Terjerat Pesona Driver Tampan

Terjerat Pesona Driver Tampan
Sayang


__ADS_3

Gwen dipaksa oleh ibunya untuk memakai dress tang super ketat. "Mama bener-bener dagh. Gue kelihatan tua banget pakai beginian," keluh Gwen menatap gaun yang terpakai di badannya. Gaun yang dia pakai memiliki ekor yang panjang menjuntai ke belakang.


Ketik dia berjalan seseorang menginjak gaunnya. Gwen pun tampak kesal. Namun, bukan Gwen jika gadis itu tidak panjang akal. Gwen pergi ke kamar mandi. Dia sempat meminjam gunting pada bagian dapur di hotel berbintang itu.


Gwen memotong gaunnya yang panjang menjadi sependek lutut. "Nah ini baru enak dilihat," ucap Gwen ketika melihat tampilan dirinya di cermin. Sesaat kemudian Gwen membuang sisa potongan kain itu di tempat sampah.


Semua orang memandang ke arah Gwen. Namun, bukan dia yang menjadi pusat perhatian melainkan laki-laki yang berjalan di belakang Gwen. Gwen masih belum menyadari hingga ketika dia hampir saja jatuh, sebuah tangan menangkapnya. Gwen menoleh dan dia terkejut. "Mas Satria," panggil Gwen disambut dengan senyum lebar Satria.


Satria membantunya berdiri. Gwen melihat tampilan Satria yang berbeda dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Mas, kamu menyusul aku ke sini?" tanya Gwen. Satria mengangguk.


"Aku kira kamu akan mengajakku ke sini, tapi sampai sore hari kamu tidak mengirim pesan untukku untuk menemani kamu ke acara pertunangan sepupumu. Jadi aku berinisiatif datang," jawab Satria. Gwen jadi merasa bersalah.


"Mas Satria tahu dari mana kalau aku akan ke acara pertunangan sepupuku?" tanya Gwen.


"Dari mama kamu," jawab Satria.


"Mama?" tanya Gwen tidak jelas.


"Iya, mama kamu yang memberi tahu aku. Dia juga membelikan jas ini untukku," kata Satria dengan jujur. Gwen tersenyum lebar. Dia melingkarkan tangannya ke lengan Satria.


"Ayo! Kita cari tempat duduk." Satria mengangguk.


Ketik Gwen dan Satria baru berjalan beberapa langkah, Glen menghadang mereka. "Dari mana kamu dapat jas itu? Kenapa sama persis denganku?" tanya Glen cemburu.


"Dari mama kamu," jawab Satria apa adanya. Glen menghela nafas. Dia sudah menduganya. Setelah itu dia pergi mencari ibunya.


"Ma, kenapa mama membelikan Satria jas yang sama denganku?" protes Glen.


"Apa? Satria sudah datang?" tanya Kristal. Glen menunjuk ke arah Satria dan Gwen yang sedang duduk dengan dagunya.


Kristal pun menghampiri Satria. "Satria," panggil Kristal. Satria berdiri.


"Apa kabar, Tante?" sapa pemuda itu dengan ramah.


"Baik. Maaf ya, Tante malah mengajak Gwen datang ke acara ini lebih dulu."


Satria tersenyum. "Tidak apa-apa, Tante. Maaf kalau saya terlalu berani datang seorang diri ke acara keluarga kalian." Satria merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa. Bebas, siapa saja boleh datang," jawab Kristal. "Ya sudah nikmati dulu makanannya!"


"Baik, Tante."


Kemudian acara pertunangan sepupu Gwen pun berlangsung. "Salut sama Kak Zavier sama Kak Siena. Mereka itu udah putus nyambung tapi berakhir happy ending," terang Gwen.

__ADS_1


Saat Gwen berbicara Satria menatap wajahnya dengan lama. "Mas lihatin apa sih?" tanya Gwen.


"Lihat kamu," goda Satria. Wajah Gwen jadi memerah karena malu.


"Oh iya, besok aku ada tanding karate, Mas Satria mau ikut nonton nggak?" tanya Gwen.


"Jam berapa?" tanya Satria.


"Jam sembilan pagi sih mulainya, tapi aku belum tahu sampai jam berapa," jawab Gwen.


"Aku usahakan ya, aku ada kuliah pagi, kalau sudah selesai pasti aku akan nonton," ucap Satria. Gwen mengangguk paham.


Setelah acara usai, Gwen minta izin orang tuanya untuk diantar pulang oleh Satria. "Nggak usah macem-macem, Gwen." Ayah Gwen melarangnya.


"Ck, papa. Sekali ini aja, Pa," rengek Gwen.


"Tiap hari kalian udah bareng masih kurang?" ledek sang ayah.


"Pelit banget," gerutu Gwen.


"Sebaiknya kamu pulang saja dengan orang tua kamu," ucap Satria dengan lembut sambil mengacak rambut Gwen sayang.


Setelah itu, Satria pulang lebih dulu menggunakan motor maticnya. Dia memang selalu apa adanya. Walau dia anak orang kaya, tapi Satria tidak pernah pamer dengan kekayaan orang tuanya.


Keesokan harinya Gwen bersiap mengunakan seragam karate miliknya. "Semangat Gwen, huu...." teriak Stefy yang begitu heboh menyaksikan pertandingan yang akan diikuti oleh sahabatnya itu.


Lusi juga berada di sana. "Stef, kamu punya nomor Mas Satria nggak?" tanya Lusi.


"Loh, bukannya elo adiknya?"


"Iya, tapi kami tidak tinggal serumah. Bagi nomor Mas Satria dong! Aku mau rekam pertandingan Gwen lalu aku kirim ke handphonenya," pinta Lusi. Stefy pun memberi nomor telepon Satria meski tidak ikhlas.


"Makasih, Stef," ucap Lusi. Stefy hanya berdehem menjawab ucapan Lusi.


Sementara itu di kampus Satria sedang fokus kuliah. Dia mematikan handphone selama mengikuti kuliah. Sekitar jam sebelas, kuliah Satria baru selesai. Dia menyalakan handphonenya. Banyak pesan yang masuk ke ponsel Satria.


Dia baru ingat kalau Gwen hari ini ada pertandingan. Satria berlari ke parkiran motor. "Sat, woi gue mau nebeng," panggil Nano.


"Nggak bisa gue sibuk," tolak Satria.


Satria mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Dia harus sampai di stadion tempat Gwen mengikuti pertandingan sebelum dia terlambat menyaksikan kekasihnya berlaga.


Tak butuh waktu lama, Satria sampai di lokasi pertandingan. Orang-orang penuh sesak memenuhi stadion. Satria mencari celah agar dia bisa melihat Gwen bertanding. Rupanya hari itu tidak hanya cabang olahraga karate, tapi seluruh cabang olahraga tingkat SMA dipertandingkan di sana.

__ADS_1


Gwen sedang tegang karena dia masuk tiga besar. Sebentar lagi dia akan menghadapi lawannya dari SMA lain. Konon katanya dia sudah menjuarai banyak turnamen.


"Gwen, elo harus semangat!" ucap Lusi memberi dukungan.


"Semangat gue belum datang," ucap Gwen setengah mewek.


"Gwen," panggil Satria. Gwen berdiri lalu berlari ke pelukan Satria.


"Mas Satria kenapa baru datang?" Gwen menangis di pelukan Satria.


"Maaf, kuliah aku baru selesai." Satria melepas pelukan Gwen. "Kamu harus menang!" Gwen mengangguk.


"Mau aku ajari sedikit trik untuk menang?" tanya Satria. Gwen mengangguk antusias. Stefy dan Lusi membiarkan keduanya menyendiri.


"Mereka tuh serasi ya," ucap Lusi menatap pasangan muda itu.


"Iya, serasi banget. By the way sesama calon iparnya Gwen mulai saat ini kita berdamai. Asalkan kamu nggak deket-deket sama Glen," ucap Stefy.


"Iya, aku janji, Stef. Kak Glen hanya milik kamu," jawab Lusi. Stefy tersenyum senang.


"Ngomong-ngomong di mana Kak Glen?" tanya Lusi.


"Iya, dia kok belum menyusul sampai sekarang ya?" Stefy pun bertanya-tanya.


Sesaat kemudian Gwen maju ke atas panggung untuk mengikuti pertandingan di babak terakhir. Satria telah mengajari banyak trik yang bisa membuat Gwen menang.


Gadis itu mengatur nafas kemudian dia memasang kuda-kuda. Ketika bertanding rupanya lawan Gwen main curang dengan main kekerasan. Gwen pun dibanting di ronde awal. Stefy dan Lusi berteriak histeris. Gwen menatap Satria. Satria memberikan dukungan dalam diam. Dia percaya Gwen bisa melewatinya.


Ketika ronde kedua, lawannya itu mencoba memakai trik yang sama. Namun, Gwen dapat membacanya sehingga dia bisa menghindari serangan tersebut. Kemudian Gwen membalas tapi dia tidak menggunakan jurus yang melanggar aturan. Dia menyerang lawannya sesuai ajaran Satria.


Setelah bertanding sengit pada akhirnya Gwen lah yang memenangkan pertandingan. Wasit mengangkat tangan Gwen tinggi-tinggi. Setelah itu Satria menghampiri kekasihnya.


Gwen memeluk Satria dengan erat. Dia sangat bahagia karena bisa pulang dengan membawa piala. Satria yang ikut senang pun membalas pelukan kekasihnya. "Selamat ya, sayang."


Gwen melepas pelukannya. Ini kali pertama Satria mengucapkan kata 'sayang'. "Apa? Aku nggak dengar," ucap Gwen pura-pura.


Satria tersenyum. "Selamat ya, Sayang," bisik Satria di telinga Gwen. Jantung Gwen jadi berdebar mendengar ucapan manis Satria.


"A...kalian bikin iri orang saja," ucap Lusi.


"Ho'o. Glen mana pernah bilang sayang," ucap Stefy menambahi.


...***...

__ADS_1


Udah senin aja, bagi-bagi VOTE ya, makasih buat pembaca yang udah mengikuti sampai bab ini, sehat-sehat ya kalian.


__ADS_2