
Seminggu semenjak liburan Gwen dan teman-temannya mengikuti ulangan akhir semester. "Gila ya. Soal ulangan matematika bikin gue pengen loncat dari gedung tahu nggak?" ucap Stefy berlebihan.
"Lebay lo," cibir Gwen.
"Kamu nggak belajar ya semalam?" tebak Lusi. Stefy menggelengkan kepala.
"Habis lo. Siap-siap berada di peringkat terakhir angkatan kita," ledek Gwen diiringi tawa mengejek.
"Sialan lo, Gwen. Nyumpahin gue."
"Gue nggak nyumpahin. Gue bicara fakta. Roda pasti berputar, Elo menempati posisi paling belakang mengantikan gue, gue menempati posisi pertama menggantikan Glen," ucap Gwen dengan penuh percaya diri.
Glen menoyor kepala adik kembarnya itu. "Jangan mimpi lo!" sahut Glen.
"Bisa aja kan. Gue udah belajar mati-matian lho," sarkas Gwen.
"Serah lo! Sayang, kita ke kantin yuk!" Glen mengajak pacarnya pergi.
"Pergi lo!" usir Gwen. "Lusi kamu pulang bareng siapa?" tanya Gwen pada adik Satria itu.
"Dijemput," jawab Lusi.
"Oh, ya udah aku juga mau nunggu jemputan aku dulu." Gwen melambaikan tangan pada Lusi. Dia menunggu Satria di depan gerbang sekolah.
Gwen tersenyum ketika melihat motor Satria mendekat ke arahnya. "Lama ya nunggunya?" tanya Satria. Gwen menggeleng.
"Nggak kok. Baru aja keluar," jawab Gwen dengan lembut. Satria memberikan helm pada Gwen. Usai memakai helm dengan sempurna Gwen naik ke atas motor Satria. Namun, Satria tidak jadi melajukan motor ketika seseorang menghadangnya.
Gwen bingung mengenai apa yang sedang terjadi. "Dia siapa, Mas?" tanya Gwen.
"Tidak penting," jawab Satria. Masih tersisa rasa kecewa di dalam hatinya pada sang ayah yang belum pulih.
"Satria, tunggu!" Laki-laki itu memegang kepala motor Satria.
__ADS_1
"Lepaskan, Pa!" Gwen terkejut ketika Satria memanggil laki-laki itu dengan sebutan papa.
Tak jauh dari sana Lusi sedang berjalan mendekat. Langkahnya semakin dipercepat ketika dia melihat sang ayah sedang berseteru dengan anak pertamanya. "Papa," panggil Lusi. Deri menoleh ke arah Lusi sejenak lalu kembali menoleh ke arah Satria.
"Satria, pulanglah!" pinta Deri.
"Untuk apa?" tanya Satria dengan senyum sinis.
"Jangan kurang ajar kamu! Aku masih menjadi orang tua kamu. Apa begini cara kamu menghormati orang tua?"
Gwen turun dari motor dia mendekat ke arah Lusi. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Gwen. Lusi hanya menggedikkan bahu.
"Aku tidak mau bertengkar di sini," tukas Satria. Dia melirik ke arah Gwen tanpa bicara Gwen sudah bisa membaca tatapan Satria. Gadis itu menaiki motor Satria kemudian pergi.
Sepanjang jalan Gwen tidak berani bertanya pada Satria. Tiba-tiba Satria menghentikan motornya di pinggir taman. "Mas, ngapain kita ke sini?" tanya Gwen bingung.
"Aku ingin menenangkan diri. Maukah kamu menemaniku?" tanya Satria. Gwen mengangguk.
Satria duduk lebih dulu di sebuah bangku panjang yang ada di pinggir taman. Gwen merasa haus. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman. "Mas aku beli minum dulu ya?" Gwen meminta izin. Satria mengangguk.
"Katanya mau beli minuman?" tanya Satria.
"Tadinya mau beli es limun tapi pas aku ingat Mas Satria aku jadi membeli es krim."
"Kenapa begitu?" tanya Satria.
"Katanya sih, es krim bisa bikin mood kita jadi baik," ucap Gwen sambil menjilat es krim tersebut.
Satria tersenyum tipis ketika melihat mulut Gwen berantakan. Seketika dia menjilat es krim yang ada di bibir Gwen. Gwen terduduk kaku. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Satria. "Iya, kamu benar. Moodku sudah lebih baik," ucap Satria tanpa dosa.
Gwen langsung memukul lengan Satria. Bukannya marah Satria malah terkekeh. "Dasar pencuri!"
"Kok pencuri?" tanya Satria bingung.
__ADS_1
"Kamu mencuri ciuman pertamaku tanpa ngomong-ngomong dulu."
"Katanya mencuri ya nggak pakai ngomong," balas Satria.
"Au ah gelap." Gwen merajuk dan berbalik badan. Namun, sebenarnya dia ingin menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Kamu ngambek ya, Gwen?" tanya Satria.
"Kelihatannya aku lagi ketawa ya?" jawab Gwen ketus. Satria malah terkekeh. Gwen memang lucu kalau ngambek begitu.
Satria membalik badan kekasihnya. "Gwen, sayang."
'Please, jangan manggil sayang. Aku baper,' gumam Gwen dalam hati.
"Maaf kalau aku mencium kamu. Kalau kamu nggak suka aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Satria sambil mengusap kepala gadis itu. Gwen hanya mengangguk.
'Aku bukannya tidak suka. Aku hanya malu."
Setelah mereka menghabiskan es krim, Satria mengajak Gwen pulang ke rumah. "Makasih ya sudah menghibur aku hari ini," ucap Satria dengan tulus. Sebelah tangannya mengusap-usap telapak tangan Gwen. Gwen mengangguk.
"Itu fungsinya pacar. Mas Satria bisa cerita apa aja ke aku. Aku siap mendengarkan." Satria mengangguk menanggapi ucapan Gwen.
"Ya sudah masuk!" perintah Satria pada kekasihnya. Gwen melambaikan tangan.
Satria pergi meninggalkan area rumah kekasihnya. Ketika dia dalam perjalanan pulang, Satria menemui seseorang yang membutuhkan bantuannya. Satria pun menghentikan motor di samping mobil yang mogok itu.
"Perlu bantuan?" tanya Satria dengan sopan.
"Eh, mobil aku mogok, tapi aku tidak tahu masalahnya," jawan seorang wanita cantik yang berambut ikal tersebut.
Satria kemudian melihat bagian mesin dan memperbaikinya. Tak butuh waktu lama, mobil wanita itu bisa menyala kembali. "Terima kasih banyak." Dia mengambil beberapa lembar uang untuk membayar Satria.
Satria menolak secara halus. "Saya menolong dengan ikhlas."
__ADS_1
Gadis itu memasukkan kembali uangnya. Saat dia ingin berkenalan dengan Satria, Satria malah lebih dulu pergi. "Suatu hari nanti aku harap kita bisa bertemu untuk kedua kali," gumam gadis itu.