
"Kenapa berhenti disini?" tanya Ika mengalihkan pandangannya ke arah Reyhan.
"Kamu pasti lapar kan, habis muntah tadi" ujar Reyhan lembut.
"Aku masih kenyang kok" ucap Ika.
Namun tak lama kemudian terdengar.
KRIUK KRIUK
Membuat Ika harus menahan malu.
'Astaga kenapa kalian berkhianat sih' pekik Ika dalam hati dengan wajah merona merah, dia ingin sekali menggali lubang untuk bersembunyi saat ini juga.
Karena tak ingin membuat Ika semakin malu, Reyhan hanya bisa pura-pura tidak mendengar suara itu padahal sebenarnya dia sudah susah payah untuk tidak terbahak-bahak.
"Ayo, aku juga belum sarapan tadi" ajak Reyhan lagi kemudian keluar dari mobil dan berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil untuk Ika.
"Ayo" ajak Reyhan lagi, melihat Ika yang masih menggerutu karena cacing dalam perutnya tidak bisa di ajak kerja sama.
"Ah iya makasih" jawab Ika gugup sambil menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang masih memerah.
Setelah mendapatkan tempat yang sesuai dan jauh dari keramaian. mereka kemudian memanggil pelayan untuk memesan makanan yang diinginkan.
"Mau pesan apa hmm?" tanya Reyhan lembut.
"Samain saja sama punya kak Rey" jawab Ika pelan tanpa berani menatap ke arah Reyhan.
"Nasi goreng seafood 2 yang satu pedas dan yang satunya tidak pedas dan tambahkan sedikit kecap dan jangan tambahan bawang goreng juga. untuk minumannya jus jeruk 2" ujar Reyhan datar dan dingin membuat Ika langsung menatap horor pada Reyhan.
"Ah iya, kalau begitu saya permisi" pamit pelayan itu kikuk.
Padahal dia tadi sangat senang melihat sikap lembut orang itu tadi pada gadis yang ada di depannya namun senyumannya langsung memudar karena mendapat tatapan tajam dari laki-laki tampan itu.
__ADS_1
"Huh dingin banget njirr" gerutu pelayan itu ngacir meninggalkan keduanya yang masih sama-sama saling diam.
Setelah melihat pelayan itu pergi, Ika dengan cepat menanyakan apa yang sedari tadi mengganjal dipikirkannya
.
"Kok kak Rey tahu makanan kesukaan ku bahkan kebiasaan yang sering aku lakukan?" tanya Ika menatap dalam wajah Reyhan.
"Aku kan calon suami yang baik jadi harus tahu semua apa yang calon istrinya suka maupun tidak suka" jawab Reyhan bangga dengan dirinya sendiri membuat Ika menatap jengah padanya
Namun sebelum Ika membalas ucapannya itu, pelayan sudah datang dengan membawa pesanan mereka.
"Silahkan di nikmati tuan nona" ucap pelayan.
"Terimakasih mba" ucap Ika tersenyum manis sedangkan Reyhan hanya acuh tak acuh saja.
Melihat itu, Ika hanya bisa menghela nafas panjang namun dalam hati dia tersenyum senang dengan sikap Reyhan yang hanya lembut padanya sedangkan pada orang lain dia bersikap datar dan dingin.
Setelah menghabiskan makanannya, mereka kemudian bergegas pulang menuju rumah Ika.
"Terimakasih kak" ucap Ika setelah turun dari mobil di ikuti Reyhan yang kemudian bersandar di mobil.
Bu Fida langsung heboh melihat siapa yang datang karena kebetulan dia ada di teras dengan keluarga Ika yang lain.
"Wah ada nak Reyhan, sini masuk sayang" ujar Bu Fida senang kemudian menarik Reyhan untuk bergabung dengan mereka. Hal itu membuat Ika kesal dengan kelakuan ibunya.
"Mama apaan sih!! yang anak mama siapa sih huh?" sungut Ika kesal kemudian berjalan mendekat ke arah mereka.
"Belum jadi suami saja udah di anak tiri kan terus bagaimana jika sudah menikah huh" gerutu Ika pelan namun masih bisa di dengar oleh Reyhan yang berada di dekatnya.
"Suami? jadi kamu sudah mengakui ku hmm?" bisik Reyhan pelan dengan tersenyum senang membuat Ika gelagapan setelah sadar jika dia salah bicara.
"Apaan sih siapa juga yang bilang begitu, kak Rey salah dengar kali" elak Ika salah tingkah dengan cepat menghampiri keluarganya yang lain.
__ADS_1
"Sini nak Rey" panggil kakek Farhan ramah.
"Kak Rey" sambut kedua bocah kecil itu dengan antusias.
"Aqila Fadil jangan lari nanti jatuh" Teriak kedua ibu bocah itu bersamaan.
"Halo sayang" ucap Reyhan lembut kemudian berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya pada kedua bocah itu.
"kak Rey jahat pergi tidak bilang-bilang kemarin" ucap Aqila mengerucutkan bibirnya.
"Iya huh, padahal kita masih mau main sama kak Rey" ucap Fadil menimpali dengan melipat kedua tangannya di dada pura-pura ngambek.
"Kak Rey ada urusan kemarin makanya pulang cepat. Bagaimana kalau nanti kita jalan-jalan?" bujuk Reyhan lembut membuat kedua bocah itu dengan cepat mengangguk antusias.
"Asyik" Teriak keduanya girang kemudian berlari kembali kepada ibunya masing-masing membuat Reyhan menggelengkan kepalanya.
"Maafkan kedua bocah nakal itu ya nak Rey" ucap aunty Nur tak enak hati.
"Ah tidak apa-apa kok aunty, malahan Rey seneng bisa dekat dengan mereka" jawab Reyhan tersenyum hangat yang di balas anggukkan kepala dari mereka.
Sedangkan Ika yang memperhatikan interaksi keluarganya dengan Reyhan hanya melongo tak percaya, sejak kapan keluarganya itu terbuka dengan orang asing karena seingatnya dia tidak pernah membawa Reyhan untuk bertemu dengan keluarganya lalu apa ini, mereka seakan sudah lama saling kenal.
"Sejak kapan kalian begitu akrab" tanya Ika memicingkan matanya.
"Sejak kemarin" jawab Bu Fida yang tiba-tiba muncul dengan membawa nampang berisi minuman dan makanan ringan untuk mereka.
"Tapi aku tidak pernah memperkenalkannya pada kalian lalu bagaimana kalian bisa akrab seperti ini dan itu kenapa kedua bocil itu begitu lengket padanya" ucap Ika bingung seraya menunjuk ke dua bocil yang sedari tadi menempel pada Reyhan.
"Bisa lah. dasar anak nakal kenapa tidak memperkenalkan calon suamimu pada kami hah? jika bukan Rey yang datang kemarin malam, kita semua tidak akan tahu." omel Bu Fida kesal dengan kelakuan anaknya.
"Apa?" teriak Ika membulatkan matanya terkejut bukan main.
"Jangan teriak-teriak ih, tidak malu sama calon suamimu itu?" ucap kakek Reyhan memperingati yang membuat Ika dengan cepat menutup mulutnya sambil menatap horor pada Reyhan.
__ADS_1
Sedangkan Reyhan hanya tersenyum penuh kemenangan.