Terjerat Pesona Driver Tampan

Terjerat Pesona Driver Tampan
Menolong Gwen


__ADS_3

Satria mendengar suara motor terjatuh. Dia pun menghentikan motornya saat menoleh ke belakang. Ternyata motor Kevin yang jatuh. Satria langsung putar balik.


Saat itu ban motor Kevin tiba-tiba meledak. Karena tidak bisa menjaga keseimbangan, Kevin terjatuh. "Aw," teriak Kevin sambil memegangi kakinya yang terjepit badan motor.


Satria turun dari motornya lalu membantu Kevin mengangkat motor itu agar kaki Kevin tidak terjepit lagi. Setelah itu Satria menelepon Aldo. "Tolongin! Kevin jatuh," ucap Satria.


"Ngapain lo tolongin gue?" bentak Kevin. Satria hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak menjawab omongan Kevin.


"Elo seneng karena gue kalah?" racau Kevin. Satria malas menanggapi.


Tak lama kemudian bantuan datang. "Antar dia ke rumah sakit!" perintah Satria. Kemudian dia menaiki motornya.


"Sat, elo mau ke mana?" tanya Aldo.


"Pulang," jawab Satria singkat.


"Gwen udah tahu kalau elo balapan sama Kevin," ucap Aldo. Satria melepas kembali helmnya.


'Pantas saja aku tadi lihat cewek mirip sama Gwen. Ternyata itu memang dia,' batin Satria.


"Apa dia datang ke sini?" tanya Satria pada Aldo. Aldo menggeleng. "Aku melarang dia datang," jawabnya.


Setelah itu Satria buru-buru memakai helm itu. Dia mengendarai motornya berharap dia bisa mengejar Gwen.


Di tempat lain, taksi yang ditumpangi Gwen tiba-tiba berhenti di tempat sepi. "Lho rumah saya kan masih jauh, Pak," ucap Gwen.


Laki-laki itu menoleh dan menodongkan pisau kecil ke arah Gwen. Gwen jadi terkejut. Dia menendang tangan laki-laki itu dengan kakinya, pisaunya lun terjatuh. Gadis itu hendak keluar tapi pintu mobil terkunci. "Sialan!" umpat Gwen. Dia tidak melihat seorang pun yang lewat di sana.


Laki-laki itu, menangkap tubuh Gwen. Tangannya yang besar membuat Gwen kesulitan melawan. Apalagi tempat yang sempit sehingga Gwen susah menghindar.

__ADS_1


Tak lama kemudian kaca depan taksi itu dipecah oleh seseorang. Gwen dan laki-laki itu sama kagetnya. Saat Gwen mengamati orang yang memecah kaca tersebut, dia tersenyum. "Mas Satria tolong, to..."


Gwen pingsan akibat dipukul di bagian tengkuk lehernya. Setelah itu, sopir taksi gadungan tersebut keluar dari mobil. "Breng*sek!" umpat pria bertubuh besar itu.


Satria berlari ke arahnya lalu melayangkan tendangan di bagian dada pria itu. Namun, pria itu tak bergerak sedikit pun. Dia terlalu kuat.


Satria memukul perut pria itu kemudian memukul pipinya. Namun, pria itu membalas. Dengan sekali pukulan, Satria tersungkur ke tanah. Darah segar mengalir dari ujung bibir lelaki tampan itu.


Satria pun berpikir untuk menyerang bagian vitalnya, tapi kaki Satria dijepit oleh kedua kaki pria jahat tersebut. Tak berhenti sampai di situ, Satria menendang wajah laki-laki itu dengan kakinya yang lain. Lalu dia menjambak rambutnya dan membanting lelaki tersebut. Barulah laki-laki itu bisa dikalahkan.


Satria mengikat tangan lawannya dengan tali yang tergeletak di tanah. "Diamlah kamu di sini sampai ada orang yang menemukanmu."


Usai membereskan lawannya, dia melihat keadaan Gwen. Saat melihat Gwen pingsan, Satria langsung memanggil bantuan. "Kirim mobil segera!" ucapnya dengan nada dingin.


Tak butuh waktu lama, sebuah mobil hitam tang dikendarai oleh dua orang laki-laki berjas berhenti di samping Satria. "Bawa kami ke rumah sakit terdekat! Kamu! Bawa motorku!" Satria memberikan kunci motornya pada salah satu di antara laki-laki berjas hitam itu. Mereka menuju ke klinik kecil yang tak jauh dari lokasi mereka saat ini.


"Tidak ada luka serius, hanya pingsan biasa," ujar dokter yang memeriksa keadaan Gwen.


"Bagaimana perasaan kamu sekarang?" tanya Satria dengan lembut.


"Aku tidak apa-apa. Hanya kepalaku saja yang masih pusing," jawab Gwen.


"Beristirahatlah di sini!" perintah Satria. Namun, Gwen menolak.


"Aku ingin pulang saja," jawab Gwen. Satria mengangguk. Dia memesan taksi agar Gwen tidak curiga. Ketika berada di luar klinik, Satria memberi kode pada orang-orangnya agar tidak mendekat.


Gwen merasa beruntung karena ada Satria yang datang menolong. Satria merangkul bahu Gwen dengan posesif. Gwen merasa menjadi gadis yang paling bahagia sedunia. Wajahnya bahkan sampai memerah karena malu. Satria belum pernah memperlakukannya seperti ini.


Sesampainya di depan rumah Gwen, Satria ikut turun mengantarkan kekasihnya. Ruli dan Kristal menunggu di luar rumah. "Selamat malam, Om, Tante," sapa Satria dengan sopan.

__ADS_1


"Gwen, kamu dari mana?" tanya ayahnya.


"Aku...aku..." Gwen bingung harus mulai dari mana. Tidak mungkin dia bilang kalau dia menonton balap motor liar.


"Om, boleh saya masuk? Saya akan jelaskan kenapa Gwen bisa pulang selarut ini." Ruli melihat Satria sebagai pemuda yang bertanggung jawab. Akhirnya dia pun mempersilahkan Satria masuk ke dalam rumahnya.


Satria tidak mengatakan kalau Gwen datang ke arena balap. Dia hanya bilang kalau Gwen mengalami musibah ketika di jalan.


"Makanya, Gwen. Kalau pergi jangan sendirian. Mama tuh khawatir sama kamu. Meskipun kamu bisa bela diri, tapi kamu ini perempuan. Tenaga laki-laki lebih besar dari pada perempuan." Mama Kristal menasehati anaknya panjang lebar.


"Ya habis, aku nyari sopir nggak nemu," ucap Gwen sambil melirik Satria. Satria tersenyum.


"Aku janji jika kamu menghubungiku aku akan segera datang," ucap Satria. Gwen tersenyum senang.


"Jangan mendahului. Kalian ini bukankah tidak ada hubungan apa-apa? Kenapa seperti orang berpacaran?" sindir Ruli.


"Papa kaya nggak pernah muda aja. Emangnya dulu papa nggak pernah bucin sama mama?" tanya Gwen iseng.


"Ck, papamu tipe bis galak, Gwen. Masa mama ditindas waktu kerja di restorannya dulu," ucap mama Kristal yang melakukan curhat terselubung. Semua orang jadi tertawa kecuali Ruli. Dia meras malu saat masa lalunya diungkit.


"Jangan ceritakan yang buruk-buruk, Ma," elak Ruli.


"Sebaiknya saya pulang dulu," pamit Satria.


"Mas Satria sekali lagi terima kasih," ucap Gwen dengan tulus. Satria tersenyum pada Gwen. Ruli bisa melihat cinta di antara keduanya. Namun, dia tidak bisa mengizinkan Gwen pacaran terlalu jauh karena putrinya itu masih sekolah.


Ruli berencana menyekolahkan Gwen ke luar negeri walau dia lulus tantangan nanti. Ruli memang sudah memikirkan keinginannya sejak dulu. Padahal Glen lah yang sangat ingin ke luar negeri, tapi Ruli malah melarangnya.


Jadi apa alasan Ruli melarang Glen ke luar negeri? Kenapa dia malah ingin mengirim Gwen?

__ADS_1


...***...


Biasakan like setelah membaca ya 😘


__ADS_2