Terjerat Pesona Driver Tampan

Terjerat Pesona Driver Tampan
Masih terpisah


__ADS_3

Gwen sudah berpisah hampir sebulan dengan Satria. Gwen tidak tahu kalau Satria mengalami kecelakaan ketika menuju ke rumah sakit. Sedangkan Satria tidak bisa menghubungi Gwen karena handphonenya hilang sejak kejadian kecelakaan yang menimpanya. Risa tidak memberikan Satria handphone baru.


Risa memang sengaja agar dia dan Satria bisa selalu bersama. "Ma, aku butuh handphone baru untuk meminta izin pada pihak kampus."


"Kamu tenang saja. Mama sudah hubungi rektornya. Kamu tidak usah pikirkan hal lain. Fokus saja pada kesembuhanmu." Satria menghela nafas.


Dia begitu merindukan Gwen, tapi memberi tahu mamanya kalau mereka sudah menikah juga tidak bisa dia lakukan. Satria malah takut kalau mamanya akan memisahkannya dengan sang pujaan hati. Tak ada pilihan lain selain menunggu hingga kakinya sembuh lalu bicara dengan Gwen.


Sementara Gwen mengalami depresi setelah dia kehilangan anaknya dan suaminya tiba-tiba menghilang. Orang tua Gwen selalu mendatangkan psikiater ke rumah setiap seminggu sekali.


"Hallo, apa kabar Gwen?" tanya Revan, psikiater yang merawat Gwen. Dia adalah teman sekolah Zavier, kakak ipar Gwen.


"Baik," jawab Gwen tanpa ekspresi. Semenjak mengalami nasib buruk, Gwen sangat pendiam dan tidak pernah tersenyum. Hal itulah yang membuat Ruli dan Kristal khawatir.


"Irit banget jawabnya. Sekolah kamu bagaimana Gwen?" tanya Revan. Gwen kembali sekolah setelah seminggu izin tidak masuk ke sekolah karena mengalami keguguran.


"Baik," jawab Gwen. Revan menggelengkan kepalanya. Setelah itu dia bangun dan melapor pada orang tua Gwen.


"Gwen masih trauma berat, Tante. Dia belum bisa melupakan kejadian saat dia mengalami musibah. Lantas apa ada kabar dari suaminya?" tanya Revan. Ruli menggeleng.


"Tidak. Awas saja kalau suatu hari aku bertemu lagi dengan laki-laki itu." Ruli mengepalkan tangannya kuat kuat.


Revan menoleh pada Gwen. Dia merasa kasihan melihat gadis belia itu tak memiliki semangat hidup. "Om kapan-kapan saya ingin mengajak Gwen ke suatu tempat untuk pemulihannya."


Ruli mengangguk. "Terserah kamu asal untuk kebaikan dia." Ruli pun berpikir mendatangi keluarga Satria.

__ADS_1


"Deri, keluar kamu!" teriak Ruli dari luar rumahnya.


Deri yang sedang makan malam bersama mengerutkan kening ketika mendengar teriakan seseorang. Deri pun keluar untuk melihatnya. "Ruli, tidak bisakah kamu bertamu dengan cara yang sopan?" tanya Deri geram. Ruli datang malam-malam mengganggu ketenangan keluarga mereka.


"Di mana kamu sembunyikan Satria?" tanya Ruli dengan suara lantang.


"Menyembunyikan bagaimana maksud kamu? Apa kamu tidak pernah tahu kalau Satria sudah bertahun-tahun tidak pulang ke rumah?"


Ruli tidak mudah percaya pada omongan Deri. "Jangan berbohong! Suruh dia keluar! Kenapa dia tega meninggalkan Gwen di saat dia mengalami nasib buruk? Apa dia setega itu menyakiti putriku. Gara-gara dia Gwen jadi depresi."


"Omong kosong apa yang kamu katakan?" Deri tidak mengerti ucapan Ruli sama sekali.


"Gwen sudah menikah dengan Satria." Ucapan Ruli membuat jantung Deri berdenyut.


"Bagaimana bisa?" Deri benar-benar tidak percaya.


"Aku benar-benar tidak tahu." Ruli menghela nafas kasar. "Tolong beri tahu pada kami kalau bertemu Satria dia. Gwen membutuhkan dia," ucap Ruli dengan nada melemah. Deri mengangguk.


Ruli pulang dengan perasaan kecewa. Entah bagaimana caranya menemukan Satria. Tidak ada yang tahu kalau Satria sedang dikurung oleh ibunya sendiri.


Setibanya di rumah Ruli menatap nanar pada putrinya. "Orang tua Satria tidak tahu di mana dia berada," ucap Ruli saat Kristal mendekat.


"Kamu yakin dia tidak berbokong?" tanya Kristal memastikan.


"Jika terus begini hubungan suami istri antara Satria dan Gwen tidak bisa dilanjutkan lagi."

__ADS_1


"Papa, jangan bicara seperti itu. Dia putrimu."


"Malangnya nasib putriku yang hanya dinikahi dengan mahar tiga ratus ribu." Ruli benar-benar merasa sedih. Dia mengira akan ada laki-laki kaya yang akan menikahi putrinya dengan mahar lebih dari mahar yang dia berikan pada istrinya dulu. Nyatanya Satria yang menikahi Gwen secara mendadak hanya memberikan mahar seadanya karena tidak adanya persiapan.


Di tempat lain, Kevin datang menjenguk Satria. "Ngapain lo ke sini?" tanya Satria dengan ketus.


"Sat, ada temannya kok nggak disuruh masih?"


"Dia mau langsung pulang, Ma." Satria masih belum bisa memaafkan Kevin atas kejadian di masa lalu.


"Elo masih belum bisa maafin gue?" tanya Kevin.


"Berisik lo! Sebaiknya elo bawa gue pergi dari sini," bisik Satria.


"Sat elo jangan kabur-kaburan lagi. Kasian nyokap lo sendirian di rumah."


"Ko lo peduli banget. Lagipula ada ART," jawab Satria ketus.


"Sampai kapan elo kaya gini? Sampai kapan kita musuhan?" tanya Kevin.


"Nggak usah lebay deh lo. Pinjam handphone lo!" tangan Satria menengadah. Lalu Kevin memberikan ponselnya. Satia mwncoba menghubungi nomor telepon Gwen tapi sepertinya tidak aktif.


"Apa dia ganti nomor?" gumam Satria.


"Elo hubungi siapa, Sat?" tanya Kevin. Satria tak menjawab. Dia berlalu begitu saja meninggalkan Kevin.

__ADS_1


"Kapan lo maafin gue, Sat?" gumam Kevin lirih sambil menatap punggung Satria yang berjalan menggunakan tongkat.


__ADS_2