
"Bagaimana hasil wawancaranya?" tanya Revan yang saat ini sedang makan siang bersama Gwen di sebuah kafe yang tak jauh dari rumah sakit tempat Revan bekerja.
"Belum tahu, mungkin besok baru diumumkan," jawab Gwen sambil mengacak-acak makanannya.
Revan merasa aneh saat memerhatikan Gwen. "Kamu kenapa tiba-tiba hilang semangat gitu?" tanya Revan.
"Aku..."
'Ah sebaiknya aku tidak bercerita dulu mengenai Mas Satria yang juga melamar di sana. Kak Revan pasti akan melarangku. Tidak hanya Kak Revan. Semua anggota keluargaku pun pasti tidak akan setuju jika aku dekat dengan Mas Satria,' gumam Gwen dalam hati.
"Gwen, kamu kok malah melamun?" tanya Revan.
"Eh, aku sedang kurang enak badan," jawab Gwen beralasan.
"Apa kamu sedang sakit? Sudah minum obat? Atau mau aku antar ke dokter?" Gwen terkekeh mendengar pertanyaan Revan.
"Aku hanya kelelahan saja, tidak perlu sepanik itu," ucap Gwen.
"Mau aku antar pulang?" tanya Revan.
"Tidak perlu, Kak. Aku bisa pulang sendiri. Lagi pula aku bawa mobil," tolak Gwen dengan halus.
__ADS_1
"Baiklah, kabari kalau ada apa-apa!" perintah Revan yang mencemaskan Gwen. Gwen dan Revan berpisah setelah keluar dari restoran.
"Aku harap kamu tidak menyembunyikan sesuatu dariku, Gwen," gumam Revan seraya menatap kepergian Gwen. Revan masih berharap ada kesempatan untuk menjadi pasangan gadis yang selama lima tahun ini dia jaga.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Revan. "Sampai kapan elo liatin adik gue kaya gitu," seru Zavier. Zavier adalah suami Siena, anak dari istri pertama Ruli.
Revan tersenyum. "Ngapain lo di sini?" tanya Revan.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Sampai kapan kamu akan memendam perasaan kamu?" tanya Zavier.
"Aku sudah sering mengungkapkan perasaanku pada Gwen. Tapi aku tidak seberuntung kamu yang bisa menikahi gadis yang kamu sukai. Gwen belum bisa membuka hatinya untuk laki-laki lain. Entah itu trauma atau dia masih menyimpan cinta pada mantan suaminya."
"Aku pun kaget ketik dia menikah muda hingga dia keguguran. Jalan hidup seseorang tidak ada yang tahu." Revan mengangguk setuju dengan pendapat Zavier.
"Tebak siapa yang gue temui pas wawancara kerja tadi?" tanya Satria pada Aldo.
"Pasti banyak cewek cantik ya yang pakai rok span di atas lutut sampai kelihatan banget pan*tanya?" tebak Aldo. Satria langsung memukul kepala Aldo yang kotor.
"Cuci kepala lo sana pakai sampo mobil! Otak kok isinya bau mesum semua," cibir Satria. Bukannya marah, Aldo malah tertawa mendengar ucapan Satria.
"Habisnya siapa dong? Lo nggak mungkin ketemu Angel kan?" Satria langsung menatap tajam ketika nama orang yang sudah meninggal disebut-sebut oleh Aldo.
__ADS_1
"Atau jangan-jangan elo ketemu mantan istri lo?" Kali ini Aldo yakin karena tidak ada wanita yang sedang dekat dengan Satria.
"Tepat."
"Sumpah demi apa. Jangan-jangan jodoh lo masih berlanjut sama dia," tebak Aldo.
"Gue rasa juga begitu. Padahal gue udah jaga jarak dan janji sama dia buat jalanin hidup masing-masing nyatanya Tuhan malah mempertemukan kamu di tempat kerja yang sama."
"Elo yakin diterima kerja di sana?" tanya Aldo.
"Kalau gue masih berjodoh sama dia, gue pasti dapat panggilan kerja."
Keesokan harinya Gwen masih menunggu panggilan kerja dari perusahaan yang dia lamar. Gwen masih bersantai di taman belakang rumahnya. "Belum ada panggilan ya?" tanya Glen.
"Belum, kamu sendiri mau kerja di mana?" tanya Gwen.
"Ikut mama," jawab Glen sambil mengulum es krim yang sedang dia pegang.
"Dasar anak mama," cibir Gwen.
Tiba-tiba notifikasi di handphonenya masuk. Gwen melebarkan senyum ketika dia mendapat panggilan pekerjaan. "Aku diterima," teriak Gwen sambil berjingkrak. Namun, sesaat kemudian dia teringat Satria.
__ADS_1
'Apa dia juga diterima?' batin Gwen.