Ternyata Jodohku Adalah Dia

Ternyata Jodohku Adalah Dia
Gugup


__ADS_3

"Astaga tu anak bisa-bisanya melakukan apa yang gue ucapkan tadi padahal kan gue cuman bercanda. Haiiss bagaimana ini?" gerutu Ika sambil bersiap-siap karena orang yang dimaksud sudah menunggunya di depan rumahnya.


"Awas Lo ya" kesal Ika kepada sahabatnya itu.


"Lama banget si Ka, itu Ardi sudah menunggu di depan. Memangnya kalian mau kemana?" omel Fida ibunya Ika.


"Tadi Fitri mengajakku untuk menemaninya ke sekdes Ma" jawab Ika seadanya.


"Oh lalu kenapa sama Ardi?" tanya Fida penuh curiga.


"Fitri bilang dia bareng sepupunya pergi, dan katanya aku perginya sama Ardi kan dia juga terlibat. Ya sudah aku berangkat dulu ya ma" pamit Ika mencium tangan Fida dan tak lupa mencium pipi ibunya lalu berlalu pergi.


"Hati-hati dijalan" ucap Fida pada sang anak.


"Iya ma" jawab Ika kemudian bergegas menghampiri supa yang sedari tadi menunggunya.

__ADS_1


"Apa Fitri sudah berangkat juga?" tanya Ika gugup karena bingung untuk memulai pembicaraan.


"Sudah" jawab Ardi singkat.


"oh" ucap Ika masam kemudian bergegas naik ke motor yang di tumpangi Ardi.


Diperjalanan mereka hanya saling diam, tanpa ada memulai pembicaraan satu pun.


'astaga jantung gue kenapa seperti sudah lari maraton sih, astaga bisa mati muda gue kalau gini. udaranya juga kenapa jadi dingin gini sih kan gue menggigil jadinya. is awas Lo ya Fitri" gerutu Ika dalam hati memaki sahabat laknatnya itu sambil meremas kedua tangannya yang kedinginan.


setelah menempuh perjalanan sekitar 5 menit, karena jarak tempuh dari rumahnya sampai sekdes tidak terlalu jauh jadi tidak memerlukan waktu yang terlalu lama dijalan. Sesampainya disana Ika langsung turun dari motor yang ditumpanginya bersama supa menuju ke arah Fitri yang sudah menunggunya dari tadi.


"Hahaha ya gue tadinya nggak bermaksud begini kok tapi tadi tiba-tiba sepupu gue telpon bilang bareng dia pergi kesini jadinya kan gue langsung telpon yayang Lo supaya bisa bareng Lo berangkat nya" jawab Fitri menarik turunkan alisnya.


"Kampret Lo" kesal Ika sambil menoyor kepala Fitri

__ADS_1


"Sakit tahu nggak" aduh Fitri sambil mengelus kepalanya.


"Itu balasan dari gue karena gara-gara Lo gue hampir mati kedinginan dijalan, mana udara tumben amat dingin gitu" ucap Ika tak terima.


"Mana gue tahu, lagian Lo suka kan bisa dekat-dekat dengan dia" goda Fitri untuk meredam kekesalan sahabatnya itu yang dari tadi terus mengomel.


"Oh jelas" jawab Ika terbahak-bahak.


"Ya sudah ayo masuk" ajak Fitri.


"Lalu Nidya bagaimana, katanya tadi dia sudah siap-siap loh" ujar Ika mengingat sahabatnya yang satu itu.


"suruh saja langsung kesini, karena tadi gue nggak enak bilangin sepupu gue untuk singgah dirumahnya tadi" jawab Fitri.


"Gue juga sama, mana berani gue menyuruh dia berhenti didepan rumahnya Nidya" kata Ika kemudian mengirim pesan pada Nidya agar langsung ke sekdes.

__ADS_1


"Sudah, tinggal menunggu nya datang" ujar Ika sambil sesekali mencuri pandang ke arah supa yang fokus pada berkas didepannya.


Fitri hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Ika, kemudian fokus pada berkas pendataan yang ada di depannya.


__ADS_2