
Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Dave melahap buah dada milik Rianti, membuat Rianti menggelinjang. Sesekali Dave mere-masnya dan menjepit bagian puncaknya lalu memelintirnya, mengusap sisi-sisi puncaknya, dan itu membuat Rianti frustasi.
Rianti pun mere-mas rambut Dave sambil mengeluarkan desa-han.
Lidah Dave ikut bermain menjilatnya tanpa tergesa, kemudian Dave menghisapnya dengan rakus. Lenguhan Rianti semakin nyaring karena ulah Dave.
Tangan terampil Dave dengan cepat melepaskan roko mini yang dipakai oleh Rianti, lalu melepaskan cel-ana dalam miliknya.
Dave merangsang bagian bawah Rianti dengan satu jarinya. Bergerak menusuk di bawah sana hingga badan Rianti turut mengikuti gerakan tangan Dave.
Dave kembali melahap buah dada milik Rianti yang besar dan menggoda itu.
Namun, suara ketukan pintu merusak suasana.
Tok...
Tok...
Tok...
"Mbak Rianti."
"Pak Dave."
__ADS_1
Terdengar suara salah satu karyawan memanggil nama mereka.
Dave baru menyadari bahwa sekarang ini dia masih berada di restoran, dia menghela nafas panjang, belum saatnya untuk mengcharger bersama Rianti.
Dave tidak ingin karyawannya curiga dengan apa yang telah dia lakukan. "Ya sebentar, saya dan Rianti sedang membicarakan hal penting tentang restoran." Dave terpaksa berbohong, dia berkata begitu dengan sedikit meninggikan volume suaranya.
"Iya, Pak. Soalnya ada pelanggan yang ingin bertemu dengan Mbak Rianti."
Dave memakai kemejanya kembali, kemudian dia harus membantu Rianti untuk memakai kembali pakaiannya. Pakaian wanita memang tidak sesimpel pakaian pria.
...****************...
Ternyata ada seorang pengunjung wanita yang ingin komplen karena dia tak sabar menunggu lama pesanan datang.
Rianti sebagai manager disana, dia meminta maaf kepada wanita tersebut, karena tamu adalah raja, seorang pengunjung memang harus diistimewakan.
"Mohon maafkan kami, Bu. Kebetulan pengunjung hari ini sangat banyak sekali, jadi saya harap ibu bersabar menunggu, kami usahakan pesanan ibu akan sampai secepat mungkin."
"Alah, mau nunggu sampai kapan lagi? Emang kamunya saja yang menjadi manager tidak becus. Restoran seperti ini harus ditutup, apa mau membuat orang mati kelaparan?"
Dave awalnya tidak ingin turun tangan karena biasanya Rianti bisa mengatasinya, tapi lama kelamaan Dave gemes juga pada pengunjung satu ini, apalagi dia telah menghina Rianti, hanya 10 menit pesanan belum sampai dia marah-marah, mungkin harusnya para barista menggunakan roller coaster.
Dave mendekati Rianti yang sedang dimarahi oleh pengunjung.
__ADS_1
"Selamat siang Ibu, saya owner restoran ini."
Ibu tersebut terperangah saat melihat pesona owner dari RSP ini. Membuat dia berhenti marah-marah, "Oh jadi kamu Owner?'
Dave mengangguk kepala sambil tersenyum menawan. " Iya, saya ownernya. Mohon bersabar menunggu, kami akan berusaha untuk melayani secepat mungkin."
Kalau ke Rianti tadi dia ngotot sambil marah-marah, tapi sekarang dia mendadak jadi kucing manis. "Oh iya, gak apa-apa, mau satu jam juga saya siap menunggu."
Rianti menghela nafas mendengar wanita genit itu, apalagi dia mengedipkan mata pada Dave.
"Namamu siapa?" tanya wanita berusia 45 tahun itu pada Dave.
"Nama saya Dave Aliando. Ya sudah saya permisi dulu, pesanan pasti akan datang sebentar lagi."
Ibu menganggukkan kepala, dia tak bisa melepaskan pandangannya pada seseorang Dave. "Oh iya."
Dave mengerlingkan mata pada Rianti, memberikan isyarat untuk segera pergi meninggalkan pengunjung tak sabaran tersebut.
Kemudian Dave mengirim pesan pada Rianti.
(Nanti kita lanjutkan dirumahmu saja.)
Begitu membaca pesan dari Dave, wajah Rianti jadi merah merona, membayangkan bagaimana dia bisa menghabiskan malam bersama pria yang sangat dia sukai itu.
__ADS_1