
"Apa kau melupakan janjimu dulu?" tanya Reyhan menatap langit-langit yang ada di ruangannya.
"Tapi aku senang jika kamu melupakan kejadian mengerikan itu, tidak seperti ku yang masih terbelenggu didalamnya" ujarnya lagi dengan datar namun dibalik wajah datarnya itu tersimpan rasa takut, sedih dan khawatir.
"Huh tunggu aku gadis kecil setelah aku menyelesaikan urusan ku ini, aku tidak akan membiarkan mu terus berkeliaran lagi seperti waktu itu" ucapnya menyeringai mengingat pertemuan pertama mereka setelah kejadian mengerikan itu.
**********
1 bulan telah berlalu begitu cepat, Ika bekerja dengan sangat tekun membuat ketiga rekan kerjanya menatapnya kagum kecuali seseorang yang tidak menyukai kehadiran dirinya siapa lagi kalau bukan nenek lampir itu yang namanya Chika. Chika sangat kesal karena kehadiran Ika membuat dia tidak bisa lagi bersama dengan orang yang dia sukai yaitu Radit. Karena sedari dulu dia selalu mengejar cinta dari Radit dengan terang-terangan tapi Radit tidak pernah sekalipun meliriknya. hal itulah menambah kebenciannya terhadap Ika setalah melihat ketertarikan Radit yang terlihat jelas kepada Ika. apalagi melihat Radit selalu menyempatkan waktu dan memberikan Ika perhatian kecil.
Ika pun sadar jika perhatian yang diberikan Radit padanya bukan lagi sebagai rekan kerja melainkan perhatian pria kepada wanitanya. Karena itulah seringkali Ika menolak ajakan dari Radit karena sampai sekarang dia masih belum siap membuka hatinya pada siapapun.
Sama seperti sekarang ini.
"Maaf pak Radit saya tidak bisa menemani anda makan siang nanti karena saya harus menyelesaikan laporan ini secepatnya agar tidak ada kesalahan pada rapat nanti dengan pimpinan perusahaan" tolak Ika halus membuat Radit kecewa dengan penolakan dari Ika untuk kesekian kalinya.
"Ya sudah, kami duluan ya. lain kali aku tidak menerima penolakan dari mu" ucap Radit tegas membuat Ika hanya mengangguk saja.
"Huh sok jual mahal, dasar belagu" cibir Chika kejam kemudian berlalu mengikuti Radit.
"Nggak usah pedulikan nenek lampir itu. kamu jangan bekerja terlalu keras nanti kesehatan mu akan terganggu loh" Ucap Susi menepuk pelan bahu Ika.
"Siap Bu bos" jawab Ika cengengesan sambil mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
"Huh dasar, gue duluan ya" pamit Susi yang hanya di bala anggukan kepala dari Ika.
"Jangan terlalu memaksakan diri nanti cantiknya hilang loh" goda Dika menarik turunkan alisnya kemudian berlalu mengikuti Susi.
Ika hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah rekan kerjanya.
Setelah mereka semua pergi Ika pun segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum rapat dimulai sambil sesekali menyuapi dirinya dengan bekal yang dibawa dari rumah.
*******
"Huh gue nggak sabar bertemu dengan CEO baru itu yang katanya sangat tampan dan berkarisma tetapi sayang katanya sifatnya sangat dingin dan kejam" bisik Susi kepada Ika yang berada di sebelah nya.
Mereka sudah di tiba diruangan rapat sesaat yang lalu, tinggal menunggu sang CEO untuk memulai rapat tersebut.
"Benarkah?" tanya Ika untuk mengurangi rasa gugupnya untuk tampil pertama mempresentasikan laporan akhir dari divisinya.
"Wah memang dia darimana?" tanya Ika mengerjit heran.
"Huh apa Lo tidak tahu tentangnya" tanya Susi tak percaya yang hanya di balas gelengan kepala dari Ika.
"Astaga Riska, Lo kemana saja seminggu ini ha? informasi tentang atasan Lo saja tidak tahu" ucap Susi tidak percaya.
"Hehehe gue nggak ada waktu ngurusin hal begituan" jawab Ika menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Apa yang kalian bicarakan ha? kamu Riska fokus pada presentasi mu nanti, saya tidak mau jika terjadi kesalahan nanti" Tegus pak Yanto menatap tajam kearah kedua bawahannya itu.
mereka berdua langsung diam seketika, hal itu membuat Chika tersenyum mengejek.
"Makanya yang sok caper, syukurin Lo" gumam Chika sinis yang hanya di dengar oleh kedua orang itu karena mereka duduk berdekatan.
"Lo!" geram Susi menatap Chika tajam.
"Sudah jangan bikin keributan lagi Sus" peringat Ika mengelus lembut punggung Susi untuk menenangkan.
"Huh pasti dulu itu ulahnya sehingga Lo yang masih baru bergabung harus di hukum menggantikan tua bangka itu" sungut Susi geram.
"Biarkan saja, Lo tenang saja gue bisa kok tanganinya sendiri" ujarnya tersenyum hangat.
Tak berapa lama pintu ruangan itu terbuka, dan tampaklah sosok yang sedari tadi di tunggu akhirnya datang juga. mereka semua pun langsung berdiri kecuali Ika yang hanya bergeming dengan pemikirannya sendiri setelah melihat siapa orang muncul di balik pintu itu membuat Ika melototkan matanya terkejut bukan main.
'astaga dia lagi' pekik Ika histeris dalam hati, sejenak dia mengingat awal pertemuannya dengan sosok orang yang ada di hadapannya ini.
"Hei apa yang Lo lakukan" tegur Susi yang melihat Ika tak bergeming di tempatnya.
Mendengar itu dengan cepat Ika berdiri mengikuti apa yang rekan kerjanya lakukan.
Sedangkan orang yang di sambut itu juga sama terkejutnya, dia tidak menyangka ternyata orang yang dia incar ternyata bekerja di perusahaannya sendiri.
__ADS_1
'awas Lo Rud, kenapa bisa melewatkan informasi ini' geram Reyhan tertahan menatap ke arah asistennya dengan kesal.
sedangkan yang di tatap hanya mengerjit bingung, kenapa tuannya itu jadi kesal.