
Setelah dua hari dirawat di rumah sakit Gwen diperbolehkan pulang. Teman-temannya datang ke rumah sepulang sekolah.
"Rencananya mau ngapain aja liburan ini?" tanya Stefy.
"Aku pengen menghabiskan waktu untuk ikut les memasak," jawab Lusi.
"Kalau gue pengen nyusul bokap nyokap ke LA," ungkap Stefy.
"Ehem," Glen berdehem. Stefy pun menyadarinya. "Eh aku nggak bermaksud meninggalkan kamu kok, Beb," ucap Stefy. Semua orang terkekeh melihat pasangan itu.
"Kalau kamu mau ngapain, Gwen?" tanya Lusi.
Gwen menggedikkan bahu. "Oh iya, OSIS mau ngadain bakti sosial kalian pada ikut nggak?" tanya Glen.
"Ngapain aja, Kak?" tanya Lusi. Di antara semua orang dia yang paling sopan ketika berbicara dengan orang lain.
"Jadi rencananya. Kita mau ngumpulin baju-baju bekas, bagi-bagi sembako sama ngasih sumbangan uang di daerah yang terkena bencana banjir," terang Glen.
"Aku nggak usah ikutan ya, Yang," rengek Stefy.
"Aku ikut, Kak. Kebetulan baju-baju bekas aku banyak, kira-kira boleh nggak aku nyumbang baju," usul Lusi. Glen tersenyum ketika melihat temannya antusias.
"Boleh dong," jawab Glen. Stefy menjadi cemburu.
"Aku mau nyumbang uang aja. Uangku berlebih boleh nggak sayang?" tanya Stefy sambil melirik Lusi.
"Boleh dong."
"Alah uang bokap lo, bukan uang lo," sahut Gwen.
"Sama aja," balas Stefy.
"Beda," jawab Gwen.
"Sama." Stefy tidak mau mengalah.
"Beda." Gwen tetap kekeh.
"Sudah-sudah kalian ini masih saja seperti anak kecil," tegur Glen.
"Ngomong-ngomong Mas Satria ke mana Lus?" tanya Gwen. Lusi menggedikkan bahu.
"Dia tidak tinggal bersama kami jadi aku tidak tahu apa kegiatannya saat ini, Gwen."
__ADS_1
"Nggak nyangka Satria ternyata anak orang kaya." Stefy melirik ke arah Gwen.
"Hebat kan Mas Satriaku. Udah ganteng nggak sombong lagi," jawab Gwen membanggakan pacarnya.
"Aku juga nggak nyangka Mas Satria rela jadi driver ojek online. Dia memiliki sifat keras kepala seperti papa. Dia tidak mau mendapatkan bantuan dari orang lain," ujar Lusi dengan wajah sendu.
"Aku akan bantu bujuk Mas Satria agar dia mau kembali ke rumahmu," ucap Gwen pada Lusi.
Di tempat lain, Satria yang sedang memperbaiki motor langganannya kedatangan Vera, istri ke dua dari ayahnya sekaligus ibunda Lusi. "Untuk apa Tante datang ke sini?" tanya Satria.
"Aku hanya ingin mengingatkan kamu supaya menjauhi Lusi. Aku tidak mau dia terpengaruh dan menjadi anak pembangkang seperti dirimu," ucap Vera.
Satria tersenyum tipis. "Anda tahu siapa yang membuat saya seperti ini?" tanya Satria. Dia ingin Vera menebaknya. "Anda, karena ulah Anda keluarga saya berantakan," tuduh Satria.
"Kamu lancang sekali menuduh saya," ucap Vera dengan nada tinggi.
"Apa selama ini Anda tidak merasa bersalah pada saya? Karena Andalah yang menyebabkan orang tua saya hampir bercerai. Karena Andalah ayah saya mengabaikan saya. Anda sadar tidak?" bentak Satria.
"Satria cukup!" Deri tiba-tiba datang ke bengkel mobil Satria.
"Jangan kurang ajar kamu! Dia juga istri papa. Jadi secara tidak langsung dia juga ibu sambung kamu," ucap Deri penuh penekanan.
"Aku dan dia tidak ada hubungan darah jadi dia bukan keluargaku. Papa bawa saja dia pergi. Di sini tidak menerima pelakor."
Deri menampar wajah Satria dengan keras. "Dasar anak tidak tahu budi pekerti."
"Papa pikir apa dulu papa pernah mengajari aku budi pekerti?" Satria tidak mau kalah. Dia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Namun, Deri tiba-tiba merasakan nyeri di bagian dadanya.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Vera. Deri sudah terjatuh. Satria tidak bisa tinggal diam. Mau tidak mau dia menolongnya.
Satria mengabari Risa. Satria menelepon ibunya beberapa kali tapi dia tidak mengangkat teleponnya. Satria lun mengirim pesan singkat pada wanita itu.
"Dari siapa, Yang?" tanya seorang laki-laki yang sedang berada di dalam kamar hotel bersama Risa.
"Tidak penting," jawab Risa setelah membaca pesan tersebut. "Bagaimana kalau kita lanjutkan permainan kita?" tanya Risa sambil berbisik di telinga laki-laki itu.
Laki-laki yang baru beberapa bulan menjadi supirnya itu kini naik kelas menjadi teman ranjang Risa. Ketika Deri terus bersama Vera dan menggantung hubungannya dengan Risa, wanita itu mencari pelampiasan hasratnya.
Boy adalah sopir dengan tampilan yang menawan. Tubuhnya yang atletis membuat Risa tertarik mencicipinya. Awalnya Boy menolak, tapi karena kesulitan ekonomi dia menerima tawaran Risa.
Boy pun tak pernah menolak jika Risa sedang ingin melakukannya. Mereka juga tak jarang melakukannya di rumah jika sedang tidak ada orang.
"Lakukan lebih, Boy!" bisik Risa ketika tangan Boy mulai menyusuri bagian tubuhnya. Sementara Risa menikmati percintaannya dengan sopir pribadinya, Satria merasa cemas karena dia merasa bersalah. Akibat bertengkar dengan ayahnya, Deri menjadi terkena serangan jantung.
__ADS_1
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada suamiku, aku akan menuntut kamu," ancam Vera.
Tak lama kemudian Lusi datang ke rumah sakit. "Mas Satria, bagaimana keadaan papa?" tanya Lusi yang tengah berderai air mata.
"Masih di dalam," jawab Satria.
Vera merasa cemburu karena anaknya tidak menghampirinya lebih dulu. "Lusi," panggil Vera.
"Bunda." Lusi pergi ke pelukan ibunya.
"Doakan papamu agar cepat sembuh," ucap Vera. Lusi mengangguk.
Satria memilih pergi karena merasa sang ayah sudah ada yang menjaganya. "Mas Satria mau ke mana?" tanya Lusi.
"Aku ingin kembali ke bengkel. Kamu jaga papa!" pesan Satria sebelum pergi. Lusi mengangguk pelan.
Bukannya ke bengkel Satria menghentikan motornya di sebuah jembatan yang sepi. Dia duduk di atas motor dan menyulut rokok. Saat ini tidak ada yang lebih baik baginya selain merokok.
"Satria," panggil Aldo. Dia menghentikan motornya ketika melihat Satria berada di pinggir jembatan.
"Gila lo mau bunuh diri?" tuduh Aldo. Satria menoyor kepala sahabatnya itu.
"Gue bukan orang be*go yang mau mati konyol," sarkas Satria.
Aldo tertawa. "Kirain elo mau pergi gara-gara ditinggal Gwen ke luar negeri."
"Sok tahu. Gwen nggak jadi ke luar negeri," ucap Satria memberi tahu.
"Hah? Yang bener? Hoak kali," sangkal Aldo. Satria ingin meninju mulut pemuda itu.
"Ayahnya sendiri yang membatalkan keberangkatan Gwen setelah dia mencoba bunuh diri," ungkap Satria menjelaskan pada Aldo.
"Hah? Gue baru denger. Terus gimana kabarnya Gwen? Oh apa gara-gara dia mati elo jadi frustasi kaya gini?"
"Eh elo bener-bener ya. Kalau bukan teman gue. Udah gue cemplungin lo ke sungai," ancam Satria.
"Elah sadis amat," cibir Aldo. "Terus elo ngapain di sini?" tanya Aldo.
"Gue habis bertengkar sama bokap gue di bengkel sampai dia masuk rumah sakit gara-gara gue." Aldo menjadi tahu alasan Satria merokok. Satria hanya merokok jika sedang stres berat. Aldo sangat hafal kebiasaan teman satu kontrakannya itu.
"Terus apa rencana lo? Kenapa tidak menemani bokap lo di rumah sakit?" tanya Aldo.
"Dia sudah ada yang jaga," jawab Satria. "Gue mau minta maaf setelah dia sadar." Satria menyesap rokok yang ada di tangannya lalu mengeluarkan asap melalui mulut.
__ADS_1