
Gwen tidak menyangka dia akan menikah dalam usia belia. Hari ini Satria resmi menikahi Gwen. "Bagaimana ini? Aku belum siap malam pertama," gumam Gwen.
Hanya orang tua Gwen dan saudaranya, Glen serta Sienna yang datang ke pernikahan Satria dan Gwen. Zavier, yang merupakan suami Sienna dilarang oleh Ruli menceritakan perihal pernikahan Satria dan Gwen.
Ruli sendiri yang akan mengumumkan pada keluarga besarnya jika mereka telah resmi menikah setelah Gwen lulus sekolah.
"Satria, aku memang mengizinkan kamu menikahi Gwen, tapi sementara ini kalian tidak boleh berhubungan badan. Ingat, Gwen masih sekolah. Bersabarlah hingga dia lulus ujian nanti." Ruli memberi peringatan pada menantunya.
"Apa sebaiknya Satria dan Gwen pisah kamar saja, Pa?" usul Kristal. Jujur saja dia pun tidak mau punya cucu dalam waktu dekat.
"Satria, kamu tidak apa-apa?" tanya Ruli. Satria mengangguk. "Saya juga ingin Gwen melanjutkan pendidikannya." Gwen seketika memeluk laki-laki yang baru saja resmi menjadi suaminya itu.
Kristal dan Ruli hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Glen, papa minta sama kamu untuk merahasiakan pernikahan Gwen dan Satria." Glen mengangguk paham.
"Baik, Pa."
"Untuk saat ini, Gwen tetap tidur di kamar kamu. Sementara Satria akan tidur di kamar lain. Nanti mama akan perintahkan bibi untuk membersihkan kamar tamu yang kosong," ucap Kristal. Satria mengangguk setuju.
Tak lama kemudian Aldo menelepon. "Bro, lo di mana? Kenapa dua hari nggak balik?" tanya Aldo melalui sambungan telepon.
__ADS_1
"Gue balik ke rumah gue," jawab Satria berbohong.
"Ya udah gue cuma mau tahu kabar lo aja. Baik-baik lo di sana! Jangan kabur lagi," pesan Aldo pada sahabatnya itu. Setelah itu dia mengakhiri panggilan teleponnya.
"Satria, kamar kamu sudah siap," ucap Mama Kristal memberi tahu.
"Baik, Tante," jawab Satria.
"Kok tante sih? Mama dong!" Satria menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Ya sudah saya masuk dulu tante, eh mama." Kristal mengangguk dan tersenyum.
Sementara itu, Gwen hanya membolak-balikkan badan karena merasa risau. Sejak tadi dia tersenyum karena sudah menyandang status istri Satria. "Aku istrinya Mas Satria," gumam Gwen dengan wajah memerah.
Keesokan harinya Satria ikut makan bersama di kediaman Ruli. "Satria bagaimana tidurmu tadi malam?" tanya Kristal berbasa-basi pada menantunya itu.
"Nenyak, Ma."
"Hari ini kamu ada kuliah?" tanya Ruli. Satria mengangguk.
__ADS_1
"Bagus. Gwen biar bareng sama kakaknya saja," ucap Ruli.
Gwen langsung cemberut. Dia ingin diantar oleh suaminya tapi sang ayah tidak memperbolehkan. "Papa, kenapa sih ngelarang Mas Satria nganter aku ke sekolah? Biasanya juga dia yang nganter aku," protes Gwen.
"Kamu nggak dengar tadi suamimu akan kuliah pagi ini. Betul kan Satria?" Ruli meminta dukungan menantunya. Satria tersenyum.
"Ya sudah Glen ajak adikmu berangkat!" perintah Kristal pada anaknya.
"Oke, Ma."
Gwen berjalan lebih dulu. Kemudian Glen mengikuti adiknya. Setelah itu Satria keluar rumah. "Satria tunggu!" panggil Kristal.
"Ada apa, Ma?" tanya Satria. Kristal memberikan kunci mobil.
"Pakailah mobil mama. Lagi pula motormu rusak nanti kamu akan telat ke kampus."
"Tidak usah, Ma. Aku bisa order ojek online saja," tolak Satria yang merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa. Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Jadi, jangan sungkan," ucap Kristal dengan lembut. Dia merasa terharu. Bahkan mamanya tidak pernah memperlakukan dia selembut itu.
__ADS_1
'Aku bersyukur atas kejadian kemarin. Orang bilang setiap kejadian ada hikmahnya dan aku sedang menikmati hikmah kejadian kemaren,' gumam Satria di dalam hati.