Ternyata Jodohku Adalah Dia

Ternyata Jodohku Adalah Dia
Tak Suka Dibantah


__ADS_3

Sesampainya diruangan, mereka kemudian kembali ke meja masing untuk melanjutkan pekerjaannya. Namun tidak dengan Ika, baru saja dia mendudukkan dirinya di kursi namun tiba-tiba manajer divisinya memanggilnya dengan tergesa-gesa.


"Riska hos hos" Teriaknya ngos-ngosan sepertinya sehabis berlari.


"Atur napas dulu pak" ucap Ika.


"Kamu di panggil oleh tuan muda" ujarnya setelah nafasnya kembali teratur.


"Apa? saya?" tanya Ika menunjuk dirinya sendiri dengan bingung karena dia merasa tidak melakukan kesalahan lalu kenapa dia harus menemui tuan muda arogan itu.


Begitu pun ketiga temannya yang terkejut mendengar ucapan manajernya itu.


"Iya ayo cepat kesana, jangan membuat tuan menunggu" desak pak Yanto


"Tapi pak..."


"Sudah cepat kesana sebelum dia mengamuk" ucap pak Yanto bergidik ngerih membayangkannya.


"Iya pak" ucap Ika pasrah


Ketiga rekannya hanya menatapnya dengan khawatir, padahal tadi Ika sudah menampilkan yang terbaik lalu kenapa dia di panggil oleh bos besarnya itu. sedangkan orang yang satunya hanya tersenyum senang melihat Ika terlibat masalah lagi apalagi dengan orang nomor 1 di Perusahaan ini.


"Jangan takut, jika tuan muda berbuat apa-apa padamu, kami akan membantu mu untuk memberikannya pelajaran" ucap Radit menyemangati dengan khawatir begitu pun dengan kedua rekannya.


"Hah iya" jawab Ika tersenyum tulus.


Dengan berat hati Ika melangkahkan kakinya menuju ruangan CEO yang berada di lantai teratas. Dia sebenarnya tidak takut dengan pria itu akan tetapi dia masih malu setelah kejadian memalukan waktu itu.


'huh kenapa harus bertemu dengan orang itu lagi sih' gerutu ika kesal, ingin sekali dia menggali lubang untuk bersembunyi agar tidak bertemu lagi dengan orang itu.


Sesampainya di lantai atas, Ika kemudian menghampiri seorang wanita yang sepertinya sekretaris dari orang itu.


"Permisi mba" ucap Ika sopan.


wanita itu mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang menyapanya, dia kemudian memandang orang itu dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"Apa anda mba Riska?" tanyanya.


"Iya mba" jawab ika menganggukkan kepalanya.


"Mari nona, tuan muda sudah menunggu anda" ucap wanita itu dengan cepat berdiri mempersilahkan Ika.


"Ah iya terimah kasih mba" ucap Ika sopan mengikuti wanita itu.


Setelah mendapat izin dari dalam, Ika dengan perlahan membuka pintu itu sambil menghirup udara dalam-dalam.


"Apa tuan mencari saya?" tanya Ika menunduk sopan.


Membuat kedua orang itu mengalihkan pandangannya ke depan.


"Duduklah" ucapnya datar.


"Terimakasih" jawab Ika sopan.


Setelah itu, kedua orang itu melanjutkan pekerjaannya tanpa menghiraukan kehadiran Ika. Hal itu membuat Ika dongkol karena di abaikan.


"Kalau tidak ada yang ingin tuan sampaikan, lebih baik saya kembali keruangan saya tuan" ucap Ika ketus dengan menekan kata-katanya.


Mendengar itu, membuat Ika semakin kesal.


Rudi yang sedari tadi berada di antara mereka hanya melongo tak percaya melihat pemandangan didepannya ini. Bagaimana tidak!! yang satu menampilkan wajah kesalnya dengan terang-terangan sedangkan yang satunya lagi berusaha menahan senyum. Hal itu untuk pertama kalinya Rudi melihat atasannya itu menampilkan ekspresi seperti itu karena biasanya dia selalu datar dan datar saja.


Karena tak ingin gadis kecilnya itu semakin kesal padanya, dengan cepat Reyhan mengusir Rudi dari ruangan itu.


"Kamu bisa kembali keruang mu untuk melanjutkan pekerjaan itu" usir Reyhan datar.


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi tuan nona" Pamit Rudi sopan yang hanya di jawab anggukan kepala dari keduanya.


"Ada apa tuan memanggil saya kemari?" tanya Ika kembali karena sedari Rudi pergi, disana hanya keheningan yang melanda sehingga membuat suasana menjadi canggung.


"Batalkan pertemuan mu dengan mereka" ucap Reyhan tiba-tiba.

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Ika tidak mengerti arah pembicaraan mereka.


"Jangan pergi ke acara itu pekan depan" ulangnya.


"Tidak bisa tuan karena disana kami akan merayakan keberhasilan divisi kami, jadi saya juga harus pergi. Lagian ya, ini tidak ada urusannya dengan anda" jelas Ika lembut mencoba untuk menahan emosinya.


"Ada Ika!! aku tidak suka jika melihat mu di dekati laki-laki lain" ucap Reyhan kemudian beranjak dari kursinya menuju ke arah Ika yang sedari tadi duduk di sofa.


"Apa maksud anda? Kita tidak punya hubungan apa-apa asal anda tahu" ketus Ika bergerak mundur melihat Reyhan mendekat kearahnya.


"Ada!!! karena kau adalah milikku dan akan tetap menjadi milikku" tegas Reyhan kemudian tanpa aba-aba langsung menyambar bibir ranum itu yang sedari tadi menggodanya.


"mhhhpppp" Ika melotot kan matanya terkejut dengan serangan tiba-tiba ini kemudian dengan cepat memberontak setelah tersadar dari lamunannya.


Namun apa daya bukannya di lepas, Reyhan malah memperdalam ciumannya dengan menggigit bibir bawah Ika, membuat Ika membuka sedikit mulutnya hal itulah mempermudah Reyhan mengekspor semua yang ada didalam sana.


setelah beberapa saat, dia kemudian melepas ciumannya karena melihat Ika yang sudah hampir kehabisan oksigen. dengan lembut mengusap salivanya yang masih berada di bibir Ika.


"Ini milikku, ini, ini, ini dan ini" ucap Reyhan mencium kening, kedua pipi, hidung dan terakhir bibir Ika secara bergantian.


"anda gi**" teriak Ika marah kemudian menjauhkan wajahnya.


"Apa hmm? tetap memanggil ku sebutan yang dulu atau aku akan menghukum mu lagi" ancam Reyhan menyeringai membuat Ika mau tak mau harus menuruti orang ini.


Ika hanya mengangguk dengan cepat agar orang itu tidak melakukan hal lebih seperti waktu itu, membayangkannya saja membuat wajahnya memerah malu.


Setelah beberapa saat, Ika kemudian menghela nafasnya panjang sebelum kembali berbicara dengan orang ini.


"Sayang ayolah aku harus pergi ya lagian mereka mengadakan acara ini untukku masa iya aku tidak datang" rengek Ika dengan memelas padahal dia sudah setengah mati menahan diri untuk tidak mencakar wajah yang ini.


'untung tampan, jika tidak sudah habis kau' gerutu Ika dalam hati terkekeh geli.


"Baiklah, tapi jangan genit dengan laki-laki lain" ucap Reyhan pasrah kemudian mencubit gemas kedua pipi Ika.


Mendengar itu membuat Ika tersenyum senang.

__ADS_1


"Siap bos" ucap Ika senang.


Namun keceriaannya berubah menjadi dongkol kembali karena dia tidak di izinkan untuk kembali ke ruangannya sampai jam pulang kantor. Hal itulah yang membuatnya menekuk wajahnya kesal.


__ADS_2