
Satria benar-benar menyibukkan diri dengan kegiatan kuliah. Saat ini dia mengikuti KKN di sebuah desa yang kurang terkena dampak pembangunan. Dia menjadi salah satu penggerak untuk membuat desa itu maju.
Sementara Gwen, pindah ke luar negeri. Revan mengajaknya sekolah sekaligus menyembuhkan penyakit depresi akibat banyak peristiwa yang menimpanya. Revan selalu ada kapan pun Gwen butuhkan.
Gwen melanjutkan kuliah di sana. Semakin hari kondisinya semakin membaik. Revan berhasil menyembuhkan penyakitnya. Kini Gwen menjadi pribadi yang berbeda. Jika dulu dia banyak tertawa karena memiliki karakter yang periang sebelum mengalami depresi. Sekarang Gwen menjadi pribadi yang kalem, humble dan penuh kehangatan.
"Gwen, kamu sudah siap menyambut kelulusan kamu hari ini?" tanya Revan padanya. Setelah empat tahun menempuh kuliah di luar negeri, dia mengikuti wisuda pada hari ini.
Gwen tinggal seorang diri di sebuah rumah yang dia sewa. Namun, Revan selalu menjaganya. Kapanpun Gwen menelepon Revan akan datang secepat kilat. Walaupun dia sibuk dengan pasiennya, Revan akan memprioritaskan Gwen.
Hari ini dia sengaja datang lebih awal menjemput Gwen. Orang tua Gwen tidak bisa datang karena sama-sama sibuk. Jadi Revan adalah wali Gwen saat ini.
"Ayo, Kak. Kita berangkat sekarang!" ajak Gwen yang sudah berdandan rapi dengan mengenakan kebaya khas Indonesia.
"Dari mana kamu punya ide untuk mengenakan kebaya, Gwen?" tanya Revan.
"Apa tidak cocok untukku? Padahal aku sengaja memesan dari perancang khusus dari Indonesia."
Revan menggeleng. "Kamu terlalu cantik. Aku khawatir banyak lelaki hidung belang yang menginginkanmu."
"Jangan mulai. Sebaiknya kita berangkat sekarang. Aku tidak mau telat di acara bersejarah dalam hidupku," ucap Gwen pada Revan seraya mengalungkan tangannya di lengan psikiaternya itu.
Revan mengantarkan Gwen hingga ke gedung tempat dia diwisuda. Revan menunggu Gwen keluar seraya memegang bunga besar di tangannya. "Kak Revan,"panggil Gwen. Revan yang tampan dengan tampilannya yang berjas lengkap itu menoleh ke arah Gwen.
"Happy graduation, My Gwen," ucap Revan.
"Ralat! Gwen aja." Gwen menerima bunga itu lalu menciumnya.
"Kapan sih kamu menerima cintaku Gwen?" tanya Revan yang tiba-tiba berubah mode serius.
Gwen tersenyum. "Ku sudah menganggap kakak seperti keluargaku. Bagaimana bisa aku menjadikanmu pacar? Urusan hati sangat rumit. Aku tidak mau hubunganku dan Kak Revan berubah tidak baik."
Revan menghela nafas. Sudah bertahun-tahun dia menunggu Gwen, tapi Gwen tak kunjung membalas perasaannya. "Ya sudah, terserah kamu saja," ucap Revan pasrah.
__ADS_1
'Apapun permintaan kamu asalkan aku bisa selalu dekat denganmu, My Gwen,' batin Revan.
"Oh iya, Kak. Aku akan kembali ke Indonesia untuk menghadiri wisuda Glen." Ucaoan Gwen membuat Revan terkejut.
"Apa kamu serius, Gwen? Kamu tidak takut kalau luka lamamu kembali terbuka?" tanya Revan ragu. Gwen menggeleng.
"Jangan pikirkan sesuatu yang belum terjadi, Kak. Aku hanya ingin bertemu keluargaku setelah bertahun-tahun tidak bertemu mereka secara langsung."
Bukan karena masalah biaya, tapi orang tua dan saudaranya sangat sibuk dengan kegiatan mereka hingga liburan pun digunakan untuk bekerja. Gwen hanya berhubungan melalui sambungan video di udara.
"Baiklah, aku juga akan kembali bersama kamu," ucap Revan sangat yakin dengan keputusannya. Dia tidak mau Gwen tersakiti lagi. Lukanya bisa saja kembali terkoyak apabila bertemu dengan mantan suaminya.
Gwen baru ingat kalau stastunya janda. Hal itulah yang membuat dirinya tidak percaya diri sata Revan menyatakan cinta dan meminta dirinya menerima Revan. Gwen takut Revan kecewa padanya setelah menikah nanti.
Gwen dan Revan mempersiapkan kepulangannya. Tak lupa gadis itu mengabari keluarganya tapi dia minta merahasiakan kepulangannya pada Glen. Gwen ingin memberikan surprise pada saudara kembarnya itu.
***
Sementara itu di negeri yang berbeda, seseorang yang mengenakan seragam kerjanya sedang mengajari anak magang di bengkel miliknya. "Kamu harus pasang kabel ini di bagian ini," ucap Satria mengintruksi anak magang tersebut.
"Sat," panggil Aldo.
"Eh, tumben ke sini?" tanya Satria pada Aldo. Aldo sudah bekerja sebagai cleaning servis di sebuah perusahaan. Dia yang hanya lulusan SMA tidak bisa banyak memilih pekerjaan yang dia mau. Aldo sadar kalau hidup butuh uang, jadi seperti saran Satria, Aldo menjalani segalany dengan ikhlas.
"Lho gimana sih? Hari ini lo lupa kalau Lusi wisuda?" tanya Aldo pada Satria. Satria menepuk jidatnya.
"Terus elo ngapain di sini? Nggak kerja?" tanya Satria heran.
"Gue mau iku lho di acara kampus Lusi. Sekalian tebar pesona sama daun muda," ucap Aldo sambil menaik turunkan alisnya yang tebal. Satria hanya mencibir.
Sebelum dia tiba di kampus, Satria membeli sebuah buket bunga lili kesukaannya. "Kok lili sih Sat?" protes Aldo.
"Lusi suka bunga warna putih," jawab Satria.
__ADS_1
"Tapi kan..." Aldo hendak protes tapi Satria keburu menarik tanganny agar menerima bunga yang dia beli.
"Bawain! Jangan sampai hancur!" ancam Satria.
"Beres, Bos."
Satria dan Aldo menaiki motor yang sama. Mereka memang lebih menyukai naik motor ketimbang mobil. Satria memiliki mobil yang dibeli dari hasil keringatnya sendiri. Namun, dia jarang menggunakannya.
Ketika sampai di kampus rupanya acara wisuda sudah selesai. Lusi sedang berfoto bersama teman-temannya sebelum mereka berpisah. "Gue akan kangen lo, Lus," ucap Steffy yang kuliah di tempat yang sama dengan Lusi.
"Honey," panggil Glen yang sedang menghampiri kekasihnya. Hubungan Glen dan Steffy memang masih baik. Namun, tak jarang mereka putus nyambung.
"Hi," balas Steffy. Dia mencium pipi Glen saat laki-laki itu mendekat.
"Udah lulus nih, kapan kalian meresmikan hubungan kalian?" tanya Lusi. Glen dan Steffy saling pandang.
Belum sempat Glen menjawab dia mendengar suara yang sendang memanggil namanya. "Kak Glen." Semua orang menatap ke arah sumber suara.
Satria yang saat itu sedang berjalan menghampiri adiknya tiba-tiba menghentikan langkah. "Ada apa, Sat?" tanya Aldo saat melihat wajah Satria menegang.
"Gwen," ucapnya lirih. Aldo masih bisa mendengar nama yang diucapkan oleh Satria. Dia pun menoleh dan betapa terkejutnya dia melihat Gwen. Wajahnya tidak berubah sama sekali. Masih imut dan semakin cantik.
"Selamat ya, Kak Glen." Gwen langsung memeluk Glen dengan erat. Di belakang Gwen terdapat Revan yang sedari tadi berjalan mengikutinya.
"Kapan kamu pulang? Kenapa tidak mengabariku?" tanya Glen.
"Aku juga baru ada rencana pagi ini untuk kembali setelah aku lulus," jawab Gwen.
Satria dan Aldo masih menunggu hingga Gwen pergi. Namun, dia menunggu tiga puluh menit lamanya. Tiba-tiba Lusi memanggilnya. "Kak Satria." Jantung Gwen tiba-tiba berdebar kencang ketika Lusi menghampiri kakaknya tapi menghiraukan Gwen ketika dia lewat di depannya.
"Gwen, kamu tidak apa-apa?" tanya Revan. Dia melihat wajah Gwen mulai memucat.
"Aku ingin pulang, Kak," pinta Gwen pada Revan. Laki-laki itu sudah paham kondisinya begitu juga dengan Glen dan Steffy. Steffy sudah tahu apa yang menimpa Gwen hingga dia harus pindah ke luar negeri. Gwen dan Revan melewati Satria. Satria menyadari kalau Gwen pura-pura tidak melihatnya. Satria menyapa lebih dulu.
__ADS_1
"Long time no see, Gwen," ucap Satria.