
Glen baru datang usai acara berlangsung. "Kamu ke mana aja?" tanya Stefy.
"Tadi aku ke bengkel. Mobil aku kempes di jalan," jawab Glen. Kemudian dia menatap Gwen.
"Selamat ya." Glen mengacak rambut adiknya gemas.
"Apan sih, Glen? Nyebelin banget," gerutu Gwen sambil memanyunkan bibir.
"Ayo pulang!" Glen mengajak adiknya.
"Nggak, gue mau pulang bareng sama ayang," ucap Gwen sambil melingkarkan tangannya ke lengan Satria.
Glen hanya mencibir. "Ayo, Sayang. Kita pulang." Stefy menutup mulutnya tak percaya ketika Glen memanggilnya sayang. Glen menarik tangan Stefy membawanya pergi menjauh dari teman-temannya.
"Lusi kamu pulang sendirian nggak apa-apa?" tanya Gwen. Lusi menggeleng.
"Nggak apa-apa, aku udah biasa pulang sendiri kok." Dia berharap kakaknya akan pulang ke rumah bersama dirinya, tapi melihat sikap Satria yang cuek Lusi rasa tidak mungkin.
Gwen melihat ke sekitar dia melihat Bram. "Bram," panggil Gwen.
"Ada apa?" tanya Bram ketika dia mendekat.
"Tolong antar Lusi pulang!" perintah Gwen pada laki-laki itu. Bram mengangguk patuh.
"Titip Lusi ya! Awas lo apa-apain dia," ancam Gwen. Gwen pergi bersama Satria.
"Ayo gue antar pulang!" ucap Bram.
"Eh, nggak usah, Kak. Aku bisa pulang naik taksi saja," tolak Lusi.
__ADS_1
"Udah ayo!" desak Bram. Lusi pun terpaksa ikut.
"Mobil kamu mana?" tanya Lusi.
"Pakai motor," jawab Bram sambil memberikan helm pada Lusi. Lusi dengan ragu menerimanya.
"Kenapa nggak dipakai?" tanya Bram ketika Lusi masih berpikir. Dia melihat ke bawah. Bram pun mengikuti arah mata Lusi. Sesaat kemudian Bram melepas jaketnya lalu memberikannya ke Lusi.
Lusi merasa terharu. "Ini buat aku?" tanya Lusi pada Bram.
"Pakai buat menutupi paha kamu!" perintah Bram pada gadis itu. Lusi menuruti perintah Bram.
Di tempat lain ada Gwen dan Satria yang sedang merayakan kemenangannya. Mereka makan di warung tenda yang biasa mereka kunjungi. "Ayo makan sepuas kamu, aku yang traktir," kata Satria.
"Eh, nggak usah, Mas. Uang jajanku lebih banyak jadi aku aja yang traktir," tolak Gwen merasa tidak enak.
Satria tersenyum. "Untuk sekali ini saja," ucap Satria. Gwen membalas senyuman kekasihnya.
"Tapi itu kan acara sekolah kamu, Gwen."
"Tenang aja, bisa di atur." Gwen menaikturunkan alisnya.
Seminggu kemudian, Gwen mengemasi barang-barangnya. "Jangan lupa bawa obat-obatan yang perlu, Gwen. Di sana kan udaranya dingin," kata Mama Kristal.
"Yah, kalau dingin mah tinggal bawa jaket aja, Ma."
"Ya, bawa aja obat herbal. Biar kamu nggak masuk angin."
"Ih, nggak ah, rasanya kaya jamu gitu," tolak Gwen.
__ADS_1
"Ihk, ni anak. Nanti kalau pulang-pulang masuk angin baru tahu rasa," omel sang ibu.
"Kamu di sana berapa hari?" tanya Mama Kristal.
"Dua hari dua malam, Ma."
"Kok lama sih, ngapain aja?" tanya Mama Kristal penasaran.
"Yagh, kalau cuma sehari mah numpang capek doang, Ma."
"Berangkat jam berapa?"
"Bentar lagi, Ma. Nunggu Glen. Ngapain sih tu anak. Paking barang aja kaya mau pindahan." Gwen menuruni tangga sambil menggerutu.
Tak lama kemudian Glen menyusul. "Ya ampun, elo mau menginap di hotel? Koper lo gede amat. Ngalahin koper gue," ledek Gwen diiringi tawa mengejek.
Glen berdecak. "Aku bawa selimut tebal buat tidur nanti. Awas ya lo kalau ngambil selimut gue!" ancam Glen. Gwen hanya mencibir.
Setelah utu mereka berpamitan pada orang tua mereka. Gwen dan Glen berangkat diantar oleh sopir. Mereka akan naik bus menuju ke Puncak. Gwen mengabari Satria. Sehari sebelum berangkat, Gwen sudah menyewa villa untuk Satria dan temannya. Lokasi Villa itu tak jauh dari tempat Gwen menginap selama di puncak. Pakai uang mah segalanya mungkin.
Satria mengajak Aldo saat ke puncak. Maklumlah Aldo jarang bepergian jauh. Sekalinya diajak dia senang sekali. Aldo sangat bersemangat. Mereka berangkat menggunakan motor. Satria dan Aldo sampai lebih dulu di Puncak. "Gila, pacar lo emang anak sultan. Ini Villa apa istana. Dia sewa buat lo yang gede kaya gini? Bener-bener nggak sayang uang," ledek Aldo.
"Bisa aja lo."
"Tapi misal elo yang sewa juga mampu kan, Sat? Secara orang tua lo juga kaya. Eh by the way gue belum kenalan sama adek lo. Nanti kenalin ya ke gue!" Aldo membujuk Satria sambil memegang lengan Satria.
"Dasar."
Bus yang ditumpangi Gwen dan teman-temannya tiba di Puncak sekitar pukul empat sore. "Sumpah, gue capek banget. Glen bawain koper gue dong!" perintah Gwen seenaknya.
__ADS_1
"Nggak usah manja!"