
Gwen, Stefy, dan Lusi berada di kamar yang sama. "Ya ampun, ni kamar nggak ada yang lebih gede dikit apa? Tahu gini gue nginap di hotel," keluh Stefy sambil mengusap rambutnya yang basah setelah keramas.
Gwen menoyor kepala Stefy. "Heh, Marfuah nggak usah kebanyakan protes deh. Beresin barang-barang lo yang berantakan itu!" perintah Gwen pada Stefy. Meski menggerutu Stefy tetap melakukannya.
Sesaat kemudian Gwen mengambil sweaternya. "Mo ke mana lu, Gwen?" tanya Stefy.
Gwen melirik Stefy. "Kalau mau ikut, cepat siap-siap!" perintah Gwen pada sahabatnya itu. Stefy pun bergegas mengambil pakaiannya yang ada di koper.
Gwen melirik Lusi yang tengah sibuk dengan handphonenya. "Lusi mau ikut nggak?" tanya Gwen. Lusi sedang membaca berita idol terbarunya. "Eh iya. Ikut, ikut." Sesaat kemudian dia mematikan handphone dan mengambil syal untuk mengikat lehernya agar tidak kedinginan.
Mereka bertiga menuju ke villa yang ditempati Satria. Malam ini belum ada kegiatan. Besok pagi mereka baru diajak berkeliling di sekitar perkebunan teh yang ada di sana.
Malam ini digunakan Gwen untuk menemui kekasihnya. "Mas Satria," panggil Gwen sambil berlari memeluk kekasihnya. Satria membalas pelukan Gwen.
"Sial! Kalau tahu elo bakal pacaran mending gue nyamperin Glen," ucap Stefy sambil melirik Aldo. Aldo pun malas melihat Stefy.
"Eh, siapa dia, Gwen?" tanya Aldo saat melihat Lusi.
"Oh, dia Lusi adiknya Mas Satria. Iya kan?" Gwen meminta dukungan dari pacarnya. Satria hanya tersenyum. Dia masih sulit mengakui Lusi sebagai adiknya.
"Oo, ini yang namanya Lusi?" tanya Aldo sambil tersenyum ke arah Lusi.
"Jangan ganggu dia!" ucap Satria tiba-tiba. Lusi yang mendengar ucapan kakaknya merasa terharu. Dia merasa diperhatikan.
"Elah, galak amat calon kakak ipar," ucap Aldo sambil melirik Stefy. Dia sengaja memanas-manasi mantan pacarnya itu.
"Cih, ngaku-ngaku. Emang Mas Satria mau punya adik ipar kaya elo?" tanya Stefy nyolot.
"Kok elo ngegas sih?" protes Aldo.
"Suka-suka gue dong," balas Stefy.
"Alah, kalau masih cinta akuin aja!" ledek Gwen diiringi tawa. Satria juga ikut tertawa.
__ADS_1
"O, jadi kalian ini pernah pacaran ya?" tanya Lusi dengan polosnya.
"Cih, pacaran sama dia? Nggak pernah," elak Stefy.
"Alah, maksudnya nggak pernah lupa sampai sekarang. Elo belum bisa move on kan dari gue?" tanya Aldo dengan percaya diri. Stefy menjadi geram.
"Udah-udah. Kita bakar jagung aja yuk di belakang!" ajak Satria.
"Mas Satria dapat jagung dari mana?" tanya Gwen.
"Beli dari warga di sekitar sini. Oh iya, Glen nggak ikut?" tanya Satria yang tidak melihat calon adik iparnya itu.
"Nggak usah ajak dia! Glen tuh anaknya nyebelin," kata Gwen.
"Eh, eh, pacarnya nggak terima," sahut Stefy.
"Gue aja yang saudaranya gedeg ama dia." Gwen melempar kulit jagung ke arah Stefy. Melihat tidak ada satupun yang akur, Satria hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Setelah itu dia mendekati Lusi. "Papa apa kabar?" tanya Satria tiba-tiba.
"Kamu jangan GR. Aku cuma mau tahu kabar papa aja," sarkasnya. Lusi tak mengindahkan ucapan Satria. Yang terpenting baginya mengetahui kalau Satria masih peduli dengan sang ayah.
Satria memberikan jagung yang telah dia bakar untuk Gwen. "Terima kasih, Mas." Satria mengangguk sambil tersenyum.
Lusi senang melihat keduanya sampai dia tak sengaja melukai tangannya. Dia menyentuh bara yang panas ketika membakar jagung. Lusi menjerit kesakitan. Aldo yang tanggap langsung meniup jari Lusi. Lusi merasa canggung pada Aldo. Stefy menatap tidak senang saat keduanya berinteraksi.
"Gue ambil obat dulu ya buat Lusi," ucap Stefy. Dia pergi meninggalkan villa itu. Kemudian tanpa sia sadari Aldo mengikutinya. Dengan cepat Aldo menarik tangan Stefy lalu membawa dia ke pelukannya. Stefy hanya terdiam kaku. "Biarkan seperti ini sebentar saja!" pinta Aldo sambil berbisik.
Di saat yang bersamaan Glen datang. Dia mengepalkan tangan ketika melihat Stefy dipeluk oleh Aldo. Glen tidak menegur atau menghajar Aldo karena telah berani memeluk pacarnya melainkan memilih pergi. Ada rasa sakit yang tidak bisa diungkapkan oleh Glen ketika dia dikhianati seperti itu.
Saat itu Stefy juga melihat Glen pergi. Dia ingin menyusul tapi entah kenapa dia tidak bisa meninggalkan Aldo. Masih ada sisa perasaan yang tertinggal setelah putus dari Aldo. Stefy sudah memaafkan perbuatan Aldo yang hendak melecehkan dirinya. Namun, terlepas dari itu sebenarnya dia sayang pada Aldo hanya saja perbuatan Aldo saat itu kitang bisa dia terima.
Sesaat kemudian Stefy mengurai pelukannya. "Mas Aldo, sebaiknya kita jaga jarak. Kita sudah bukan pasangan kekasih lagi," kata Stefy memberi peringatan secara lembut.
__ADS_1
"Tidak bisakah kita kembali seperti dulu?" tanya Aldo seraya memegang kedua telapak tangan Stefy. Stefy menggeleng.
"Mungkin kita tidak berjodoh. Aku yakin suatu saat Mas Aldo akan menemukan pacar yang lebih baik dari pada aku," tolak Stefy.
Setelah itu, Stefy berlari mencari keberadaan Glen. "Ada yang lihat Glen nggak?" tanya Stefy pada salah seorang teman Glen.
"Gue lihat dia di belakang villa tadi, jawab siswi tersebut.
"Oke, thank you." Stefy pun segera menemui Glen. Dia berdiri seorang diri sambil melihat pemandangan malam di atas pegunungan yang ada di sekitar.
Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perut Glen. "Maafkan aku, Glen!" ucap Stefy sambil memeluk Glen dari belakang.
Glen melepas tangan Stefy dan berbalik. "Udah puas pelukan sama cowok lain?" tanya Glen.
"Aku tahu aku salah, tapi kita jangan putus," rengek Stefy. Glen menahan tawa ketika dia mendengar ucapan sang pacar.
"Sudah tahu salah kenapa kamu tidak segera melepas pelukan dia?" tanya Glen geregetan.
Stefy tersenyum dia tahu Glen sedang cemburu padanya. "Aku hanya menyampaikan salam perpisahan kami saja. Waktu itu kami berpisah secara tidak baik. Hari ini aku meminta maaf padanya atas kejadian waktu itu."
"Dia tidak mengajak kamu balikan?" tanya Glen penasaran.
"Ngajak balik sih, tapi aku tolak. Soalnya aku udah punya pacar yang lebih baik dari dia. Lebih tampan, lebih kaya, lebih pinter lagi," puji Stefy.
"Jangan menjilat!"
Tiba-tiba Stefy menatap Glen dengan serius. Kemudian dia mencium bibir Glen secara sekilas. Mata Glen membola ketika mendapatkan ciuman pertama dari seorang gadis. "Kalau dicium mau nggak?" tanya Stefy sambil menatap Glen.
"Kenapa kamu menciumku?" tanya Glen.
"Aku tidak menjilatmu. Tapi aku melakukannya tanpa paksaan. I love you, Glen," ucap Stefy.
Glen tersenyum tipis. Dia rasa dia telah memenangkan hati Stefy. Glen tidak membalas karena malu. Dia memilih memasukkan tangannya ake dalam saku jaket lalu pergi.
__ADS_1
"Loh kok malah pergi gitu aja sih?" Stefy menghentakkan kaki karena kesal ditinggalkan oleh kekasihnya.