
"Jangan salah paham! Kami hanya berteduh karena kami terjebak hujan dalam perjalanan pulang. Terlebih motor saya bannya bocor. Jadi kami terpaksa berteduh di pondok ini." Satria mencoba menjelaskan. Dia berharap orang-orang akan menyukainya.
"Alah, itu alasan kamu saja. Kalian ingin berbuat mesum kan?" tuduh salah seorang warga.
"Tidak. Ini tidak benar," sangkal Satria.
Mereka menangkap Satria dan Gwen kemudian dibawa ke rumah RT setempat. "Kita nikahkan saja mereka," seru salah seorang warga ketika berada di rumah RT setempat.
"Tunggu dulu! Nikah harus ada walinya."
"Panggil saja orang tua mereka!"
"Ya, benar." Semua warga sepakat menyuruh orang tua keduanya agar datang menjemput.
"Bagaimana ini Mas? Papa bisa ngamuk kalau tahu aku ditangkap warga seperti ini. Bisa-bisa aku dikirim ke luar planet," ucap Gwen.
"Berhenti becanda Gwen. Kita dalam keadaan genting. Hubungi ayah kamu setidaknya dia bisa menolong kita dari amukan warga." Gwen mengangguk cepat.
Gwen meminjam handphone Satria untuk menghubungi Ruli. "Hallo, Papa."
__ADS_1
"Gwen, kabur ke mana kamu semalam?" Belum apa-apa Ruli sudah mengamuk. Gwen sampai menjauhkan handphone dari telinganya.
"Papa tolong aku!" pinta Gwen sambil menangis.
"Gwen, apa yang terjadi pada kamu?" tanya Ruli. Satria meminta handphonenya agar dia bisa bicara dengan Ruli.
"Om, ini Satria."
"Sat, apa yang terjadi pada Gwen?" Ruli terdengar cemas memikirkan putrinya.
"Kami akan jelaskan saat om tiba. Tolong datang ke alamat yang saya kirim melalui pesan singkat nanti. Kami butuh bantuan Om," ucap Satria dengan serius.
"Pa, apa ada kabar dari Gwen?" tanya Kristal. Dia sama khawatirnya memikirkan Gwen yang menghilang dalam waktu semalam.
"Aku harus pergi. Gwen dan Satria sedang dalam masalah." Kristal masih bingung dengan jawaban suaminya. Dia pun menyambar tas yang ada di kursi.
"Aku ikut, Mas."
Setibanya di alamat yang dikirimkan oleh Satria. Ruli terkejut karena banyak orang yang berada di sana. "Satria ada apa ini?" tanya Ruli meminta penjelasan.
__ADS_1
"Pak, sebenarnya mereka tertangkap sedang tertidur berdua di pondok," jawab salah satu warga yang sudah ngegas duluan.
Ruli dan Kristal terkejut. "Gwen, apa benar kata mereka?" tanya Kristal.
"Ma, ini cuma salah paham. Aku bisa jelaskan."
"Ah, kelamaan. Bukankah seharusnya mereka dinikahkan saja?" usul salah satu warga.
"Benar-benar," jawab yang lainnya.
Ruli dan Kristal saling menatap. Ruli berpikir secepat mungkin untuk menyelesaikan masalah. "Baik, saya bersedia menikahi Gwen," seru Satria.
Gwen dan orang tuanya syok mendengar keputusan Satria. "Mas, jangan sembarangan bicara."
"Gwen, kalau ini satu-satunya cara agar kita bebas nikmati saja," bisik Satria di telinga Gwen. Gwen menggeleng cepat. Mana mungkin dia menikah. Dia masih kelas dua SMA.
Gwen menatap nanar ke arah orang tuanya. "Mama, bagaimana ini? Gwen masih pengen sekolah," rengek Gwen.
"Pa, bagaimana ini?" tanya Kristal meminta pendapat suaminya.
__ADS_1
Ruli menghela nafas. "Kita nikahkan Gwen dengan Satria." Ruli yakin dengan keputusan yang dia ambil. Dia terpaksa menyetujui usul Satria agar anaknya bisa terbebas dari orang-orang yang menahan mereka. Terlebih lagi ini soal nama baik. Ruli juga berpikir untuk membersihkan nama baik keluarganya agar tidak tercoreng. Satria mengulas senyum tipis.