
Stefy memberi tahu pada Aldo kalau Gwen sedang mencari guru privat untuk membantunya belajar. "Wah, pas banget. Satria bisa masuk jadi guru privat Gwen," usul Aldo.
"Tapi, orang tuanya tidak suka pada Satria karena Gwen menggunakan uang mereka tanpa izin untuk membiayai operasi Satria," ungkap Stefy.
"Waduh, susah kalau gitu."
"Aku ada ide. Bagaimana kalau minta Kak Satria menyamar saja. Misalnya pakai kacamata supaya tidak ada seorang pun yang mengenali," usul Stefy.
"Kamu memang pinter jadi pacar aku," puji Aldo.
Kemudian Aldo menyampaikan usulan Stefy pada Satria. "Ah, gue nggak mau. Lagian siapa juga yang mau jadi guru privatnya Gwen?" elak Satria.
"Padahal ini kesempatan buat elo deket sama dia," bujuk Aldo.
"Nggak, gue nggak minat." Lagi-lagi Satria menolak.
"Elo nggak tahu 'kan? Kenapa Gwen minta guru les privat?" Aldo meminta Satria berpikir.
"Gwen akan dikirim ke luar negeri kalau sampai semester ini dia tidak bisa jadi juara kelas," ungkap Aldo. Satria terkejut mendengar kabar tersebut.
"Lantas, apa hubungannya denganku?" tanya Satria.
"Tentu saja ada. Dia dihukum karena udah bayarin biaya operasi lo, Sat. Lo rela kalau Gwen pergi selama bertahun-tahun kemudian saat dia kembali dia melupakan lo, Sat?" tanya Aldo.
Satria jadi berpikir ulang. Sebenarnya dia mulai menyukai Gwen. Tapi dia masih bingung dengan perasaannya. "Tunggu gue sembuh," jawab Satria setelah itu membalik badannya. Aldo menahan tawa.
"Sok gengsi lo," ledek Aldo. Satria melempar bantal ke arah Aldo. Setelah itu, Aldo keluar dan memberi tahu Stefy melalui pesan singkat. Saat itu Stefy sedang makan di kafe bareng Gwen.
"Gwen, gue dapat kabar dari Kak Aldo kalau elo udah dapat guru privat," ucap Gwen memberi tahu sahabatnya.
"Hah, serius?" tanya Gwen. Stefy mengangguk. "Siapa?" tanya Gwen.
"Mas Satria," jawab Stefy. Gwen seketika menyemburkan minuman yang hampir dia telan ke wajah Stefy.
__ADS_1
"Kurang a*sem lo! Muka gue jadi basah nih," protes Stefy memarahi Gwen.
"Mas Satria? Lo kan tahu bonyok gue nggak suka gue deket-deket dia. Ck, elah cari perkara lo. Kalau Glen tahu gue bisa..." Gwen pura-pura menirukan gaya orang yang menebas leher.
"Lo tenang! Gue punya ide." Stefy menaikturunkan alisnya. Gwen jadi curiga.
Sampai beberapa hari Gwen tidak datang menjenguk Satria. Laki-laki itu jadi merasa kehilangan. "Sepi juga hidup gue kalau nggak ada dia," gumam Satria seorang diri.
Hari ini dia pertama kalinya berangkat ke kampus setelah insiden kecelakaan yang dia alami. Satria masih menggunakan tongkat untuk berjalan. "Woi, Sat," panggil Nano, teman satu fakultas Satria.
Nano berjalan mendekat. "Kaki lo kenapa, Bro?" tanya Nano.
"Jatuh dari motor," jawab Satria.
"Pantas lo nggak masuk selama 2 minggu. Sorry gue nggak denger kabar lo sakit. Gue kira elo sengaja bolos karena malas kuliah dan memilih narik ojek. Sorry, bekerja." Nano meralat ucapannya. Satria tersenyum miring menanggapi ucapan Nano. Setelah itu dia masuk dan mengikuti kuliah sampai selesai.
Di luar kelas, banyak para gadis yang menyerukan nama Satria. Mereka sidah tahu kalau Satria telah kembali ke kampus. Satria hanya bisa menghela nafas. 'Kalau saja ada Gwen,' pikir Satria.
Mau tak mau Satria harus menghadapi para gadis yang berdiri di depan gedung tempatnya kuliah. Satria mengambil tongkatnya lalu berdiri.
Satria tersenyum. "Nggak usah, aku udah biasa sendiri," jawab Satria menolak dengan sopan. Gadis itu merasa kecewa tapi dia menyembunyikannya.
"Mas Satria," teriak seseorang dari arah luar. Satria sangat ingat suara itu milik siapa. Satria pun keluar dengan wajah sumringah. Gwen dan Stefy sengaja mampir ke kampus karena dia mendengar dari Aldo kalau Satria kembali kuliah.
Saat pintu dibuka Satria langsung tersenyum ke arah Gwen. Gwen pun membalasnya. Ingin sekali dia memeluk Satria saking kangennya, tapi Gwen menahan diri. Dia hanya mendekat lalu membantu Satria berjalan. Satria tidak menolak. Mereka berjalan menuju ke parkiran mobil. Stefy sudah janji kalau dia bersedia mengantar Satria sampai ke rumah.
Namun, sesampainya di parkiran Stefy memberikan kunci mobil pada Gwen. "Nih, bawa mobil gue buat antar cowok lo," ucap Stefy.
"Tapi Stef, elo pulangnya naik apa?" tanya Gwen. Belum sempat Stefy menjawab tiba-tiba Aldo datang membawa motor besarnya.
"Gue dijemput Kak Aldo. By Gwen, nikmati perjalanan singkat lo!" pamit Stefy.
"Sialan lo, Stef. Singkat, singkat lo kira gue mau ma...." Gwen tak jadi berkata kasar karena dia ingat di sampingnya ada Satria.
__ADS_1
"Bisa bawa mobil?" tanya Satria.
"Bisa dong," jawab Gwen dengan penuh percaya diri.
Gwen membantu Satria masuk ke dalam mobil. Kemudian barulah dirinya yang masuk ke bagian kursi kendali. Setelah memasang sabuk pengaman, Satria kembali bertanya. "Yakin bisa bawa mobil sendiri?" tanya Satria. Gwen sebenarnya tidak yakin karena selama ini dia jarang memakai mobil. Kebanyakan Glen yang mengantar dia ke mana-mana.
"Mas Satria tenang aja! Aku bisa kok. Percaya deh!" ucap Gwen menenangkan laki-laki yang sedang duduk di sampingnya.
Saat Gwen baru mulai menyalakan mesin dan menginjak gas, mobil Stefy yang dikendarai Gwen hampir saja menabrak mobil lain yang sedang parkir. "Gwen," panggil Satria karena kaget. Gwen merasa jantungnya ingin copot. Kalau sampai ada yang lecet maka dia akan kena semprot orang tuanya nanti. Sebab biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan mobil tentu tidak sedikit.
"Biar gue aja yang bawa mobilnya." Satria memutuskan untuk menyetir.
"Tapi kaki Mas Satria kan lagi sakit."
"Gue yang injak gasnya elo yang injak remnya, setuju?" tanya Satria. Kemudian mereka berpindah posisi duduk. Gwen keluar lebih dulu setelah itu memasuki kursi di bagian penumpang.
Saat akan menyalakan mesin mobil, Satria melihat sabuk pengaman Gwen belum terpasang. Dia pun berinisiatif untuk memasang sabuk pengamannya.
Gwen menahan nafas sambil merem ketika melihat Satria mendekatinya. "Kenapa merem?" tanya Satria.
Gwen membuka mata ketika mendengar suara 'klik' yang merupakan suara sabuk pengaman telah dieratkan. Mata Gwen tak sengaja bertemu dengan mata Satria. Keduanya saling bertatap hingga tanpa sadar bibir muda-mudi itu menempel.
Entah siapa dulu yang memulai yang jelas antara Satria dan Gwen jadi merasa canggung. Satria melepas mulutnya yang menempel kemudian berdehem.
"Kamu sengaja ya mencium aku?" tuduh Satria. Gwen mengerutkan kening.
'Anjiiir, bukannya dia yang nyium gue duluan. Kenapa gue yang dituduh?' batin Gwen kesal.
Gwen tak menjawab dia memalingkan wajah karena kesal campur malu. Sementara itu Satria mulai menginjak gas dengan kaku kanannya yang tidak terluka.
Setelah beberapa saat terdiam. Gwen menolah pada Satria. "Mas Satria kayaknya pro banget bawa mobilnya. Di rumah punya mobil?" tanya Gwen.
"Punya," jawab Satria. Gwen merasa aneh. Padahal setahunya Satria hanya orang yang tidak mampu karena bekerja sebagai driver online dan tukang d bengkel.
__ADS_1
"Punya?" Gwen kembali bertanya pada Satria. Satria pun sadar kalau dia telah keceplosan.
Apa jawaban Satria agar Gwen tidak curiga? Siapa sebenarnya Satria?