan. Gwen memilih menghindari Satria dari pada luka lamanya kembali terkoyak.
'Good girl,' puji Revan dalam hati sambil mengulas senyum tipis. Dia mengikuti ke mana Gwen pergi. Revan membukakan pintu saat Gwen mendekati mobilnya. Gadis itu tidak sempat berpamitan pada Glen dan teman-temannya ketika pergi tadi.
Lusi menatap heran pada Gwen. Setelah sekian tahun ada misteri yang belum terpecahkan oleh otaknya itu. Steffy memang tidak bercerita pada siapapun karena dia telah berjanji pada kekasihnya. Steffy juga tidak mau nama baik keluarga Glen tercoreng jika kabar berita tentang pernikahan Gwen dan Satria yang kandas. Pernikahan antara Satria dan Gwen saat itu memang tidak ada yang tahu karena keluarga Jingga dan Adli menutupnya rapat-rapat.
"Kak, apa yang terjadi antara kamu dan Gwen? Apa kakak menyembunyikan sebuah rahasia?" tanya Lusi pada Satria. Satria tersenyum miring.
"Sebuah rahasia yang mengubah hidup kami jadi berantakan," jawab Satria. Ada rasa penyesalan ketika mulutnya dengan mudah mengucapkan kata talak. Satria sangat menyesal. Kalau saja waktu bisa kembali diputar dia tidak akan menyalahkan Gwen atas kematian anak mereka.
"Mas, nanti malam datanglah ke rumah untuk makan malam bersama. Papa sangat merindukanmu. Apa kamu tidak kasian? Semakin hari kondisi kesehatannya semakin menurun," ucap Lusi memberi tahu.
"Akan aku usahakan. Do, ayo kita pulang!" Satria mengajak Aldo yang sedari tadi setia menunggunya.
"Lusi, abang pulang dulu ya," pamit Aldo pada adik Satria itu.
"Bro, elo yakin udah nggak punya perasaan apapun pada Gwen? Gue perhatikan dia tambah cantik ketika dewasa," ucap Aldo sambil tersenyum.
"Jangan coba-coba mendekati Gwen!" Satria memberi peringatan.
"Kenapa? Gwen bukan milik lo lagi? Bebas dong kalau gue deketin dia," goda Aldo. Namun, respon Satria sangat tidak biasa.
"Gue nggak mau sembarang orang menjadi pasangan Gwen," jawab Satria sambil mencengkeram kerah baju Aldo. Aldo menurunkan tangan Satria.
"Santai, Bro. Gue nggak serius. Lagian mana ada yang mau bekas...." Belum selesai Aldo bicara Satria menatap tajam padanya.
"Ngomong sekali lagi gue tampol lho," ancam Satria. Setelah itu mereka pergi dari area kampus.
Sementara di dalam mobil Revan, Gwen melihat kepergian Satria dan Aldo yang mengendarai motor. "Kamu tidak apa-apa, Gwen?" tanya Revan. Gwen menggeleng.
"Aku hanya belum siap kembali ke masa lalu," jawabnya dengan suara sendu.
__ADS_1
"Untuk apa kamu kembali ke masa lalu? Tatap masa depan kamu, Gwen. Kamu bisa lakukan apapun yang kamu mau," ucap Revan. Dia menatap ke dalam mata Gwen. Gwen menjadi gugup ketika Revan menatapnya secara tak biasa.
"Antar aku pulang, Kak!" pinta Gwen pada Revan.
"Apa kamu tidak menunggu Glen?" tanya Revan. Gwen menggeleng.
"Kami bisa bertemu di rumah nanti," jawab Gwen acuh.
Revan pun memutar kunci mobilnya lalu menginjak pedal gas agar mobilnya melaju menuju rumah Gwen. "Kamu ingin mampir ke suatu tempat tidak?" tanya Revan.
Gwen berpikir sejenak. "Aku ingin ke sekolah lamaku? Apa kakak tahu di mana lokasinya? Jika tidak aku bisa memberi tahu."
"Untuk apa ke sana? Jangan coba-coba mengenang masa lalu lagi, Gwen. Ingat di sanalah kamu dan mantan suamimu itu sering bertemu." Revan melarangnya.
Gwen menghela nafas. "Baiklah, pergi ke kedai es krim saja," jawabnya lesu.
"Siap, Bu Bos," canda Revan. Gwen terkekeh mendengar panggilan yang disematkan untuknya. Sudah lima tahun lebih Revan menemaninya dan membuatnya tertawa. Revan selalu menaruh harapan kelak akan bersanding dengan Gwen. Namun, Gwen selalu menolak saat Revan menyatakan cintanya. Saking seringnya Gwen menganggap Revan tak serius.
Ketika mereka tiba di kedai es krim, mereka tak sengaja melihat Lusi bersama Bram. Ya, Lusi dan Bram berpacaran sejak SMA. Awalnya Bram menyukai Gwen tapi Lusi secara terang-terangan mengungkapkan perasaannya pada Bram. Bram sempat menolak, tapi akhirnya dia luluh juga pada Lusi karena hasil kerja kerasnya mengejar Bram selama ini.
"Sini Gwen. Gabung sama kita. Kakak lo juga boleh ikut." Lusi melirik ke arah Revan.
"Kak, sini duduk bareng mereka!" ajak Gwen. Revan menuruti kemauan Gwen.
"Elo apa kabar, Gwen?" tanya Bram.
"Baik, Bram," jawab Gwen.
"Bram," panggil Kevin. Dia datang bersama kekasihnya.
"Eh, kenalin ini abang gue Kevin." Bram mengenalkan kakaknya pada teman-temannya.
__ADS_1
"Kevin."
"Revan."
"Gwen." Kevin mengingat-ingat nama itu.
"Elo pacarnya Satria?" tanya Kevin pada Gwen. Gwen agak keberatan masa lalunya diungkit.
"Dulu," sela Lusi.
"Iya, dulu ya. Kenapa kamu tidak datang menjenguk Satria ketika dia kecelakaan? Apa saat itu kalian sudah putus?" tanya Kevin.
Gwen terkejut mendengarnya. Seingat dia Satria tidak pernah mengalami kecelakaan. Apakah kecelakaan itu terjadi setelah dia pindah ke luar negeri? Hah untuk apa peduli karena dia bukan lagi suaminya sesaat setelah kata talak keluar dari mulut Satia. "Hah? Kecelakaan? Kapan?" tanya Gwen penasaran.
"Sekitar lima tahun yang lalu," jawab Kevin. Lima tahun yang lalu dia masih di Indonesia.
"Waktu itu gue yang menolongnya. Kakinya lumayan parah sehingga dia tidak bisa jalan lebih dari sebulan lamanya." Lagi-lagi ucapan Kevin membuat Gwen terkejut. Dia jadi merasa bersalah karena mengira Satria sengaja meninggalkannya ketika dia sedang mengalami keguguran.
Gwen meneteskan air mata. Ternyata selama bertahun-tahun dia hidup dalam kesalahpahaman. 'Bodohnya aku tidak mau mendengar penjelasannya saat itu ,' gumam Gwen menangis dalam hati.
Gwen pun bangun dari tempat duduknya dan beranjak dari sana. Dia ingin meminta maaf pada Satria karena tidak mau mendengar penjelasannya saat itu. Revan membiarkan Gwen pergi. Di saat seperti ini akan sulit untuk melarang Gwen maka dia membiarkannya.
Revan perlu memberikan sedikit kebebasan untuk Gwen. Karena sejatinya hubungan mereka hanya sebatas dokter dan pasien saja.
Gwen menghentikan taksi. Dia pergi mencari keberadaan Satria. Gwen tidak tahu ke mana harus mencarinya hanya saja dia ingat di mana bengkel Satria berada.
Gwen menghentikan taksi yang dia tumpangi di depan bengkel tersebut. Gwen turun setelah membayar ongkos taksinya. Wanita itu memandang bengkel milik Satria yang memiliki banyak perubahan. Selain tempatnya yang lebih luas, kini banyak pegawai yang bekerja di sana.
"Gwen," panggil seseorang. Gwen mengenali suara tersebut. Dia pun berbalik badan.
"Maafkan aku!" ucap Gwen sambil memeluk Satria secara tiba-tiba. Satria kaget tapi itu hanya sebentar. Dia membalas pelukan Gwen dengan erat sambil menangis. "Aku juga minta maaf padamu, Gwen."
__ADS_1
...💗💗💗...
Udah Senin aja nih jangan lupa kasih vote yang kalian punya ya maksih semoga kalian selalu diberi kesehatan