
"Kak aku takut," ucap Gwen kecil saat itu. Glen pun memeluknya. "Bersabarlah papa pasti akan menemukan kita." Glen kecil mencoba menenangkan adiknya.
Saat ini mereka berada di sebuah gedung tua yang kotor dan gelap. Tak lama kemudian terdengar suara langkah orang dewasa. Lampu pun seketika menyala.
"Periksa kondisi mereka. Kita tidak bisa menjual organ tubuhnya jika mereka sakit," ucap laki-laki yang merupakan pemimpin kelompok tersebut.
Lalu seseorang membawa anak laki-laki yang tangannya diikat di belakang punggung. "Bagaimana dengan yang ini, Bos?" tanya orang yang sedang berdiri di belakang anak itu.
"Dia akan kita eksekusi besok," jawab pria itu kemudian menyesap rokoknya.
Anak remaja itu di dorong hingga jatuh tersungkur tepat di samping Gwen. Setelah itu orang-orang yang berniat jahat itu mematikan lampu dan meninggalkan gudang kosong yang tak terpakai itu.
"Kak, kamu berdarah," ucap Gwen kecil. Dia masih bisa melihat wajah anak laki-laki itu meski dengan penerangan yang minim karena cahaya hanya masuk lewat sela-sela atap yang berlubang.
Anak remaja itu tersenyum. "Kalian bisa melepaskan ikatanku?" tanya Satria. Ya, anak laki-laki itu adalah Satria. Dia juga menjadi korban penculikan anak saat itu. Orang-orang jahat tersebut berniat menjual organ tubuh anak-anak yang mereka culik.
Glen mencari apa saja yang bisa membuat tali itu terpotong. Kemudian dia menemukan pecahan kaca tak jauh dari sana. Glen mencoba menggosok tali tambang yang mengikat tangan Satria. Glen kecil berusaha sekuat tenaga hingga tangannya berdarah. "Jangan teruskan lagi!" Gwen melarang saudara kembarnya.
"Kenapa?" tanya Satria. Gwen tak menjawab, dia mengambil pecahan kaca itu dan menggantikan Glen. Gwen mulai menggosok tali itu hingga akhirnya terputus.
"Terima kasih," ucap Satria. Lalu dia melihat tangan Glen. "Ayo pergi! Kita cari bantuan."
Satria mengajak keduanya mencari jalan keluar. Akhirnya mereka memanjat jendela yang lumayan tinggi. Satria menjadi penopang Glen dan Gwen. Glen keluar lebih dulu. Gwen naik setelah Glen berhasil keluar. Ketika Satria menopang Gwen, kakinya tak sengaja menginjak pecahan beling yang lupa disingkirkan.
"Kak kamu tidak apa-apa?" tanya Gwen.
"Cepatlah keluar! Saudaramu menunggu," ujar Satria. Gwen tidak tega ketika melihat kaki Satria mengeluarkan banyak darah.
"Bagaimana denganmu?" tanya Gwen. Melihat kaki Satria yang parah tidak mungkin untuknya melarikan diri.
"Aku akan menyusul." Gwen malah menangis. Satria memberikan sebuah kalung berbandul bintang yang sering dia pakai.
"Carilah bantuan untuk menolongku! Meski bukan sekarang, kita akan bertemu lagi suatu hari nanti. Kalung ini akan mengingatkan aku padamu," ucap Satria. Gwen mengangguk paham.
__ADS_1
"Gwen, Gwen," panggil Glen. Suara Glen membuyarkan lamunan Gwen. Dia menyimpan kembali kalung berbandul bintang itu ke dalam kotak lacinya.
"Gue nggak budeg," cibir Gwen menatap tajam ke arah saudara kembarnya.
"Gue mau nongkrong sama anak-anak. Elo mau keluar nggak?" tanya Glen.
"Nggak, gue mau keluar bareng Mas Satria." Sesaat kemudian Gwen berubah pikiran. "Eh, ikut! Tapi aku berangkat bareng Mas Satria ya."
"Serah lo!" jawab Glen cuek.
Ketika tiba di tempat tongkrongan yang Glen beri tahu, dia terkejut saat Gwen mengajak Stefy dan juga pacarnya. "Emang ini ajang pamer pacar ya?" sindir Glen.
"Elah, ada yang ngenes karena nggak punya pacar, Say," ledek Stefy. Glen menatap tajam ke arah Stefy.
"Gwen, nggak asyik lo. Harusnya datang sendiri aja. Gue kan mau pdkt sama elo," ucap salah seorang teman Glen.
"Sorry ya, gue udah ada gandengan yang lebih ganteng dan lebih keren dari pada elo," tolak Gwen.
Tiba-tiba Satria menarik pinggang Gwen. Gadis itu tersentak kaget. "Apa yang bisa membuat kamu percaya kalau kami pacaran?" tanya Satria pada pemuda itu. Namun, matanya malah mengarah kepada Gwen. Sesaat kemudian Satria tak sengaja melihat kalung yang dipakai oleh Gwen.
'Kalung itu....' batin Satria. Dia ingin memegang kalung tersebut sayangnya Glen menganggu.
Glen tidak tahan saudaranya diperlakukan seperti itu. Posis mereka terlalu dekat. "Cukup! Jangan macam-macam dengan adikku!" ucap Glen dengan posesif. Satria tersenyum tipis.
Tiba-tiba listrik di kafe tempat tongkrongan mereka padam. Tak lama kemudian terdengar suara tangisan. "Gue kok jadi merinding ya," ucap salah seorang teman Glen.
Glen menyadari kalau itu suara Gwen. Gwen memang fobia kegelapan. Dia akan secara reflek menangis saat berada di dalam tempat gelap. Tangisannya itu baru berhenti jika lampu menyala kembali.
Satria yang menyadari kekasihnya menangis langsung membawa dia keluar. Satria yakin Gwen adalah anak kecil yang berada di gudang kosong wakti itu. Gwen memiliki trauma pada kegelapan sehingga Satria menyimpulkan ini ada hubungannya dengan peristiwa yang pernah mereka alami.
Satria mengangkat Gwen dan membawanya keluar. Dia berjalan di dalam kegelapan mencari keberadaan pintu keluar kafe tersebut. Setelah menemukannya, Satria mendudukkan Gwen di bangku yang ada di pinggir jalan. Gwen lebih tenang saat lampu menyala kembali.
Satria menyodorkan tisu kering pada Gwen. Gadis itu menerimanya. "Apakah sudah lebih baik?" tanya Satria. Gwen mengangguk.
__ADS_1
"Kenapa kamu menangis?" tanya Satria dengan lembut.
"Aku pernah mengalami kejadian yang membuat aku trauma berada di kegelapan," akunya. Satria semakin yakin dengan firasatnya.
"Aku juga pernah mengalami kejadian yang sama," sahut Satria. Gwen mendongak. Ucapannya seolah mengisyaratkan kalau dirinya sedang bersedih.
Gwen merangkul lengan Satria. "Mau nggak sama-sama melupakan kejadian buruk di masa lalu?" tanya Gwen.
"Tidak, jika aku lupa maka aku tidak akan bertemu dengannya hari ini," jawab Satria.
Gwen terkejut dengan jawaban Satria. Dia memukul bahu pujaan hatinya. "Jadi Mas Satria selingkuh?" tuduh Gwen. Satria tertawa mendengar penuturan Gwen. Dia mencubit hidung mancung gadis keturunan bule itu.
"Selingkuh sama siapa? Justru aku ketemu cinta pertamaku." Gwen menatap mata Satria dengan berkaca-kaca. Satria mengerti isi pikiran Gwen. Dia pasti bertanya-tanya dalam hatinya.
Satria memegang kalung Gwen. "Kamu ingat siapa yang memberikan kalung ini?" tanya Satria. Gwen mengerutkan keningnya.
"Ini dari seseorang yang pernah diculik denganku saat itu." Gwen meneteskan air mata.
"Kenapa kamu menangis lagi?" tanya Satria.
"Aku tidak tahu saat ini bagaimana nasibnya. Entah dia masih hidup atau sudah ...." Satria menutup mulut Gwen dengan satu jarinya.
"Aku masih hidup, Gwen," ucap Satria. Gwen masih berusaha mencerna omongan Satria.
"Aku adalah orang yang memberi kamu kalung ini," terang laki-laki tampan itu. Gwen menangis sejadi-jadinya. Lalu dia memeluk Satria dengan erat.
"Syukurlah, syukurlah kamu selamat. Aku merasa bersalah karena tidak bisa menolong kamu waktu itu," ucap Gwen di sela-sela tangisannya. Satria membalas pelukan Gwen.
"Ternyata kamu jodohku," ucap Satria di telinga Gwen. Gwen menjadi malu-malu.
...***...
Jangan lupa like setelah membaca ya
__ADS_1