Terjerat Pesona Driver Tampan

Terjerat Pesona Driver Tampan
Talak


__ADS_3

Hari ini Satria mengumpulkan keberanian untuk menemui Gwen di rumahnya. Dia tahu ini tidak akan mudah. "Assalamualaikum...."


"Dasar breng*sek!" umpat Glen yang langsung melayangkan pukulan ke arah Satria malam itu. Semua orang keluar melihat kegaduhan yang terjadi.


"Kak Glen, cukup!" Gwen melerai perkelahian antara Satria dan Glen.


"Jangan halangi aku! Aku ingin menghabisi laki-laki breng*sek yang telah mencampakkan kamu." Glen sungguh emosi melihat suami adiknya itu.


"Glen, tenangkan dirimu!" perintah sang ayah.


"Tapi, Pa..." Belum selesai Glen bicara seketika dia bungkam ketika Ruli menatap tajam ke arah Glen.


"Ke mana saja kamu selama ini?" tanya Ruli dengan nada dingin pada Satria.


"Pa, aku..." Belum sempat Satriaq menjawab Gwen menyela lebih dulu.


"Aku tidak mau lagi melihat Mas Satria." Ucapan Gwen membuat Satia terkejut.


"Gwen, dengarkan penjelasan aku dulu!" bujuk Satria.


"Terserah Mas Satria mau beralasan apa. Aku tidak peduli karena Mas juga tidak peduli ketika aku kehilangan anak kita." Lagi-lagi Satria terkejut dengan penuturan Gwen.


"Apa? Kamu keguguran? Bagaimana bisa? Kamu tidak menjaga anak kita dengan baik." Satria malah menyalahkan Gwen. Gwen menitikkan air mata. Apa yang dikatakan Satria itu memang benar.


Andai saja saat itu dia tidak mengikuti kegiatan olahraga pasti anak yang ada di dalam perutnya masih bertahan. Kristal mendekati putrinya.


"Satria, bisakah kamu datang lagi setelah Gwen agak tenang?" pinta Kristal dengan baik-baik.


"Tunggu! Hubungan Gwen dan Satria harus ada kejelasan. Kita tidak bisa menyembunyikan pernikahan mereka selamanya. Satria, sebaiknya kamu relakan Gwen. Dia masih belum fokus mengurusi rumah tangga."

__ADS_1


Satria tersenyum kecut. "Aku pun berpikir sama, Pa. Sebaiknya kita berpisah, Gwen. Aku rasa aku tidak bisa bersama orang yang telah membunuh anakku. Aruna Gwen Olivia aku talak kamu saat ini juga."


Tangisan Gwen semakin menjadi. Tega-teganya Satria menceraikan dirinya. Glen pun tidak tahan lagi. Dia memukuli Satria habis-habisan. Satria sama sekali tidak melawan. "Pukul aku sampai mati. Kalian dengan egois tidak ingin mendengar penjelasanku. Aku pun tidak akan memaksa kalian tapi aku juga tidak mau peduli lagi pada wanita sepertimu, Gwen. Dasar pembunuh!" tuduh Satria.


Gwen berteriak histeris. "Telepon Revan!" perintah Ruli. Setelah itu dia menggendong Gwen masuk ke dalam rumah. Glen dan Kristal ikut masuk meninggalkan Satria yang sedang terkapar setelah dipukuli oleh Glen.


Tak butuh waktu lama, Revan datang. Saat itu dia berpapasan dengan Satria. Revan hanya melirik sekilas kemudian dia masuk ke dalam rumah. Sementara Satria pergi dari kediaman mantan istrinya.


Revan mencari keberadaan Gwen. "Revan, Gwen berteriak histeris," lapor Ruli.


"Dia kenapa?" tanya Revan.


"Nanti saja aku cerita. Sekarang tolong Gwen dulu!" perintah Ruli pada Revan. Revan pun menyuntikkan obat penenang untuk Gwen. Setelah itu dia tertidur. Semua orang menjadi lega melihat wajah damai Gwen meski masih sisa air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Revan menatap kasian pada Gwen. Di usia semuda itu dia mengalami depresi berat.


"Ma, Glen, ayo kita keluar! Biarkan Gwen beristirahat!" perintah Ruli pada istri dan putranya.


"Tenang, Tan. Efek obatnya bisa bertahan lama. Tante bisa beristirahat dulu hingga Gwen bangun," sela Revan. Kristal pun menuruti ucapan Revan.


Ruli mengajak Revan duduk di ruang tamu untuk berbicara. "Jadi, apa yang terjadi pada Gwen, Om? Aku melihat laki-laki yang wajahnya babak belur di depan rumah. Siapa dia?" tanya Revan.


Ruli menghela nafas. "Dia Satria, mantan suami Gwen," jawab Ruli.


"Mantan suami?" tanya Revan bingung. Setahunya Gwen belum bercerai, hanya saja beberapa waktu lalu suaminya hilang entah ke mana.


Ruli menghela nafas berat. "Satria telah menalam Gwen. Hari ini dia datang untuk membuat keributan." Revan langsung mengepalkan tangan ketika mendengar penuturan Ruli.


"Sungguh breng*sek. Baru saja muncul tapi dia malah datang dengan kata-kata yang tak seharusnya dia ucapkan. Apa dia sama sekali tidak meminta maaf pada Gwen?" tanya Revan. Ruli menggeleng.


"Dia malah menyalahkan Gwen karena kehilangan anaknya," jawab Ruli. Darah Revan jadi mendidih mendengar jawaban Ruli. Dia tidak menyangka suami Gwen sangat biadab.

__ADS_1


"Sudah sepantasnya Gwen berpisah dari orang seperti itu. Kalau boleh saya sarankan sebaiknya kita pindahkan Gwen dari sini. Jika dia berada di sini dia akan ingat kenangan lama yang membuat hatinya sakit. Jika terus menerus seperti itu, dia bisa depresi berat dan resiko terburuk dia bisa gila, Om."


Ruli mengerutkan kening. Kalau dipikir-pikir perkataan Revan ada benarnya juga. "Baiklah, akan aku pikirkan nanti. Revan, terima kasih sudah banyak membantu Gwen." Ruli menepuk bahu Revan dua kali.


"Jangan sungkan, Om. Aku akan selalu membantu sebisaku," jawab Revan.


Sementara itu Satria pulang ke kosannya dulu. Di sana dia mengetuk pintu. Saat itu Aldo yang membukakan pintu. Aldo terkejut ketika melihat wajah Satria babak belur. "Bro, siapa yang ngelakui ini?" tanya Aldo geram. Dia tidak terima sahabatnya dibikin babak belur seperti itu. Namun, belum sampai menjawab tubuh Satria ambruk. Beruntung Aldo dengan sigap menangkapnya.


Aldo pun membaringkan tubuh Satria di atas kasur. Dia menaikkan kedua kaki Satria dan melepas sepatunya. Lado segera mengambil obat untuk mengobati luka Satria. "Kok bisa kaya gini sih, Bro. Siapa yang melakukan ini?" tanya Aldo sambil membersihkan luka Satria lalu mengoleskan salep di bagian yang memar.


"Gue dipukuli Glen," jawab Satria. Aldo menghentikan aktivitasna sejenak.


"Hah, ada masalah apa?" tanya Aldo. Satria pun menceritakan dari awal dia mengalami kecelakaan hingga kejadian hari ini saat dia telah mengucapkan kata talak pada istrinya.


"Satahu gue kalau talak diucapkan saat sedang emosi itu tidak sah, Bro."


"Sotoy lu," cibir Satria.


"Sat, elo itu hanya emosi. Gwen mana mungkin membunuh anak kalian. Jujur gue kecewa saat elo nikah nggak ngomong-ngomong sama gue. Elo anggap apa gue ini?"


"Sorry, Do. Keluarga Gwen tidak mau orang luar mengetahui pernikahan kami karena Gwen masih sekolah," jawab Satria.


"Ada benarnya juga. Hah, hidup Lo ruwet Sat kek benang kusut. Setiap hari ada saja masalah yang elo hadapi. Elo juga ngilang nggak ngabari gue." Aldo merajuk.


"Kenapa elo rindu sama gue?" ledek Satria. Aldo pura-pura muntah ketika mendengar ledekan temannya itu.


"Mulai hari ini gue tinggal lagi di sini, Do. Gue pengen fokus sama kuliah gue lalu setelah itu mengembangkan bisnis bengkel motor gue. Gue nggak mau balik ke rumah orang tua gue lagi."


"Apapun keputusan lo gue dukung, Sat. Gue harap hidup lo lebih baik setelah hari ini," ucap Aldo mendoakan temannya itu

__ADS_1


__ADS_2