
Hari ini hasil penilaian akhir semester akan diumumkan. Gwen yakin dia mengalahkan Glen, kakaknya. Sedari tadi Gwen menunggu kepala sekolah mengumumkan juara umum tahun ini di kelas XI.
"Perut gue kenapa mules gini ya?" ucap Stefy padahal bukan dia yang sedang menunggu pengumuman karena peringkat Stefy sudah diumumkan.
Kemudian salah seorang guru menempel hasil akhir penilaian. Gwen mencari namanya. Dia berada di peringkat sepuluh besar tapi bukan peringkat pertama. Gwen langsung terduduk lemas. Tiba-tiba dia menangis karena ingat dengan ancaman ayahnya.
Stefy dan Lusi menjadi bingung. Mereka berdua mencoba menghibur Gwen tapi tidak berhasil. "Gwen elo jangan nangis kaya anak kecil gini lah," ucap Stefy.
"Gue kalah sama Stef, gue kalah," ucap Gwen disela-sela tangisannya. Stefy dan Lusi dibuat malu karena siswa lain melihat ke arah mereka.
Stefy dan Lusi tidak tahu lagi bagaimana cara untuk membujuk Gwen. "Panggil abangnya gih!" desak Lusi pada Stefy. Stefy mengangguk setuju.
Glen pun menghampiri Gwen. "Gwen, elo jangan malu-maluin gue deh," bentak Glen.
Gwen memicingkan mata. "Puas kan lo. Puas udah ngalahin gue. Papa bakalan buang gue ke luar negeri, huaa..." Gwen menangis semakin kencang.
Glen berjongkok lalu menggendong adiknya layaknya karung beras. Stefy dan Lusi menjadi terkejut. Gwen memang sulit ditenangkan kalau dia sudah menangis seperti itu. Semua mata tertuju pada Glen. Glen memasukkan adiknya ke dalam mobil lalu membawanya pergi.
Glen paling tahu Gwen bisa tenang kalau diajak ke pantai. "Gue nggak tahu apa tang direncanakan sama papa. Gue udah cari tahu lewat mama tapi mama nggak mau ngasih tahu gue," ucap Glen saat berada di dalam mobil.
Glen memegang kepala adiknya. "Please, jangan jadi kekanak-kanakan kaya gini. Kalau lo nggak bisa dewasa sedikit kapan gue bisa lepasin lo?"
Gwen sedikit lebih tenang. Gwen memeluk Glen erat. "Kak, aku nggak mau dibuang ke luar negeri. Dari pada pisah sama kalian aku lebih baik mati." Gwen memang sangat menyayangi kakak dan ibunya itu. Ikatan batin Glen dan Gwen sebagai saudara kembar sangatlah kuat.
"Nanti aku akan bujuk papa agar kamu tidak jadi dikirim ke luar negeri," ucap Glen dengan lembut. Dibalik sikapnya yang dingin dia sangat menyayangi Gwen.
Di sekolah, Satria menjemput Gwen seperti biasa. "Gwen mana?" tanya Satria pada Lusi.
"Gwen pergi sama kakaknya," jawab Lusi.
__ADS_1
"Kenapa dia tidak mengabariku?" tanya Satria.
"Gwen tadi menangis histeris karena hasil nilainya tidak sesuai harapannya," terang Stefy.
"Apa dia tidak bisa menyaingi Glen?" tebak Satria. Stefy dan Lusi mengangguk. Satria tiba-tiba merasa cemas. Apa yang harus dia lakukan jika ayah Gwen jadi mengirimnya ke luar negeri? Satria masih berusaha berpikir.
"Lusi, hubungi papa! Aku ingin bicara sesuatu padanya," perintah Satria pada adiknya. Lusi sangat senang mendapatkan perintah dari kakaknya.
"Siap, Mas," jawab Lusi dengan semangat.
***
Glen membawa Gwen pulang ke rumahnya. "Gwen kamu kenapa?" tanya Mama Kristal heran ketika mata dan hidung Gwen memerah.
"Biasa dia habis nangis, Ma," adu Glen. Gwen hanya cemberut.
"Aku peringkat pertama seperti biasa, Ma," jawab Glen dengan angkuh. Kristal tidak heran. Seandainya Gwen menang pun dia akan tetap dikirim ke luar negeri.
"Mama sudah tahu bukan kalau papa sudah merencanakan keberangkatanku ke luar negeri?" tebak Gwen. Kristal mengangguk.
"Tapi kenapa, Ma? Kenapa kalian tidak meminta pendapatku? Seandainya kalian menginginkan pendidikan terbaik pun di sini banyak." Gwen berusaha meyakinkan ibunya.
"Ayahmu sudah mengambil keputusan ini sejak lama, Gwen. Percayalah kami melakukannya untuk kebaikan kamu." Kristal menimpali.
"Hanya aku yang tahu apa yang terbaik untuk diriku, Ma," ucap Gwen kemudian masuk ke dalam kamarnya.
"Ma, kenapa kalian main rahasia dengan kami? Apa alasan mama?" cecar Glen. Dia juga tidak rela berpisah dengan adik kembarnya.
"Maaf, Glen. Kami tidak bisa mengatakannya. Ini sudah menjadi kesepakatan mama dan papa," jawab Mama Kristal lalu menyusul Gwen ke kamarnya.
__ADS_1
"Gwen, bisa mama bicara sebentar?" teriak Mama Kristal dari balik pintu kamar putrinya itu.
"Aku ingin sendiri, Ma," jawab Gwen di sela-sela tangisannya. Kristal menurunkan bahunya.
Tak lama kemudian Ruli tiba di rumah. Dia mencari keberadaan istrinya. "Ma, persiapkan Gwen. Papa sudah beli tiket untuk ke Perancis."
Gwen mendengar percakapan orang tuanya. Rasanya menyakitkan ketika ayahnya ingin membuang dirinya. Gwen pun berpikir agar sang ayah membatalkan rencananya. Gwen menyimpan obat tidur. Dia mencoba bunuh diri dengan meminum obat tidur dalam jumlah banyak.
Pikirannya kacau sehingga dia berpikir pendek. Ruli dan Kristal menggedor pintu karena Gwen harus bersiap. Jadwal penerbangannya kurang dari dua jam lagi.
Ruli merasa curiga, saat itu Glen mendekat. "Ada apa, Pa?" tanya Glen.
"Papa curiga Gwen kabur. Dia tidak merespon saat kami memanggilnya," jawab Ruli.
"Kita dobrak saja, Pa!" Ruli mengangguk ketika mendengar usulan Glen. Keduanya pun mendobrak dengan menggunakan bahu masing-masing.
Setelah pintu terbuka mereka melihat Gwen tergeletak di lantai dengan busa di mulutnya. Kristal menjerit histeris. Glen yang sigap langsung menyiapkan mobil. Sedangkan Ruli segera menggendong anaknya. Dia tidak ada waktu untuk menenangkan sang istri yang terduduk lemas sambil menangis.
Setelah mamastikan Gwen dan ayahnya masuk ke dalam mobil, Glen melajukan mobil dengan kecepatan tinggi agar Gwen tidak terlambat mendapatkan pertolongan. Glen dan Ruli sangat cemas dengan keadaan gadis yang mereka sayangi.
"Gwen, kenapa kamu berpikir pendek seperti ini?" ucap Ruli yang menangisi anaknya. Gwen tak sadarkan diri dia tidak bisa mendengar tangisan ayahnya.
Glen juga sedih tapi dalam keadaan posisi menyetir dia harus menjaga kewarasannya. "Pa, kita sudah sampai," seru Glen memberi tahu ayahnya. Ruli keluar sambil menggendong Gwen yang lemas tak berdaya. Glen segera memanggil perawat.
Gwen sekarang sedang ditangani. Glen dan Ruli menunggu di luar. Tak lama kemudian Mama Kristal menelepon. "Ada di rumah sakit mana?"
"Akan aku share lokasinya," jawan Ruli. Setelah itu dia menutup teleponnya. Sebagaimana seorang ayah dia merasa bersalah karena memaksa putrinya berangkat ke luar negeri.
Glen melirik ayahnya. "Kalau sampai terjadi sesuatu pada Gwen, aku tidak mau memaafkan papa," ancam Glen.
__ADS_1