Ternyata Jodohku Adalah Dia

Ternyata Jodohku Adalah Dia
Gara-gara bawang-bawangan


__ADS_3

Ke esokan harinya.


Ika dengan malas mengerjapkan matanya karena sinar matahari sudah menerobos masuk keruangan itu. Dia kemudian membangunkan tubuhnya dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya tetapi karena kepalanya yang terasa sakit membuat Ika kembali berbaring dan memijit kepalanya pelan.


"astaga kepala gue sakit banget" ringis Ika memijat kepalanya yang sakit.


"Sudah bangun hmm?" tanya seseorang yang berjalan mendekat ke arahnya.


Ika dengan cepat mengalihkan pandangannya ke sumber suara yang terdengar familiar itu, betapa terkejutnya dia melihat seseorang yang ingin dia hindari ada di depannya.


'Astaga kenapa dia lagi sih' gerutu Ika dalam hati.


"Apa yang tuan lakukan disini?" tanya Ika menatap tajam ke arah Reyhan yang baru saja masuk.


"Minum ini untuk merendahkan sakit kepala mu karena mabuk semalam" ucap Reyhan lembut dengan meletakkan nampang yang berisi bubur dan minuman pereda mabuk di meja tanpa menghiraukan protes dari Ika.


"Mabuk?" tanya Ika bingung yang belum mengingat kejadian semalam.


Ika kemudian memutar kembali ingatan nya pada malam kemarin, dia langsung membulatkan matanya mengigat sebagian apa yang dilakukannya waktu.


Namun 1 hal yang membuatnya terkejut bukan main adalah siapa yang mengganti bajunya, dia langsung menatap horor pada Reyhan sambil memeluk dirinya sendiri.


"Bukan aku yang menggantinya tapi pelayan" sebelum disemprot dengan berbagai pertanyaan dengan cepat Reyhan memberi tahu seakan tahu apa yang di pikirkan Ika.


Mendengar itu membuat Ika bernafas lega namun sedetik kemudian dia murung kembali apakah dia akan di pecat karena perbuatan tak senonohnya pada sang atasan.


"Maafkan saya atas kelakuan ku tadi malam, Saya mohon jangan pecat saya tuan?" cicit Ika berkaca-kaca sambil menunduk takut karena mengingat kelakuannya tadi malam apalagi pada saat melihat Reyhan dia langsung bergelayut di leher atasannya itu.

__ADS_1


"Siapa yang akan memecat mu hmm?" tanya Reyhan yang sudah mendudukkan dirinya di samping Ika sambil mengelus lembut pucuk kepala Ika.


"Tuan lah!! karena perbuatan ku tadi malam" ujarnya lagi dengan air mata yang membasahi pipinya untuk itu dia semakin menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.


Reyhan kemudian menangkup kedua pipi Ika agar melihat kearahnya seraya menghapus pelan air matanya.


"Dengarkan aku, tidak akan ada yang memecat mu oke jadi kamu tidak perlu khawatir" ucap Reyhan lembut yang membuat Ika semakin terisak karena haru dia tidak akan di pecat.


"Hei jangan nangis lagi" ujar Reyhan gelagapan melihat Ika semakin terisak.


"hiks hiks aku tu senang tahu, bapak tidak memecat ku hiks hiks. Apa bapak tahu cari kerja sekarang tu susah banget tahu nggak" ujar Ika lagi membuat Reyhan menatapnya datar.


"Berhenti memanggil ku bapak!!! aku bukan bapak mu" geram Reyhan menatapnya tajam


"Maaf" cicit Ika takut melihat tatapan tajam dari Reyhan.


"Huh kamu masih saja penakut dan cengeng sama seperti dulu" gumam Reyhan pelan namun masih bisa di dengar Ika.


"Maksud pak... eh kak Rey?" tanya Ika yang sempat mendengar guraman itu.


"Ah bukan apa-apa. cepat habiskan makanan mu sebelum dingin" ujar Reyhan mengalihkan pembicaraan dengan memberikan nampang itu di depan Ika.


Ika langsung menatap horor pada bubur yang ada didepannya bagaimana tidak, dia alergi bawang-bawangan yang ada didalam bubur tersebut. sedangkan di bubur itu terdapat bawang goreng yang lumayan banyak.


"Kenapa? apa kamu tidak suka?" tanya Reyhan mengerjit heran melihat reaksi Ika.


"Ah tidak tidak. aku suka kok kak" jawab Ika kikuk.

__ADS_1


"Ya sudah cepat makan atau mau aku suapin?" goda Reyhan menarik turunkan alisnya.


"Aku bisa makan sendiri" jawab Ika cepat kemudian meraih nampan tersebut dan menyendok bubur itu dengan ragu.


'Tahan Ika, Lo pasti bisa. astaga kenapa tu bawang-bawangan ada disana sih' gerutunya menyemangati diri sendiri dengan menelan bubur itu dengan perlahan.


Dengan perlahan Ika menyendok bubur itu sedikit demi sedikit sampai bubur yang ada di mangkuk itu tandas.


"Anak pintar" ucap Reyhan senang tanpa tahu jika Ika sudah susah payah mengabiskan bubur tersebut.


Namun sedetik kemudian.


"Kak toilet dimana mphhhh?" tanya Ika yang sudah siap berlari karena merasakan perutnya yang seakan di aduk-aduk membuat bubur itu kembali ingin keluar.


"Sana" tunjuk Reyhan bingung.


Dengan sekuat tenaga Ika berlari menuju ruangan yang di tunjuk oleh Reyhan, dia langsung memuntahkan makanan itu kembali di wall in closed.


Reyhan pun dengan cepat menyusul Ika dengan wajah khawatir sambil membantu memijit tengkuk leher Ika pelan untuk mengurangi rasa mual nya.


"Apa sudah selesai?" tanya Reyhan khawatir.


Ika hanya menganggukkan kepalanya saja dengan lemah.


Tanpa merasa jijik sedikitpun, Reyhan membantu Ika membersihkan sisa muntahan yang ada di mulutnya sampai bersih kemudian menggendong Ika ala bridal style menuju ke tempat tidur dan meletakkan Ika dengan perlahan.


"Tunggu disini aku akan panggilkan dokter" ucap Reyhan khawatir melihat wajah pucat Ika.

__ADS_1


"Nggak usah kak, aku sudah tidak kenapa-kenapa. lagian bentar lagi enakan kok" cegah Ika namun tak dihiraukan oleh Reyhan yang sudah menelepon dokter kepercayaan keluarganya untuk memeriksa keadaan Ika.


__ADS_2