Terjerat Pesona Driver Tampan

Terjerat Pesona Driver Tampan
Pacar untuk Glen


__ADS_3

Glen baru saja pulang dari sekolah. Dia pulang terlambat karena hari ini ada ekstrakurikuler di sekolahnya. Glen mengerutkan keningnya ketika melihat Gwen becanda dengan seorang laki-laki berkacamata.


Glen curiga karena sebelumnya dia tidak pernah melihat laki-laki itu bersama Gwen. "Gwen," panggil Glen.


Gwen seketika menghentikan tawanya. Gadis itu ketar-ketir ketika melihat Glen. Gwen takut kalau saudaranya itu akan mengenali penyamaran Satria. "Dia siapa?" tanya Glen. Gwen menghembuskan nafas lega.


"Ini Pak Bagus, guru les privat gue. Lo siap-siap aja gue kalahin," ucap Gwen dengan angkuh.


"Cih, coba saja kalau bisa," tantang Glen. Setelah itu dia meninggalkan Gwen bersama guru lesnya itu.


"Fhuf, jantung aku mau copot," ucap Gwen setengah berbisik.


"Memangnya kenapa?" tanya Satria.


"Glen itu nggak bodoh. Aku takut dia mengenali Mas Satria," jawabnya dengan lirih.


"Gwen, ini minuman buat Pak Bagus." Kristal tiba-tiba datang membawa dua buah gelas yang dia taruh di atas nampan.


"Makasih, Ma," ucap Gwen sambil tersenyum. Satria mengangguk sopan.


"Saya tinggal dulu ya. Pak Bagus tolong ajari anak saya sampai bisa! Kalau dia tidak mau mengikuti perintah Pak Bagus, pukul saja!" gurau Mama Kristal.


"Mama," protes Gwen. Satria terkekeh.


"Baik, Bu," jawab Satria.


Setelah kepergian Kristal, Satria mulai mengajari Gwen belajar dengan serius. "Ck, susah amat sih," keluh Gwen.


Satria memukul kepala Gwen dengan pulpen yang dia pegang di tangannya. "Fokus! Jawab gini aja nggak becus," cibir Satria.


"Sumpah, ini tuh soal tersulit yang pernah aku kerjakan," ungkap Gwen.


"Lebay," cibir Satria. "Gini caranya." Satria mulai menerangkan langkah demi langkah cara mengerjakan soal matematika yang sulit itu. Namun, bukannya menyimak Gwen malah memperhatikan wajah Satria.


"Walau pakai kacamata tetep ganteng," puji Gwen tanpa sadar. Satria yang mendengar ucapan Gwen langsung melirik.


"Kalau kamu nggak serius, kita berhenti saja," ancam Satria. Gwen pun beralih mode serius.


Setelah dua jam, Satria mengakhiri pengajarannya. "Aku akan datang seminggu tiga kali," ucap Satria.


"Yagh ko seminggu tiga kali sih. Tiap hari ajalah biar aku cepet pinter," rengek Gwen.

__ADS_1


"Nggak bisa. Nanti ususku jadi panjang kalau ngajarin kamu tiap hari. Lagian aku juga harus kerja, Gwen. Tiga kali seminggu aja ya," bujuk Satria. Dia mengacak rambut Gwen dengan sayang. Hati Gwen berbunga-bunga mendapatkan perlakuan manis dari Satria. Dia mengangguk malu-malu.


Satria mengulas senyum tipis. Kemudian dia berpamitan pada orang tua Gwen. "Terima kasih, Pak Bagus. Semoga Gwen ada peningkatan nilai di sekolahnya," ucap Kristal.


Satria mengangguk. "Saya akan jamin dia bisa naik ke tiga besar semester ini," ucap Satria berjanji pada orang tua Gwen. Gwen merasa terharu karena Satria berusaha keras untuk dirinya.


"Saya pamit." Satria mengambil helm lalu mengendarai motor matic miliknya. Tapi kali ini dia bertukar motor dengan temannya yang berprofesi sebagai driver ojek online.


Sesampainya di rumah kontrakan Satria, dia melepas semua atribut yang dia kenakan. "Gila, gue udah gila. Karena seorang cewek gue mau dandan kaya gini." Satria menertawakan dirinya sendiri.


Sementara Gwen yang baru naik ke lantai atas dihadang oleh Glen ketika akan masuk ke dalam kamarnya. "Katakan dengan jujur! Apa betul dia guru les privat kamu?" tanya Glen. Gwen memalingkan wajahnya.


"Jawab!" bentak Glen.


"Mama," teriak Gwen ingin mengadu pada ibunya tapi Glen menutup mulut saudara kembarnya itu dengan tangan.


"Berisik! Bisa diam nggak?" Gwen manggut-manggut. Glen melepas tangannya.


"Ayo bilang jujur! Dia bukan guru les kamu kan?" tanya Glen. Gwen mengangguk lalu menangkupkan kedua telapak tangannya pada Glen.


"Please, Glen. Jangan sampai orang tua kita tahu."


"Tahu apa?" tanya Gerald, adik Gwen dan Glen.


"Jangan ganggu dia! Ger, masuk kamar!" perintah Glen pada Gerald.


"Minggir ah! Gue mau lewat." Gwen menabrak bahu Glen.


"Gwen, gue kasih kesempatan buat lo ngalahin gue. Awas aja kalau lo nggak bisa ngalahin gue, gue bongkar kedok Satria," ancam Glen yang berkata di depan kamar Gwen.


"Kurang a*sem lo jadi abang. Gimana ya buat bungkam mulutnya Glen. Gue harus cari cara nih." Gwen mondar-mandir di dalam kamarnya.


"Ah, gue minta bantuan Stefy aja," ucap Gwen.


Keesokan harinya, ketika di sekolah Gwen meminta solusi pada Stefy. "Ayo dong Stef kasih saran buat bungkam mulutnya Glen!" rengek Gwen.


"Abang lo itu kurang kasih sayang, Gwen."


"Apa lo kata? Hello, di rumah irang tua gue tuh selalu manjain kita tahu," ucap Gwen sewot.


"Manjain elo aja kali, bukan Glen. Kita cariin pacar buat Glen," usul Stefy.

__ADS_1


"Lo kira gampang? Glen itu perfeksionis. Semua harus sempurna di mata dia. Cari cewek kaya gitu di mana?" Gwen dan Stefy sama-sama menyangga dagu.


"Ah, nyerah gue." Stefy angkat tangan.


"Lo mau jadi sukarelawan, Stef?" tanya Gwen.


"Sinting lo. Gue masih waras. Ogah banget gue pacaran sama abang lo yang kaya es kutub itu. Lagian Aldo mau gue kemanain?" Gwen meluruhkan bahu ketika mendengar penolakan Stefy.


"Ah, kantin yuk! Laper gue," ajak Stefy. Gwen memiliki ide. Dia sengaja lewat di depan lapangan basket karena dia tahu jam segini Glen biasanya latihan basket.


Ketika Gwen melihat Glen melempar bola, Gwen mendorong Stefy. "Sorry Stef," ucap Gwen lirih.


"Awas!" teriak Glen. Bola itu mengenai Stefy hingga gadis itu terjatuh.


"Aduh kepala gue kenapa pusing begini ya?" Stefy tiba-tiba ambruk. Untung saja Glen menangkap tubuh Stefy dengan sigap. Glen pun menggendong Stefy hingga ke UKS.


Gwen mengikuti sahabatnya itu. "Glen, tanggung jawab lo!"


"Iya, gue tanggung jawab," ucap Glen. Gwen menahan tawa. Rencananya berhasil. Dia berharap setelah ini Glen bisa tertarik pada Stefy.


Glen menunggui sampai Stefy sadar. "Aduh kepala gue," ucap Stefy ketika merasakan sakit kepala saat dia baru siuman.


"Tiduran aja kalau masih sakit," ucap Glen yang telah berganti seragam OSIS. Stefy terkejut.


"Kok elo ada di sini?" tanya Stefy.


"Gue udah melempar bola ke arah lo sampai pingsan. Ayo gue antar pulang!" Glen bahkan sudah mengambilkan tas milik Stefy.


"Hah, gue mau masuk kelas aja," tolak Stefy.


"Lo mau ngapain?" tanya Glen.


"Belajarlah," jawab Stefy.


Glen menghela nafas. "Jam pelajaran udah selesai dari tadi," jawab Glen.


'Hah? Jadi sedari tadi Glen nungguin gue di sini?' batin Stefy merasa terharu.


"Stefy," panggil Glen. Seketika lamunan gadis itu buyar.


"Mau nggak elo jadi pacar gue?"

__ADS_1


Wah Glen beneran nembak Stefy? Kok tiba-tiba sih? Apa nggak ngerasa kalau ada yang aneh?


__ADS_2