Ternyata Jodohku Adalah Dia

Ternyata Jodohku Adalah Dia
Insecure


__ADS_3

Setelah perdebatan panjang antara keduanya yang membahas tentang mantan calon suami dari Ika sehingga mereka tak sadar jika ice cream mereka sudah pada habis.


"Ya habis, padahal gue masih lapar ih" ucap Ika lesu.


"Dasar Lo ya, lalu kita ngapain disini seperti orang bodoh saja" kata Nidya yang baru sadar jika sedari tadi mereka berdebat di pinggir jalan..


"Ah iya ya gue juga baru sadar, ya sudah ayo masuk" ajak Ika kemudian.


"Gue malu atuh disana banyak orang pasti" ucap Nidya tetap kekeh nggak mau masuk.


"Iya juga lagian kita juga kelamaan disini. padahal tadi pamitnya cuman jemput Lo doang tadi hahaha" ucap Ika menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"hubungi Fitri gih supaya jemput kita disini" usul Nidya.


"Sebentar" ucap Ika kemudian menghubungi Fitri agar menjemput nya di luar.


Beberapa menit kemudian Fitri akhirnya muncul juga.


"Kalian ngapain sih disitu, kenapa nggak langsung masuk saja disana tidak banyak yang datang kok lagian Lo pasti juga mengenal mereka" omel Fitri tak habis pikir dengan kedua temannya ini..


"Ya mana gue tahu" ucap Nidya menimpali.

__ADS_1


"Ya sudah ayo masuk" ajak Fitri kemudian berlalu lebih dulu yang disusul oleh kedua curut itu.


Sesampainya di ruangan mereka berdua duduk dengan tenang. Namun berbeda dengan Ika yang sedari tadi mencuri-curi pandang ke arah Ardi yang bertepatan duduk di depannya, hal tersebut membuat Nidya yang melihatnya menjadi jengah sendiri. Sedangkan Fitri sudah dari tadi fokus mendengar penyampaian orang yang ada di depannya begitu pun dengan supa.


"Mata kondisikan" tegur Nidya pada sahabatnya itu dengan suara pelan


"Ih Lo ganggu aja deh" kesal Ika karena merasa terganggu.


"Serah deh serah" balas Nidya malas.


Dia membiarkan sahabatnya itu melakukan apa yang dia mau selama tidak menggangu mereka yang ada di depan.


Namun lama kelamaan ekspresi Ika berubah menjadi masam, setelah melihat kedekatan sahabatnya dengan Ardi. Kedengarannya egois sih namun itulah Ika, dia paling tidak suka jika miliknya di ganggu oleh orang lain walaupun sahabatnya sendiri.


"Lo kenapa?" tanya Nidya yang melihat perubahan ekspresi dari Ika.


"nggak kenapa-kenapa kok, gue pengen pipis njirr" jawab Ika mengalihkan pembicaraan.


"Ke WC gih sana" sahut nidya.


"WC nya dimana ogeb, gue mana tahu tempatnya" jawab Ika kesal.

__ADS_1


"Dibelakang kali" jawab nidya seadanya.


"is Lo ya, terpaksa deh gue tahan sampai rumah" ujar Ika menghela nafas panjang.


'Ya Allah kenapa rasanya sakit gini sih, padahal mereka nggak ada hubungan apa-apa selain rekan kerja namun kenapa bisa sesakit ini sih melihat kedekatan mereka. Caranya kak Ardi menatap Fitri kok ada yang aneh ya. Astaga harus kah gue mundur sebelum berjuang?' guman Ika sendu memperhatikan kedekatan sahabatnya dengan orang yang diam-diam di kagumi.


'tapi memang sih aku dengan dia tidak akan bisa bersatu melihat dari fisik dan materi yang ku punya sangat jauh dengannya. aku sadar jika aku adalah wanita kotor sedangkan dia memiliki segalanya. Aku pun sadar dengan masa laluku yang kelam itu pasti dia tidak akan menerimanya' tambahnya merasa insecure dengan apa yang dimiliki.


'oke mari berjuang satu kali jika memang dia masih seperti sebelumnya yang tidak melihat keberadaan mu maka Lo harus mundur teratur, biarkan dia bahagia dengan pilihannya. Mungkin dia bukan jodoh yang ditakdirkan untukmu' guman Ika menyemangati diri sendiri.


"Lo kenapa sih ngelamun terus? kesambet setan baru tahu rasa Lo" Tanya Nidya yang memperhatikan Ika yang sedari tadi melamun.


"Hehehe nggak apa-apa kok gue lagi mikir gimana caranya agar yayang Didi mau melirik gue gitu" jawab Ika ngelantur sambil cengengesan.


"Gue lama-lama jadi enek tahu nggak lihat Lo. Gue aja enek lihatnya apalagi yayang-yayang Lo itu" ujar Nidya dengan menatap jijik ke arah Ika.


"Kalian lagi ngomongin apa sih?" tanya Fitri yang melihat mereka berdua lagi bisik-bisik tetangga.


Hal tersebut membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian.


"Nggak usah dipeduliin, biasa dia lupa minum obatnya sebelum kesini" jawab Nidya enteng.

__ADS_1


"Njirr Lo" maki Ika pelan agar Ardi tidak mendengar makiannya.


Fitri hanya geleng-geleng kepala melihat kedua temannya yang terus berdebat tanpa henti.


__ADS_2