
Anjas nampak terkejut saat menyadari dirinya berada di sebuah hutan yang tidak jauh dari markas, membuat dia celingukan dengan penuh kebingungan.
Anjas lebih terkejut saat melihat Dave berada di hadapannya.
"Dave?"
Terakhir Anjas melihat Dave adalah setelah kejadian malam itu ketika Dave memergoki Danti selingkuh dengan Anjas, setelah itu Anjas belum melihat Dave secara langsung lagi, bahkan dulu dia menyuruh anak buahnya untuk mencelakai Dave tanpa terjun langsung, sehingga hari ini adalah pertama kalinya Anjas bertemu secara langsung dengan Dave.
Makanya Anjas nampak kaget melihat Dave yang awalnya buruk rupa kini menjadi super tampan, walaupun sebenarnya dia memang pernah melihat sebelumnya dari foto di sosial media, tapi ternyata jika bertemu langsung, Dave terlihat jauh lebih tampan.
Dave tersenyum sinis. "Sudah lama kita tidak bertemu, Anjas."
Anjas kaget saat mendengar sebuah ledakan yang bergemuruh, menghancurkan markas dan juga semua anak buahnya yang ada di dalam sana.
Duarr...
Bomm...
Bommm...
Anjas terlihat shock melihatnya.
Dave sengaja membawa Anjas keluar bukan untuk menyelamatkan Anjas, tapi dia ingin menghajar pria itu secara langsung.
"Brengsek, kamu sudah menghancurkan markasku." Anjas mengumpat, dia meraba-raba saku celananya, ternyata Dave sudah mengeluarkan pisau dan pistol disana, sehingga Anjas tidak memiliki senjata apapun.
Bahkan handphone Anjas pun telah dihancurkan.
Anjas terpaksa harus menyerang Dave dengan tangan kosong, Dave menahan tangan Anjas, kemudian memutar tangannya itu.
Krek!
Sehingga tangan kanan Anjas patah.
__ADS_1
"Arrrggghhh!" Anjas menjerit kesakitan memegang tangannya yang patah.
Bugh..
Lalu Dave menendang wajah Anjas, sehingga Anjas tersungkur ke tanah.
"Bagaimana rasanya telah mengkhianati sahabat sendiri?" tanya Dave sambil menatap tajam pada Anjas.
Anjas mencoba untuk berdiri, walaupun dia harus merasakan sakit pada bagian tangannya, tapi dia harus mengalahkan Dave.
Dave melanjutkan perkataannya. "Bahkan kamu merencanakan pembunuhan terhadap sahabat yang selalu setia menemanimu dan selalu menolong kamu, kesalahan kamu tidak termaafkan."
Anjas mencoba untuk menyerang lagi dengan tangan yang sebelah kiri.
Tapi ternyata pukulan Anjas tak terasa bagi Dave, Dave menendang kaki Anjas, membuat kaki Anjas yang sebelah kiri patah, tak hanya itu, Dave juga mematahkan kaki Anjas yang sebelah kanan.
"Arrrggghhh!"
"Arrrggghhh!"
Dave menghela nafas dalam-dalam, dia rasa pembalasan untuk Anjas sudah cukup, selebihnya terserah Anjas ingin melanjutkan hidup atau tidak dengan posisi kedua kakinya dan satu tangannya patah.
"Ampun Dave, jangan bunuh aku!" Anjas akhirnya memohon ampun.
Dave meletakkan sebuah pistol yang jaraknya sekitar 20 meter. "Aku akan membiarkan kamu hidup dalam sebuah penderitaan. Namun jika kamu merasa bosan hidup, pistol ini hanya memiliki 1 peluru."
Setelah berkata begitu, Dave meninggalkan Anjas.
"Dave, kamu mau kemana? Jangan tinggalkan aku!" teriak Anjas.
Dave mengabaikan teriakan Anjas.
Dave berjalan menyusuri hutan, mencari jalan arah keluar, dia melihat Bella yang sedang menunggu di depan mobil. Ternyata Bella memilih untuk menunggu Dave.
__ADS_1
"Kamu gak apa-apa kan?" Bella sangat mencemaskan pria yang telah menjadi pahlawan untuk dirinya dan adiknya.
"Aku gak apa-apa, terimakasih sudah menunggu aku."
"Harusnya aku yang mengucapkan terimakasih karena kamu sudah menolong aku dan adikku."
...****************...
Hari sudah mulai gelap, Anjas masih ingin bertahan hidup, dia berusaha untuk terus berjalan nyesot walaupun rasanya sangat ketakutan sekali, karena hutan ini sangatlah liar, masih ada banyak binatang buas disana.
Anjas merintih kesakitan, dia sudah menggenggam pistol yang tadi Dave letakan di tanah, didalamnya hanya ada satu peluru. Walaupun Anjas tidak tahu harus menggunakannya untuk apa.
"Tolong!"
"Tolong!"
Anjas meminta sebuah pertolongan, siapa tahu ada orang yang berjalan melewati hutan tersebut, sementara ponselnya Anjas telah di hancurkan, membuat Dave kesulitan untuk meminta pertolongan, sementara jarak dari hutan ke jalanan sangatlah jauh.
Anjas mendengar suara serigala yang telah mengaum, dia terkejut ketika melihat ada tiga ekor serigala di depannya. Mereka sepertinya akan siap memangsa Anjas.
Sementara Anjas hanya memiliki satu peluru, jadi tidak mungkin menembak ketiga serigala tersebut.
"Hus..."
"Hus..."
Anjas mencoba untuk mengusir ketiga serigala itu dengan ranting, namun tak bisa membuat serigala tersebut pergi, malah jumlahnya kini bertambah lagi menjadi lima.
Anjas menangis, dari pada dia harus mati dimakan serigala, lebih baik dia mati ditangannya sendiri.
Anjas mengarahkan senjatanya ke arah kepalanya sendiri.
Zdorr...
__ADS_1
Dan Anjas pun mati seketika, tubuhnya ambruk tanah, darah segar telah bercucuran dari kepalanya, dia menghembuskan nafas terakhirnya dengan kondisi mata yang masih melotot.