
"Makasih mas sudah ajak Ika jalan-jalan" ucap Ika tulus dengan tersenyum manis setelah sampai di depan rumahnya.
"Apa kamu senang?" tanya Reyhan
Ika menjawabnya dengan anggukan antusias membuat Reyhan mengacak-acak rambutnya gemas.
Mereka kemudian keluar dari mobil dan berlalu masuk ke rumah dengan berjalan beriringan sambil melempar candaan tanpa tahu bencana besar yang akan menimpah hubungan mereka yang baru saja dibangun.
"Ayo masuk mas, mama pasti seneng kamu datang" ajak Ika dengan senyum mengembang membuka pintu untuk Reyhan.
"Kamu atau mama yang senang hmm?" tanya Reyhan menggoda.
"Hehehe dua duanya mas" ucap Ika nyengir yang belum menyadari keberadaan seseorang.
"Dasar" ucap Reyhan mencubit gemas hidung Ika.
"Hmm" deheman Bu Fida untuk menyadarkan keduanya jika masih ada orang disini.
"Kalian bukannya memberi salam dulu malah asyik bermesraan" tegur Bu Fida menghampiri keduanya sambil berkacak pinggang.
"Hehehe lupa ma" jawab Ika nyengir kemudian berjalan mendekati ibunya.
"Assalamualaikum ma" sapa Reyhan mencium punggung tangan Bu Fida
"Waalaikumsalam" jawab Bu Fida tersenyum hangat.
"Ehh ada tamu ma?" tanya Ika yang baru menyadari ada seseorang.
Dia tidak tahu itu siapa karena duduknya yang membelakangi pintu masuk.
"Ah iya, mari duduk dulu" ucap Bu Fida melupakan tamunya.
Dia kemudian mengajak keduanya untuk bergabung.
"Kak Ardi?" pekik Ika membulatkan matanya melihat siapa yang bertamu.
Sedangkan Reyhan langsung menatap tajam ke arah orang itu membuat suasana tiba-tiba mencekam. Dia tahu pasti orang ini yang di maksud Ika waktu itu saat dia mabuk.
__ADS_1
Ardi hanya terkekeh melihat ekspresi Ika tanpa mempedulikan tatapan tajam dari seseorang, dia berusaha menyembunyikan amarahnya mendengar interaksi antara ibunya Ika dengan laki-laki itu.
"Hai" sapa Ardi tersenyum manis.
"Kalian dari mana saja sih? kami sedari tadi menunggu disini" omel Bu Fida yang tidak mengerti suasana yang terjadi.
"Bisa kita bicara?" tanya Ardi menatap lekat pada Ika namun yang di tatap masih berkelana dengan pikirannya sendiri.
"Ah apa?" tanya Ika tersentak kaget ketiga Bu Fida menyenggolnya.
"Bisa kita bicara berdua?" tanya Ardi lagi.
Baru saja Ika mau angkat bicara namun dengan cepat Reyhan menyahut sehingga suasana semakin mencekam.
"Tidak boleh" tegas Reyhan menatapnya tajam.
"Saya tidak ada urusan dengan anda" tekan Ardi membalas tatapan tajam dari Reyhan.
"Semua yang menyangkut tentang Ika adalah urusan saya karena saya calon suaminya" tegas Reyhan bangga.
"Ck baru juga calon, belum tentu Ika mencintai mu karena dia hanya mencintai ku begitupun dengan ku" decak Ardi kemudian menatap Ika penuh cinta membuat Reyhan semakin geram namun seperti biasa dia hanya bersikap tenang untuk menghadapi orang seperti ini.
Sedangkan Bu Fida hanya bisa memijit pelipisnya yang berdenyut melihat perdebatan kedua laki-laki itu yang memperebutkan putrinya yang pecicilan itu.
"wah wah wah cinta anda bilang? lalu kemana anda selama ini ketika Ika mencuri kesempatan hanya untuk mendekati mu hmm?" tanya Reyhan sinis.
Ardi hanya diam saja mendengar ucapan Reyhan karena itu memang kesalahannya yang mengabaikan Ika dulu.
sedangkan Ika langsung menatap horor pada Reyhan karena mengetahui kelakuannya dulu, tapi itu dulu sekarang tidak. jadinya dia hanya menunduk malu dengan perbuatannya, dia sudah tak ada muka untuk melihat ke arah Reyhan.
"Apa anda lupa jika anda sudah memiliki calon istri dan sebentar lagi akan menikah hmm? bagaimana jika calon istri anda tahu jika anda menemui sahabatnya untuk mengungkapkan perasaan anda hmm?" lanjut Reyhan menyindir.
"kau!!!!" geram Ardi yang tersulut emosi langsung menarik gerah baju Reyhan.
"Berhenti apa yang kalian lakukan hah? jika kalian ingin ribut jangan disini" omel Bu Fida emosi melihat keributan tersebut.
"Dan kamu urus kedua laki-laki ini!! mama pusing, mending mama ke dapur siapkan makan malam. jika masalahnya sudah selesai kita makan malam bareng" tekan Bu Fida menatap anaknya tajam.
__ADS_1
Ika hanya mengangguk mengiyakan saja.
"Huh apanya mau di ributkan cantik nggak, kaya apalagi yang ada hanya bisa menyusahkan saja. cinta memang buta!" gerutu Bu Fida berlalu sambil memijit pelipisnya yang berdenyut.
Ika yang mendengar itu hanya bisa mengerucutkan bibirnya kemudian menatap jengkel pada kedua laki-laki itu yang masih bersitegang.
"Jika kalian masih ingin bertengkar, mendingan kalian pergi dari sini" ancam Ika tajam kemudian mendudukkan dirinya di sofa sambil memijit pelipisnya pelan.
kedua laki-laki itupun langsung duduk dengan cepat, yang mana Reyhan langsung merengkuh tubuh Ika posesif sedangkan Ardi duduk di depan mereka berdua dan hanya bisa mendekus kesal melihat tingkah Reyhan.
Sedangkan Ika hanya bisa menghela nafasnya panjang dengan sikap Reyhan yang posesif padanya.
"Mas jangan gini ih, Ika malu" bisik Ika mencoba melepas tangan Reyhan namun bukannya lepas malah semakin erat.
"Enggak" jawab Reyhan singkat kemudian menatap tajam ke arah Ardi begitupun dengan Ardi dia membalas tatapan tajam itu.
Ika hanya bisa pasrah karena percuma melarang Reyhan untuk melakukan apa yang dia mau apalagi masih di liputi amarah, yang ada bukannya persitegangan mereda bisa-bisa tambah runyam.
"Apa yang ingin kak Ardi bicarakan?" tanya Ika serius.
Namun yang di ajak bicara hanya diam.
"kak?" panggil Ika lagi.
Ardi hanya menatap Ika penuh harap tanpa menjawab pertanyaannya. Ika yang melihat itu hanya bisa menghela nafasnya lagi, dia kemudian menatap Reyhan memelas namun yang di tatap hanya membuang pandangannya ke arah lain.
"Mas sekali ini saja" rengek Ika manja namun tak di gubris oleh Reyhan.
"Mas Ika janji tidak akan macam-macam, karena disini sudah ada nama mas dan tidak ada yang lain" bujuk Ika berbisik sambil menunjuk hatinya namun lain hal dengan Reyhan yang merasa suara Ika begitu menggoda membuat dirinya menegang.
"Baiklah tapi ada syaratnya" ucap Reyhan menyeringai.
"Iya iya apapun syaratkan Ika akan turutin" ucap Ika mantap tanpa tahu apa yang akan terjadi.
"Baiklah aku pergi bantu MAMA di dapur, tapi ingat jangan lama-lama aku hanya memberimu waktu 30 menit berbicara dengannya jika lebih maka aku akan menghukum mu hmm" bisik Reyhan dengan menggigit kecil cuping Ika membuatnya sang empunya merinding. Dan juga menekankan kata 'mama' untuk mempertegas bahwa Ika hanya miliknya membuat Ika menggelengkan kepalanya tahu akan maksud itu sedangkan Ardi menggertakan giginya menahan geram.
"Bersenang-senanglah" lanjut Reyhan mencium bibir Ika sekilas kemudian berlalu begitu saja.
__ADS_1
Ardi yang melihat pemandangan itu langsung naik pitam.