
"Dave, apa kamu itu manusia atau malaikat?" tanya Reva, dia sedang membantu menggantikan perban di perutnya Dave.
Reva menelan saliva memperhatikan perut Dave yang kotak-kotak, begitu menggoda dan terlihat sangat seksi, apalagi ada tatto ular naga di dadanya, membuatnya semakin terlihat gagah.
"Kenapa bertanya seperti itu?" Dave malah balik nanya.
Reva segera menjawab. "Karena kamu terlalu tampan untuk menjadi seorang manusia, dan aku merasa kamu seperti memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa."
Dave tersenyum tipis, "Tapi tetap saja aku adalah manusia biasa, sama seperti yang lainnya."
"Bagaimana bisa aku tidak tambah terpesona padamu, kamu adalah dewa penolong aku, karena kamu aku bisa bebas dari pria tua itu dan juga bebas dari ayah tiriku, dan kamu juga yang sudah menebus rumah aku. Ternyata kamu juga baik pada orang lain, sampai mempertaruhkan nyawa kamu untuk menolong seorang anak."
"Aku senang melakukannya, aku ingin bisa menjadi penyelamat untuk orang lain." Walaupun tidak mendapatkan bonus juga tidak apa-apa, yang penting Dave bisa menolong orang-orang dengan kekuatan sistem yang dia miliki.
Reva semakin terpesona dengan pria tampan itu.
"Sekarang aku ingin menagih janji kamu." Dave menarik Reva kedalam pangkuannya.
Reva pura-pura tidak mengerti. "Janji apa?"
"Katanya ingin memakai lingerie di depan aku?"
__ADS_1
Wajah Reva memerah mendengarnya, "Tapi aku malu, Dave."
"Ya sudah, tidak apa-apa, aku tidak akan memaksa kamu." Dave mencium kening Reva.
Drrrrrt....Drrrrrt....
Ponsel Dave bergetar, rupanya ada telepon dari Erlangga.
"Ada apa, Er?"
"Maaf, Pak. Ada seorang pengunjung marah-marah di restoran, katanya tidak akan pergi jika pemilik restoran datang untuk minta maaf padanya. Hanya karena salah satu waitress kami tak sengaja menumpahkan air minum ke tasnya."
Dave menghela nafas, selalu saja ada gangguan untuk mencharger, padahal dia sudah tidak tahan ingin segera berbuka puasa. Apalagi baterainya sudah semakin menipis.
"Oh ya udah, hati-hati dijalan, Dave."
...****************...
Seorang ibu-ibu berusia 40 tahun sedang marah-marah tidak jelas, hanya karena tasnya basah terkena air minuman, padahal yang terkena hanya bagian luarnya saja, tinggal dia lap juga sudah kering.
"Restoran ini sangat tidak bermutu, mana pemilik restoran ini? Dia harus meminta maaf karena tidak becus memilih karyawan. Ini tas mahal lho, harga tas saya 10 juta." Ibu Teti terus mengumpat.
__ADS_1
"Saya pemilik restoran ini." ucap Dave, begitu masuk ke dalam restorannya.
Mata Bu Teti berbinar-binar melihat ketampanan seorang Dave.
Dave berdiri di hadapan Bu Teti, "Mohon maafkan atas ketidaknyamanan di restoran ini. Karena itu saya akan mengganti harga tas yang ibu punya."
Ibu Teti yang tadi terlihat galak sekali, kini dia berubah menjadi manis. "Oh gak usah, Mas. Gak usah diganti. Bagaimana kalau aku minta nomor Mas aja?"
Dave menolaknya, "Maaf, gak bisa, bu." Dave memberikan uang senilai 10 juta pada Bu Teti, "Lain kali, tolong jangan mencari gara-gara pada restoran saya, saya tau anda hanya ingin menjatuhkan restoran saya, dan tas itu harganya hanya 200 ribu."
Wajah Bu Teti memerah, dia telah ketahuan berbohong, saking malunya, dia langsung pergi begitu saja tanpa mengambil uang dari tangan Dave.
Dave hanya bisa tersenyum, ternyata ada juga orang yang picik seperti Bu Teti.
Setelah urusan dengan restoran selesai, Dave memutuskan untuk segera pulang ke rumah.
Begitu masuk ke dalam rumah, mata Dave membulat saat melihat penampilan Reva yang hanya mengenakan lingerie yang begitu seksi, membuat Dave meneguk salivanya dengan bersusah payah.
Reva sedang menyiapkan makan malam untuk mereka berdua, "Dave, aku sudah memasak untuk kamu."
Dave menggelengkan kepalanya, "Aku gak mau makan itu, aku ingin langsung makan kamu."
__ADS_1
Dave berjalan mendekati Reva, dia meraih tengkuk Reva, menyatukan bibir mereka, kali ini dia tidak ingin gagal lagi, makanya Dave segera menonaktifkan ponselnya, dia harus segera menuntaskan hasratnya bersama Reva, agar baterainya penuh kembali.