
Tak berselang lama, Nidya mengirim pesan kepada Ika jika dia sudah ada di depan. Karena malu untuk langsung masuk jadi dia memanggil Ika untuk menjemputnya didepan.
"Eh gue ke depan dulu, nidya sudah ada di depan" pamit Ika kepada Fitri.
"Langsung suruh masuk kesini saja" ucap Fitri sambil menganggukkan kepalanya.
"Sip dah" ucap Ika kemudian berlalu untuk menemui Nidya.
"woi maaf yaa tadi nggak sempat singgah dirumah Lo tadi, gue nggak enak lah bilang sama yayang upa gue" ucap Ika dengan suara pelan agar sang empunya tak mendengar jika namanya disebut.
"Iya nggak apa-apa, gue malu tahu nggak kesini" ujar Nidya.
"Apalagi gue makanya gue ajak Lo supaya ada yang gue ajak bicara nantinya" ucap Ika cekikikan.
"Dasar Lo" ucap Nidya memukul pelan bahu Ika.
"Tahu nggak, gue nggak habis pikir dengan Fitri bisa-bisanya dia beneran bikin gue sama yayang Ardi jalan bareng. astaga malu banget gue sum**h deh" ucap Ika mengaduh.
"Tapi Lo suka kan?" ucap Nidya jengah.
"Oh tentu saja, tapi ini loh yang jadi masalahnya diperjalanan tadi gue hampir mati kedinginan njirr" ucap Ika mendramatisir.
"Idih lebay Lo" ucap Nidya menjitak kening Ika dengan kejam.
"Ish sakit tahu nggak" kata Ika mengadu kesakitan sambil mengelus bekas jitakan dari Nidya
"Ck sudahlah gue enek lihat muka Lo seperti itu, lebih baik kita cari apa gitu yang bisa dimakan" ajak Nidya.
"Tapi gue lupa bawa uang tadi, tapi tunggu sepertinya ada deh disini" ucap Ika kemudian memeriksa uang yang ada dibalik silikon handphone nya.
"Ya tinggal ini doang" ucap Ika cemberut sambil memperlihatkan uang 2 ribuan kepada Nidya.
"Nggak apa-apa gue masih punya 5 ribuan deh" ujar Nidya menenangkan.
__ADS_1
"Astaga kere banget kita" ucap Ika tertawa terbahak-bahak.
"Kita, Lo aja kali" ujar Nidya kejam.
"Wah s**lan Lo" maki Ika kesal sambil mengejar Nidya yang sudah lari terbirit-birit.
Mereka berdua kemudian masuk ke salah satu toko terdekat.
"beli apaan ya" ucap Ika melihat-lihat.
"ice cream aja bagaimana" usul Nidya.
"Ya udah deh itu aja, tapi cukup tidak uangnya?" tanya Ika khawatir jika uang mereka tidak cukup.
"cukup kok jadi Lo tenang saja" kata Nidya kemudian mencari ice cream yang sesuai dengan uang yang mereka miliki.
"Ini harganya berapa Bu?" tanya Nidya.
"3 ribu neng" ujar sang penjual.
"Makasih neng" ucap sang penjual tersenyum hangat.
"Sama-sama Bu" ucap Nidya kemudian berlalu keluar dari toko tersebut.
"Tu kan gue bilang apa, uangnya bakalan cukup kok" ujar Nidya bangga.
"Ya ya ya" jawab Ika malas kemudian mengambil ice cream yang di sodorkan kepadanya.
Namun pada saat perjalanan keluar dari toko itu mereka tak sengaja bertemu dengan seseorang.
"Ngapain disini" Tanya orang tersebut.
"Nggak ngapa-ngapain kok" jawab Nidya tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Sedangkan Ika yang tidak tahu siapa orang yang menyapa mereka, hanya acuh tak acuh saja karena dia malas berurusan dengan orang yang tidak di kenal.
"Duluan ya" pamit Nidya pada orang tersebut.
orang tersebut hanya mengangguk mengiyakan ucapan Nidya kemudian masuk ke toko yang mereka masuki tadi.
"Lo nggak tahu siapa dia" tanya Nidya setelah menjauh dari toko yang mereka datangi tadi.
"Tidak" jawab Ika singkat sambil menikmati ice cream yang ada di tangannya.
"Wah parah Lo masa Lo nggak tahu dia siapa" ucap Nidya tak habis pikir.
"Beneran gue nggak tahu dia siapa, memangnya dia siapa sih?" tanya Ika memang tak mengerti.
"Astaga ni anak satu, dia itu Lo dulu yang pergi melamar di rumah Lo tapi Lo tolak" ujar Nidya menjelaskan.
"Iya kah?" tanya Ika tak percaya.
"Gue nggak tahu apa-apa tahu nggak, lagian dulu kan gue nggak pernah ketemu tu sama itu orang. jadi wajarlah kalau gue nggak tahu orangnya siapa" lanjut Ika acuh.
"ish Lo nggak tanya gue sih dari tadi, coba gue tahu kalau itu dia pasti gue juga menyapanya tadi hahaha" ucap Ika terbahak-bahak.
"Idih dasar oon, kenapa Lo tolak dia dulu?" tanya Nidya.
"Mana gue tahu, lagian itu ranah orang tua gue. lagian gue juga baru tahu setelah lamaran itu di tolak" ujar Ika.
"Lo bakalan nyesel Lo udah nolak dia. dia tu udah berubah tidak pernah dulu lagi yang tidak mau di atur. apalagi coba yang kurang udah ganteng menuju taubat lagi hahaha" jelas Nidya cekikikan di akhir kalimatnya.
"Bodoh amatlah. gue ma mau fokus kuliah dulu. tapi kalau yayang Didi gue yang pergi melamar, langsung gasken saja" kata Ika tak tahu malunya.
"Prettt bagaimana mau melamar, melirik ke arah Lo saja tidak. lama-lama gue nyuruh sepupu gue tadi suruh cepat melamar kembali kerumah Lo hahaha, pamali loh nolak lamaran sampai 3 kali apalagi sekarang sudah ada 2 orang yang Lo tolak jadi jika menolak lagi Lo bakalan jadi perawan tua hahaha" ejek Nidya kejam.
"sia*** Lo, tapi gue tetap pada pendirian gue tadi" kata Ika kekeh pada pendiriannya jika tidak akan menolak lagi jika supa yang pergi melamar dirumahnya.
__ADS_1
"serah deh serah gue capek ladenin Lo" ucap Nidya memutar bola matanya malas membuat Ika tertawa terbahak-bahak merasa lucu sendiri dengan apa yang di ucapkan tadi.