
Reyhan membawa Ika menuju sofa yang ada disana. kemudian berlalu untuk membersihkan dirinya.
tak berapa lama Reyhan kembali untuk mengecek keadaan Ika yang masih belum sadar dari pingsannya.
"Nih orang pingsan apa sudah meninggal ya?" tanyanya dengan diri sendiri.
"hei bangun woi kalau mau mati jangan disini dong" gerutu Reyhan kemudian mengecek saluran nafas ika,
"Masih bernafas pun" gumam Reyhan bingung.
"Apaan sih kalian, ganggu tidur gue aja. gue capek habis di kejar hantu tahu nggak" guman Ika serak karena tidurnya terganggu.
Reyhan hanya melongo tak percaya dengan apa yang dia dengar dan lihat. Ternyata orang yang sedari tadi dia tunggu untuk sadar dari pingsannya ternyata malah tertidur.
Ya Ika sudah sedari tadi bangun dari pingsannya setelah Reyhan berlalu untuk membersihkan dirinya. namun karena lelah sehabis berteriak dan berlari tadi membuatnya tidak bergerak dari tempatnya dan di tambah dia mengira jika tempat yang itu adalah tempatnya menginap dengan teman-temannya yang lain sehingga membuat dirinya memilih untuk tidur walaupun perutnya sudah keroncongan.
"Bangun nggak Lo!!" teriak Reyhan geram melihat makhluk yang ada di depannya itu.
"Apaan sih wing teriak-teriak, gue masih ngantuk tahu nggak" kesal Ika kemudian bangun dari tidurnya tanpa membuka matanya.
"Ehh kok suara Lo berubah jadi maco ya?" tanya Ika yang belum tersadar.
"Bodoh ah" imbuhnya lagi kemudian merebahkan kembali tubuhnya.
Reyhan bertambah geram dengan kelakuan Ika yang tak tahu situasi. Reyhan kemudian mengambil air yang ada di atas meja kemudian menyiramkan kepada wajah Ika.
byurrrr
"Ah banjir-banjir, tolong-tolong" teriak Ika histeris dan tak melihat situasi..
__ADS_1
Brukkk
"auu bo**** gue" ringis Ika mengelus bo****nya yang menyentuh lantai dengan tak elitnya.
"Sudah selesai dramanya?" tanya suara berat dari seseorang.
dengan cepat Ika mendongak ke arah sumber suara.
"Hantu penunggu pohon" teriak Ika melotot melihatnya.
"saya manusia bukan hantu" jawabnya enteng tanpa berniat membantu Ika berdiri.
"Huh kirain hantu, tahu gitu gue nggak ngacir tadi" gerutu Ika kesal.
"terus kenapa nggak bilang tadi" omel Ika kesal kemudian beranjak dari tempatnya menuju sofa di depan orang itu.
Sedangkan orang yang di tanya hanya meliriknya sekilas sehingga membuat Ika tambah kesal.
"Ngapain om kesini? inikan tempat saya sama teman-teman saya" tanya Ika penuh selidik.
"om orang jahat ya" tuduh Ika.
"Enak saja panggil om!! saya bukan om kamu! asal kamu tahu ini tu tempat saya. coba kamu perhatikan" kesalnya.
Ika pun mengalihkan perhatiannya ke sekeliling ruangan, namun ia baru tersadar jika ruangan ini berbeda dengan ruangan yang dia tempati tadi. hal tersebut membuatnya meneguk salivanya kasar.
"astaga sial banget gue ni hari dan apakah tadi dia mendengar semuanya?" gumam Ika pelan dengan menahan malu setelah tiba-tiba ingat dengan kelakuannya di pinggir pantai tadi.
"Baru sadar" sindir Reyhan sinis.
__ADS_1
"Hmm maaf om" cicit Ika merona merah menahan rasa malunya.
"Sudah berapa kali saya bilang jangan panggil saya om, saya tidak setua itu" sungut Reyhan tambah kesal
"Lalu saya harus panggil apa?" tanya Ika yang juga mulai kesal.
"Terserah" ucapnya santai.
"Bapak?"
"Saya bukan bapak kamu"
"kakak"
"saya juga bukan kakak kamu"
"Terus apa?" geram Ika tertahan.
"terserah" santainya.
Ika berusaha mengatur emosinya untuk tidak menerkam orang yang ada di hadapannya ini.
"Untung ganteng jika tidak sudah ku cakar Lo" gumam Ika pelan namun masih bisa di dengar oleh Reyhan.
"Apa kamu bilang?" tanya Reyhan pura-pura tidak mendengar guraman Ika dengan menahan senyum tanpa disadari oleh Ika.
"Hehehe nggak ada kok sayang" jawab Ika dengan cepat sambil tersenyum manis.
Reyhan yang di panggil 'sayang' oleh makhluk yang ada di depannya ini, entah mengapa dia merasa senang bukan main.
__ADS_1
"tidak buruk pun" jawab Reyhan tersenyum tipis yang tidak di sadari oleh Ika.
'ck dasar perjaka tua' umpat Ika dalam hati menatap jengah lawan bicaranya.