
"Ampun bang, jangan rusak daganganku. Kalau gak jualan, aku dapat uang darimana untuk memberikan makan anak dan istri." lirih seorang pedagang pada Anjas.
Anjas tak peduli, dia merusak semua dagangan orang-orang yang tidak mau memberikan uang setiap hari padanya. Anjas memang sering melakukan pemerasan terhadap para pedagang di pasar.
Para pedagang hanya bisa pasrah dan menangis, melihat dagangan mereka telah dirusak oleh Anjas. Gengster itu memang meresahkan masyarakat di kota ini.
Anjas merebut dompet salah satu satu pedagang disana. "Sini dompet kamu."
"Ampung bang, jangan bawa uang saya. Aku gak punya uang lagi selain itu."
"Alah pelit banget kamu." Anjas tak peduli, yang penting hatinya puas. Dia segera membawa semua uang yang ada didalam dompetnya itu, kemudian dompet yang kosong telah dia melempakan ke wajah pemilik dompet tersebut.
Setelah itu Anjas bersama anak buahnya pergi ke markasnya, disana ada seorang gadis remaja yang telah Anjas sekap.
"Tolong lepaskan aku, kenapa kalian menculik aku?" teriak seorang gadis berusia 15 tahun yang ada dibalik jeruji besi itu.
Anjas dan anak buahnya malah tertawa, mereka tak peduli dengan teriakan gadis tersebut.
"Lumayan nih bang bisa kita jual ke luar negeri, apalagi gadis seumur begitu harganya sangat mahal." ucap salah satu anak buahnya Anjas.
__ADS_1
Anjas memang sering melakukan human trafficking, bisnisnya dalam dunia hitam telah semakin luas, bahkan dia telah menjadi bos sekarang.
Tapi bukan itu tujuan Anjas menculik gadis itu, karena yang dia butuhkan adalah kakaknya.
Brak...
Terdengar sebuah pintu terbuka dengan kasar, munculah seorang wanita cantik sambil membawa sebuah pistol pada Anjas.
"Cepat lepaskan adikku!" Wanita cantik bernama Bella itu mengarahkan pistol ke arah kepala Anjas.
Bella dulu adalah seorang penembak jitu, namun dia sudah lama pensiun, karena ingin hidup menjalani hidup normal.
Bella menjadi gelagapan, dia memohon pada Anjas untuk tidak membunuh adiknya. "Tolong, jangan bunuh adikku, aku mohon."
Hilda hanya bisa menangis memanggil sang kakak. "Kakak, aku takut, kak."
Anak buah Anjas sangat banyak sekali, Bella tak mungkin mengalahkan mereka.
"Aku akan melepaskan adikmu, tapi dengan satu syarat." Anjas melakukan sebuah penawaran pada Bella.
__ADS_1
"Apa syaratnya?" Bella pasti akan melakukan apapun demi menyelamatkan Hilda.
Bella tak mungkin melaporkannya pada polisi karena Anjas akan membunuh Hilda jika Bella ketahuan telah melaporkannya pada polisi.
Anjas melempar foto Dave Aliando pada Bella. "Aku ingin kamu bunuh Dave Aliando, bawa kepalanya kesini, dan juga yang paling penting, kamu harus mendapatkan cincin yang dia pakai."
Bella merasakan keberatan untuk membunuh orang, walaupun di masa lalu dunianya begitu kelam, dia sudah sangat ingin memperbaiki dirinya. "Aku tidak ingin membunuh orang lagi."
"Kalau begitu siap-siap saja kamu harus kehilangan adik kamu, Bella." Anjas mengatakannya sambil tertawa puas.
Bella melihat salah satu anak buahnya Anjas yang masih menodongkan pistol ke kepala adiknya.
"Kak Bella, tolong keluarkan aku dari sini." Hilda sangat ketakutan sekali. Tiada hentinya dia terus menangis.
Bella menitikan air matanya, dia tak tega melihat adiknya yang sangat ketakutan seperti itu. "Oke, aku akan melakukannya, tapi jangan pernah menyakiti Hilda apalagi menyentuhnya, dengan begitu aku akan membawa kepala Dave Aliando padamu, termasuk cincinnya itu."
...****************...
Terimakasih dukungannya selama ini buat novel ini, alhamdulillah Terlalu Tampan dapat juara ke 1 dalam kategori novel pria super system kekayaan. 🙏
__ADS_1