
Seperti biasa, Riana selalu bangun di pagi hari buta, dia menyiapkan sarapan untuk Rendra, sementara Mala sudah pulang ke rumahnya tadi malam.
"Kamu yakin mau sekolah, dek?" tanya Riana pada sang adik.
"Iya, kak. Kaki aku udah gak sakit lagi kok." Rendra sudah memakai seragam sekolah, dia terlihat begitu bersemangat ingin sekali bertemu dengan teman-temannya.
"Hm... ya sudah, belajar yang rajin ya dek."
Riana tidak ingin adiknya bernasib sama seperti dirinya, Rendra harus bisa hidup sukses, sebagai seorang kakak dia pasti mengharapkan Rendra menjadi anak yang berprestasi dan sukses.
Setelah Rendra pergi ke sekolah, Riana teringat dengan Dave yang belum keluar juga dari rumah belakang.
"Kenapa dia belum keluar juga?"
Riana takut Dave melarikan diri, bagaimana pun dia telah berjanji pada anak buahnya akan selalu mengawasi orang asing itu selama dia berada di pulau X.
__ADS_1
Riana segera masuk ke dalam rumah yang kecil tersebut, dia memangil nama pria asing itu, "Dave, apa kamu sudah bangun?"
Namun, tak ada jawaban.
Riana berjalan mencari keberadaan Dave, Riana mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, ternyata Dave habis mandi, dia keluar dari kamar mandi tersebut dengan hanya menggunakan handuk saja, menutupi dari area pinggang sampai ke lutut.
"Kamu mencariku?" tanya Dave, sambil mengusap-usap rambutnya yang basah.
Riana menelan saliva memperhatikan penampilan Dave yang sangat seksi itu, bukan hanya memiliki ketampanan yang sangat mempesona, pria itu pun memiliki bentuk tubuh yang sangat menggoda iman para wanita, sampai Riana menelan salivanya.
Dave tersenyum smirk, dia mendekati Riana. "Kenapa memandang aku seperti itu, Riana? Akui saja kamu sangat tertarik padaku!"
Dave semakin tertantang, dia berjalan semakin mendekati Riana, Riana mencoba untuk menjauhi Dave, dia berjalan mundur, tapi mentok di dinding. Dan Dave berhasil mengunci tubuhnya.
"Kamu yakin tidak tertarik padaku, Riana?" Dave semakin ingin menggoda Riana.
__ADS_1
"Ti-tidak." jawab Riana, dia merasa gugup karena tubuh mereka menempel seperti itu, apalagi merasakan ada yang menonjol di bawah sana, merasakan betapa keras milik Dave, membuat Riana bergidik ngeri.
"Aku akan menaklukkan Ziro dan antek-anteknya, dengan begitu maka mari kita berkencan, kamu pasti paham bagaimana berkencannya orang dewasa?" Dave berkata begitu dengan tatapan yang menggoda.
"Tentu saja, aku tau." Riana sudah dewasa, pasti dia paham apa yang Dave maksud.
Riana menambahkan perkataannya, "Tapi aku tak yakin kamu bisa menjalankan tantangan dariku."
Dave tersenyum, dia berjalan mundur, dia takut bisa khilaf bisa menerkam wanita cantik itu. Dave manusia biasa, dia pastinya memiliki ketertarikan ke setiap targetnya, bukan hanya semata-mata dalam masalah charger saja.
Walaupun dia tak tau siapa yang akan dia pilih nanti, bisa saja satu atau semuanya, yang pasti saat ini dia ingin menikmati kebersamaan dengan sang target.
Riana sangat bernafas lega, karena Dave telah menjauhkan jaraknya, walaupun dia sempat dibuat panas dingin apalagi merasakan benda keras dibawah sana yang tak sengaja sedikit menusuknya, membuat dia meneguk salivanya berkali-kali.
Drrrrrttt... Drrrrrttt...
__ADS_1
Ponsel Riana bergetar, ternyata dia mendapatkan pesan dari anak buahnya.
"Nona, di sini terjadi kekacauan, para anggota gang Naga Merah sedang menyerang masyarakat."