
"Selamat sayang, semoga gelarnya berkah" ucap Fida sambil memeluk anaknya.
"Aamiin, makasih ma berkat mama aku bisa meraih cita-cita ku" ucap Ika tulus membalas pelukan ibunya.
Begitu pun dengan keluarganya yang lain, memberikan banyak ucapan selamat kepada Ika.
"Mah ayo pulang, aku udah lapar ni" rengek Ika manja.
"Huh dasar ya" ucap Fida mencubit gemas hidung anaknya.
"Ya sudah ayo pulang" ajak Fida.
Mereka semua pun bergegas pulang kerumah untuk merayakan hari kelulusan Ika.
Diperjalanan Ika sudah menyusun berbagai rencana agar bisa dekat dengan Ardi.
Namun rencana hanya lah rencana.
"Mah kok banyak orang disana, ada acara apa?" tanya Ika beruntun sambil menunjuk ke arah rumah Ardi .
"Oh itu, mereka sedang menyiapkan keperluan lamaran nanti malam" jawab Fida.
"Siapa mau nikah?" tanya Ika lagi.
"Ardi sama Fitri, emang Fitri nggak cerita sama kalian kalau dia mau nikah?" tanya Fida mengerjit heran.
"Hahaha mama bercanda kan?" tanya Ika tertawa getir.
__ADS_1
"Ngapain mama bercanda, nanti malam katanya mereka baru menentukan tanggal yang tepat untuk mengadakan pernikahan" jawab Fida tanpa tahu apa-apa.
"Oh gitu ya, aku ke kamar dulu ya ma" pamit Ika segera menuju ke kamarnya tanpa menghiraukan ucapan ibunya
"Kenapa tu anak" tanya Fida heran melihat tingkah anaknya itu.
*******
Brukkk
"Astaga apa gue nggak salah dengar, ah sial.. kenapa rasanya sakit banget ya" gerutu Ika mondar-mandir di kamarnya dan tanpa dia sadari lelehan bening jatuh bebas di pipinya.
"gue nggak habis pikir kenapa Lo tega sama gue Fitri, emang Lo anggap persahabatan kita ini apa selama ini. Kenapa Lo nggak cerita sama gue jika Lo akan menikah dengannya" ucap Ika lirih.
"Andai Lo cerita sama gue sedari awal, gue nggak bakalan sesakit ini Fitri" guman Ika sambil menepuk dadanya menahan sesak
"Andai gue tahu, gue nggak akan membiarkan rasa ini terus tumbuh. Hah gue lupa jika sedari dulu dia memang nggak pernah lirik gue sekalipun ha ha ha" gumam Ika tertawa getir.
"Sadar Ika, dia tak bisa Lo gapai apalagi sedari awal emang kalian tidak punya hubungan apa-apa kan. Jadi Lo nggak berhak menyatakan kepemilikan yang tidak ada dasarnya" ucap Ika terus berdialog pada dirinya sendiri.
Ika hanya bisa menenggelamkan wajahnya di bantal agar tangisnya tidak terdengar.
Ika sudah menyadari perasaannya sendiri, ternyata dia beneran suka dengan Ardi bukan lagi hanya sekedar terobsesi doang. Namun apa daya perasaan sepihak ini emang tidak bisa lagi untuk terbalaskan sampai kapan pun.
"Baiklah jika itu keputusan kalian, gue akan menerimanya. Gue sadar jika perasaan seseorang tidak bisa di paksakan. Semoga kalian bahagia" gumam Ika getir.
Ika pun beristirahat sebentar untuk menenangkan pikirannya sebelum ikut bergabung dengan keluarganya yang lain untuk merayakan hari kelulusannya.
__ADS_1
**********
ke esokan harinya, sesuai rencana mereka kemarin untuk merayakan hari kelulusan mereka. Sekarang ini mereka semua telah berkumpul di di basecamp lebih tepatnya di kosan milik Ani sebelum berangkat ke tempat tujuan.
"Lo kenapa sih? diam-diam bae sedari tadi?" tanya Ani melihat Ika yang sedari tadi diam semenjak tiba.
"gue nggak apa-apa kok, cuman lapar aja karena tidak sempat sarapan tadi" kilah Ika nyengir agar mereka tidak tahu tentang masalahnya.
"Ck alasan, dia tu lagi broken heart gara-gara yayang Didi nya mau nikah" ejek Nidya nimbrung yang belum tahu jika Fitri adalah calon dari orang yang di sukai Ika.
Fitri yang mendengar itu langsung menatap Ika dengan sendu. karena dirinya lah yang membuat sahabatnya itu bersedih.
Sedangkan Ika yang menyadari perubahan ekspresi pada Fitri dengan cepat membela diri, sebelum Fitri tambah merasa bersalah pada dirinya. Karena dia sudah melepaskan Ardi untuk sahabatnya itu.
"Ngaco Lo, mana ada begitu" sungut Ika menoyor kepala Nidya.
"Kasar amat Lo, terus siapa yang tadi malam nangis-nangis kejer karena di tinggal nikah" tambahnya dengan jengah yang membuat mereka yang ada disana tertawa kecuali Fitri yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Ika tambah gelagapan dengan ucapan Nidya yang terlalu jujur itu. Dia memang menceritakan tentang Ardi yang akan menikah tetapi tidak menyebutkan siapa yang akan menjadi calon istrinya supa.
"Lo" geram Ika namun ucapannya terpotong tak kala Fitri telah berlutut di depannya. Hal itu membuat mereka semua bingung dengan tindakan Fitri.
"Ka maafkan gue hiks hiks gue tidak bermaksud merebutnya dari Lo hiks hiks gue nggak bisa menolak kemauan kedua orang tua gue hiks" tangis Fitri pecah karena rasa bersalahnya pada sang sahabat.
"Hiks hiks gue janji gue bakalan batalin pernikahan ini agar Lo bisa bersatu dengan kak Ardi" tambahnya dengan memberanikan diri untuk menatap ke arah Ika.
"gue.........
__ADS_1