
"Apa? Adiknya Mas Satria?" Gwen terkejut ketika Lusi mengaku sebagai adik Satria. Lusi mengangguk.
"Kami saudara beda ibu," jawab Lusi dengan wajah sendu.
"Sorry. Mas Satria tidak pernah bercerita soal kamu kepadaku," ucap Gwen merasa tidak enak.
"Mungkin Mas Satria malu kepadamu. Keluarga kami terlalu rumit. Aku saja baru tahu kalau aku punya saudara laki-laki," ucap Lusi dengan wajah sendu.
Gwen jadi merasa bersalah kenapa dia tidak pernah menanyakan soal keluarga kekasihnya.
Setelah salah paham terhadap Lusi, Gwen meminta maaf. "Kenapa kamu tidak bilang dari awal kalau kamu ini adiknya?" tanya Gwen.
"Aku tidak tahu kalau kamu pacaran dengan Mas Satria. Aku baru tahu hari ini. Kemaren aku hanya menebak dan Stefy memberi tahu padaku kalau kalian berpacaran.
"Iya, belum lama sih. Tapi sejak dulu rupanya kami sudah pernah bertemu. Mas Satria pernah menolong aku ketika kami diculik," ungkap Gwen.
"Benarkah? Berarti kalian memang jodoh dari lahir," ucap Lusi bersemangat. Gwen tersenyum malu-malu.
Setelah itu, Gwen mulai akrab dengan Lusi. Stefy malah merasa aneh. "Sejak kapan lo akrab sama dia," ucap Stefy berbisik ke telinga Gwen.
"Baru aja," jawab Gwen dengan santainya.
Stefy mengernyit. "Kok bisa?" tanya Stefy tidak percaya.
__ADS_1
"Ya bisalah. Dia calon adik ipar gue." Jawaban Gwen membuat Stefy terkejut.
"Elo adiknya Satria?" tanya Stefy pada Lusi. Lusi pun mengangguk.
Pandangan Stefy beralih ke arah Gwen. "Beneran? Jangan-jangan dia bohong," tuduh Stefy masih tidak percaya.
"Gue percaya sama Lusi."
Usai jam pelajaran selesai, Gwen, Lusi dan Stefy berjalan bertiga. Seperti biasa Satria menjemput Gwen. Kali ini dia datang lebih awal dari biasanya agar dia tidak kehilangan Gwen seperti kemaren.
"Gwen," panggil Satria. Kini lelaki itu dibuat bingung karena seingat dia Gwen sedang marah dan mengira Lusi sebagai pelakor.
"Iya, Mas," jawab Gwen.
"Nggak, Mas. Lusi udah cerita sama aku kalau kalian saudara." Satria jadi merasa tidak enak karena harus mengungkapkan identitasnya pada Gwen.
"Mas, papa nyuruh balik," sela Lusi.
"Bicarakan urusan keluarga di rumah saja!" perintah Satria. Lusi mengira kalau Satria ingin pulang. Dia pun menyampaikan kabar baik itu pada sang ayah.
"Papa siap-siap! Mas Satria akan kembali ke rumah. Dia berkata padaku kalau dia akan pulang," ucap Lusi antusias.
"Benarkah? Kamu tahu dari mana?" tanya Deri.
__ADS_1
"Aku satu sekolah dengan pacarnya. Setiap pulang sekolah dia menjemput temanku. Hari ini aku mengatakan kepadanya kalau papa meminta dia pulang. Mas Satria menyuruhku untuk membicarakan urusan keluarga di rumah saja."
Deri menghela nafas. "Apa betul? Papa tidak yakin. Satria tipe orang yang teguh pendirian. Dia tidak akan semudah itu untuk menuruti kemauan kamu."
"Kita tunggu saja, Pa. Aku yakin Mas Satria akan datang," ucap Lusi penuh keyakinan. Padahal saat ini Satria sedang sibuk di bengkelnya.
Hari ini Gwen minta libur les sehari karena dia harus persiapan untuk pesta pertunangan sepupunya nanti malam. Mama Kristal mengajak Gwen ke salon. "Elah, ribet amat ya rambut ditarik-tarik begini. Mana pakai bulu mata setebal sapu lagi," keluh Gwen.
"Ya ampun, anak gadis mama kerjaannya ngomel mulu dari tadi."
"Mending juga les privat sama Mas Satria dari pada menemani mama ke salon kaya gini. Unfaedah," cibir Gwen. Gwen memang tidak pernah ke salon. Dia hanya melakukan potong rambut jika ke salon selebihnya tidak pernah ada perawatan salon yang dia ikuti.
"Mama heran dulu mama ngidam apa ya waktu hamil kalian?" gumam Mama Kristal.
"Aneh nih mama. Bisa-bisanya lupa." Mama Kristal terkekeh.
"Ngobrol sama kamu nggak ada habisnya, Gwen. Sebaiknya kita pulang, ini sudah sangat sore. Nanti kita akan ke pesta pertunangan kakak kamu."
"Baiklah."
...***...
Segini dulu ya author ngantuk.
__ADS_1
Jangan lupa dukung aku di lomba bad boy. Doakan menang ya ♥️