
Sesuai perjanjian keduanya, sekarang Ika sudah berada di ruangan Reyhan dengan berbagai alasan yang dia berikan pada manajer dan rekan kerjanya bahwa ada urusan yang sangat mendesak yang harus dilakukannya agar tidak di curigai.
"Huh gara-gara mas aku harus berbohong pada rekan setim ku" gerutu Ika cemberut.
"Hmm sudah manggil mas ni ya?" ejek Reyhan menggoda mengalihkan pandangannya ke arah Ika.
"Kak Rey nggak suka aku panggil mas?" tanya Ika memicingkan matanya.
"Mas suka kok, dengan panggilan seperti itu berarti hubungan kita lebih dekat lagi dan tidak kaku seperti sebelumnya" jelas Reyhan tersenyum.
"Kirain nggak suka" jengah nya membuat Reyhan hanya terkekeh kecil kemudian melanjutkan pekerjaannya.
"Kamu istirahat saja gih selagi aku menyelesaikan pekerjaan ini" ucap Reyhan tanpa melihat ke Ika membuat Ika hanya mendekus kesal.
Suasana kembali hening membuat Ika bosan bukan main apalagi melihat Reyhan yang fokus dengan pekerjaannya tanpa menghiraukan keberadaannya.
Namun dia juga harus mengerti karena memang ini masih jam kerja dan juga Reyhan memiliki tanggung jawab yang besar dalam memimpin banyak orang yang berada dalam naungannya.
Beberapa kali Ika mengubah posisinya untuk mencari posisi yang nyaman sambil membaca majalah yang ada di atas meja, tetapi tetap saja membuat dia merasa bosan.
"Mas Ika bosan, tahu gini mending Ika kerja saja" gerutu Ika mengerucutkan bibirnya.
"Sebentar lagi sayang" bujuk Reyhan menatap Ika sebentar kemudian kembali fokus pada komputer yang ada di depannya.
Ika hanya bisa menghela nafasnya panjang, dia kemudian mencoba memejamkan matanya siapa tahu kantuknya datang sehingga dia tidak merasa bosan lagi.
Dan benar saja, tak lama kemudian terdengar dengkuran halus yang menandakan bahwa dia sudah berada di alam mimpi.
tak berapa lama, Reyhan sudah menyelesaikan pekerjaannya bertepatan jam makan siang tiba. dia kemudian mengalihkan pandangannya untuk melihat apa yang gadis kecilnya lakukan. Dia langsung tersenyum manis melihat sudah tertidur pulas dengan posisi meringkuk seperti bayi.
Dia kemudian berjalan menuju sofa tempat Ika terlelap dan duduk memandangi wajah polos Ika dalam.
__ADS_1
"Kamu semakin cantik jika pulas seperti ini dan tidak cerewet lagi" ucap Reyhan mengulum senyumnya seraya mengelus lembut pipi Ika.
Ika yang merasa terganggu langsung mengerjapkan matanya untuk melihat siapa yang mengusik tidurnya.
"Maaf aku membangunkan mu" ucap Reyhan tak enak hati.
"Apa sudah selesai mas?" tanya Ika serak sambil mengucek-ngucek matanya agar pandangannya tidak buram.
Reyhan hanya mengangguk mengiyakan.
"Sana cuci muka dulu sebelum berangkat ke tempat tujuan" pinta Reyhan mengacak rambut Ika gemas.
Ika hanya mengangguk saja kemudian berjalan gontai menuju kamar mandi.
"Ayo" ajak Reyhan menggenggam tangan Ika.
"Mas jangan gini ih nanti ada yang lihat bagaimana" ucap Ika khawatir mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Reyhan namun gagal karena Reyhan menggenggamnya erat.
"Sultan ma bebas" jengah Ika membuat Reyhan tergelak.
************
Sedangkan di tempat lain.
Setelah pergi meninggalkan Fitri, Ardi kemudian mencari sosok yang sudah membuatnya salah paham dengan Ika namun naas sosok itu sudah pergi luar kota kata orang tuanya dia pergi kerja. Hal itu membuat Ardi semakin murka, dia melampiaskan amarahnya dengan memukul pohon didepannya saat dia sampai di taman dan membenturkan kepalanya berkali-kali membuat tangan dan keningnya berdarah tapi dia tidak menghiraukan itu karena rasa sakit di hatinya lebih berasa daripada luka di tangan maupun kepalanya apalagi mengingat kedekatan Ika waktu itu dengan laki-laki lain membuat dia semakin kalab. Untung saja disana tempatnya sepi karena masih jam kerja. Dia menghabiskan waktu di sana sampai sore menjelang dan bergegas pulang untuk menuju rumah Ika karena setahunya jam segini Ika sudah pulang kerja. Jadi dia dengan tergesa-gesa menuju ke sana tanpa mempedulikan keadaannya yang sudah berantakan dengan rambut acak-acakan apalagi luka di tangannya sudah mengering tanpa dia obati. Karena di pikirannya dia harus mengklarifikasi perasaannya kepada Ika sekaligus meminta maaf karena sudah mengabaikannya dulu sampai sekarang.
"Assalamualaikum" ucapnya sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam" jawab seseorang dari dalam.
dengan perlahan pintu itu terbuka
__ADS_1
"Astaga apa yang terjadi padamu? cepat masuk Tante obati" ucap Bu Fida terkejut melihat kondisi Ardi, dengan cepat menarik lengan Ardi yang tidak terluka masuk ke dalam rumah.
"Aku tidak apa-apa Tante" ucap Ardi menenangkan agar ibunya Ika tidak khawatir.
"tidak apa-apa gimana? tunggu disini Tante ambil P3K untuk mengobati mu" omel Bu find berlalu.
"Luka ini tidak seberapa Tante dengan luka yang ku torehkan pada anak Tante" lirih Ardi menahan sesak.
tak lama kemudian Bu Fida datang dengan membawa kotak P3K untuk mengobati luka Ardi yang sudah mengering.
"Bagaimana bisa kamu terluka seperti ini" omel Bu Fida setelah mengobati Ardi.
"Ardi tidak apa-apa Tante, Ardi tadi terpeleset di tempat kerja" ujar Ardi nyengir.
"Ada-ada saja kamu" ucap Bu Fida menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa kesini? kenapa tidak langsung pulang?" tanya Bu Fida mengerjit.
"Tante tidak suka aku kesini?" tanya Ardi masam.
"Eh bukannya gitu, Tante cuman heran saja tumbeng kesini dan juga datang-datang dengan luka seperti tadi" tanya Bu Fida memperbaiki kata-katanya.
"Ardi mau ketemu sama Ika Tan, apa dia sudah pulang?" tanya Ardi takut-takut.
"Belum nak mungkin sebentar lagi dia pulang" jawab Bu Fida mengangguk-anggukan kepalanya
"Ah begitu, apa Ardi boleh disini sebentar sampai Ika pulang" pinta Ardi penuh harap.
"Jangan terlalu sungkan gitu nak, Tante kebelakang dulu buatkan kamu minum" ucap Bu Fida tersenyum.
"Nggak usah repot-repot Tante" ucap Ardi tak enak hati.
__ADS_1
"Tidak apa-apa" jawab Bu Fida belalu ke dapur.