
"terimakasih untuk hari ini ayu.." kata izal.
"Iya kak.."
"Ini sudah larut, ijinkan Aku akan mengantarmu pulang."
"Tidak usah kak, aku naik taksi saja."
"Please untuk kali ini jangan tolak tawaranku ayu.. aku tidak bisa tenang jika membiarkanmu pulang sendiri."
"Hmm baiklah.."
Sepanjang perjalanan ayu menunjukkan lokasi tempat tinggalnya.
"Di depan ada pagar putih itu kak berhenti disitu saja."
"Apa rumahmu sudah pindah?"
"Tidak.. aku tinggal disini sekarang."
"Wah besar sekali. Kamu tinggal sendiri disini?"
"Hm.. sebenarnya tidak sendiri kak.. ada saudara juga."
"Oh.. sepupumu?"
"Hmm bukan dia lebih tua 10 tahun dari aku."
"Oh paman?"
"Hmmm.. kak maaf aku masuk dulu ya.."
"Oh ok.."
"Kakak hati-hati dijalan.."
"Iya.."
Ayu baru masuk setelah mobil izal tampak jauh dari tempatnya semula.
Ayu sampai rumah pukul 9 malam.
"Mungkin dia belum tidur jam segini. Apa yang harus aku katakan sekarang?"
Ayu melihat ponselnya.
"Oh my.."
35 panggilan tak terjawab
"Pria itu pasti sangat marah sekarang"
Ayu masuk perlahan-lahan dan berusaha untuk tidak bersuara.
Dia mencari-cari sosok pria pemilik rumah itu. "Di tempat kerja tidak ada, di kamar tidak ada. Dimana dia?" Batin ayu.
"Ah sudahlah.. aku mandi saja dulu." Ayu berhambur ke kamar mandi.
Tak lama kemal masuk dan mengamati pintu kamar mandinya.
"Darimana saja kamu ayu? Kenapa tidak menjawab teleponku?" Batin kemal. Pria itu keluar dari kamar dan memilih tidur di ruang kerjanya. Ia tahu ayu pasti lelah setelah keluar rumah seharian. Ia memutuskan untuk berbicara dengan istrinya itu besok pagi.
-----
Keesokan harinya.
"Hoam.." ayu menguap. Tidurnya lelap sekali setelah kemarin ia cukup lama berkeliling mall dengan high heels dan itu menguras tenaganya.
"Selamat pagi ayu.."
"Hap!" Ayu segera mengatupkan mulutnya yang semula menganga.
Kemal menghampiri ayu dan duduk di sudut ranjang.
"Hari ini mau sarapan apa tuan putri?"
"Hah? Tuan putri?" Batin ayu.
"Hari ini aku spesial off kerja jadi apapun yang kamu mau aku akan turuti semampuku."
"Hmm ta-tapi ini terlalu berlebihan."
"Tidak berlebihan kok. Aku kan melakukannya khusus untukmu."
Deg.
"What the..****" batin ayu.
"Baiklah aku akan menunggumu dibawah. Kita akan putuskan bersama menu sarapannya."
"Bibi..?"
__ADS_1
"Barusaja aku suruh pulang dan kembali besok."
Kemal tersenyum simpul.
"Kenapa aku merasa senyumnya itu mengerikan sekali?" Batin ayu.
"Hai kamu sudah selesai kemarilah.."
Kemal memanggil ayu ke dapur. Wanita itu berjalan menghampiri kemal yang telah siap untuk memasak. Pria itu telah mengenakan apron dengan pisau dapur ditangannya.
"Kenapa aku merasa seperti dia ingin memakanku?" Batin ayu.
"Hari ini kamu mau makan apa?" Tanya kemal
"Aku ikut aja.."
"Baiklah kalau begitu mari kita membuat omelet yang penuh gizi."
"Bisa kamu bantu aku memotong brokoli itu?"
"Oke."
"Eits tunggu dulu."
Kemal mengambil satu lagi apron untuk dikenakan ayu. Ia memakaikan apron itu ke tubuh mungil ayu.
Kemal memegang pundak ayu dari belakang dan berbisik ditelinga wanita itu."Tenanglah.. aku hanya akan memasangkan apron ini saja."
Deg!
Sontak membuat ayu kaget.
"Nah selesai.. ayo kita mulai memasak."
"Lagi lagi dia tersenyum seperti tadi di kamar. Dia pasti sangat marah karena kemarin kan? Akan lebih baik jika dia mengatakannya langsung daripada bersikap seperti ini." Batin ayu. Ayu mengikuti semua yang dikatakan kemal.
Setelah sarapan mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di taman dekat rumah.
"Sepertinya itu ide yang tak begitu buruk. Aku berharap taman bisa mengubah suasana hatinya baru kemudian aku akan meminta maaf untuk kejadian kemarin." Batin ayu.
Setelah cukup lama berjalan. Ayu merasa sudah saatnya ia berbicara. Karena sejak tadi baik kemal maupun ayu sama-sama diam.
"A-aku.."
"Apa kamu mengatakan sesuatu?"
"Ya.. itu.. tentang kemarin..aku ingin minta maaf.."
Kemal melihat ayu yang gugup dan tampak takut padanya.
"Sebenarnya setelah beli baju aku pergi dengan teman kuliahku ke bioskop dan ponselnya dalam profil diam jadi.. aku.. tidak tahu kalau kamu mencoba menghubungiku berkali-kali.. maaf membuatmu khawatir."
Kemal masih saja diam membisu.
"Katakan sesuatu.. jangan diam saja..kumohon bicaralah.." batin ayu.
"Aku tahu sejak tadi pagi kamu marah kan sama aku?" Kata ayu.
Wanita itu tidak berani menatap langsung mata kemal.
"Terimakasih ayu.."
Ayu terkejut dan melihat wajah kemal yang sedikit tersenyum.
"Terimakasih kamu mau jujur padaku."
"Kamu salah kemal.. aku masih belum mengatakan yang sebenarnya bahwa aku kemarin pergi dengan teman pria yang telah lama aku sukai sejak kuliah. Tapi kalau aku mengatakannya aku takut kamu akan marah. Bukan masalah kamu lantas menceraikanku tapi aku takut kemarahanmu akan mengancam kehidupan keluargaku." Batin ayu.
"Baiklah aku sudah memaafkanmu.. kalau begitu mulai sekarang aku harap kemanapun kamu pergi jangan lupa beritahu aku. Oke?"
"Oke.."
---
Malam harinya di kediaman Dokter Kemal.
"Berikan padaku.. kumohon cepat berikan.."
"Baiklah akan kuberikan tapi panggil namaku dulu"
"Tapi kan kamu lebih tua ah maaf maksudku tidak baik memanggil nama langsung. Aku akan canggung sekali."
"Kalau begitu panggil aku sesukamu."
"Hmm..baiklah aku akan memanggil kamu om."
__ADS_1
"Puf..bwahahaha.."
"Kenapa kamu tertawa?"
"Ya sudah terserah kamu mau memanggilku apa yang penting kamu nyaman."
"Jadi sekarang kembalikan ponselku."
Kemalpun mengembalikan ponsel ayu.
---
Yang sebenarnya terjadi beberapa jam yang lalu..
Malam harinya kemal dan ayu harus memasak makanannya sendiri, itu karena sejak pagi bibi sudah dipulangkan oleh kemal.
Ayu kali ini menawarkan diri untuk membuat makan malam. Ia ingat janjinya beberapa hari yang lalu bahwa suatu saat ia akan memasak untuk kemal.
"Hmm.. harumnya masakanmu.. aku jadi tambah lapar. Apa masih lama ayu? Apa yang bisa kubantu supaya cepat matang?"
"Tidak perlu melakukan apa-apa . Cukup duduk saja."
"Quala.. masakan ala chef ayu well done."
"Boleh sekarang aku makan?"
"Tentu saja boleh silahkan.."
Setelah selesai makan ayu dan kemal duduk di ruang tv bersama sambil ditemani dua gelas teh hangat dan sepiring kudapan berupa cookies.
Drrt..drrt..
"Panggilan masuk dari izal? Mau apa dia telpon jam segini." Batin ayu.
"Sepertinya ponselmu berdering ayu.."
"Oh iya biarkan saja tidak terlalu penting." Ayu sedang fokus menonton reality show favoritnya di tv.
Kemal fokus kembali ke tv.
Tapi tak lama kemudian izal kembali menghubungi ayu. Kali ini dia mengirim pesan.
"Ayu.. lowongan pekerjaannya buka lebih awal yaitu besok pagi sampai sore. Kalau bisa datanglah lebih awal."
Isi pesan izal.
Saat tv sedang iklan, barulah ayu memperhatikan ponselnya.
"Apa? Dipercepat?" Batin ayu.
Tak dapat dipungkiri ekspresi kaget ayu barusan menimbulkan rasa penasaran di hati kemal.
"Ada apa ayu? Apa terjadi sesuatu pada keluargamu?" Tanya kemal.
"Keluargaku baik-baik saja kok.. tenang saja tidak ada masalah kok."
Tiba-tiba saja kemal merebut ponsel ayu.
"Berikan padaku.. kumohon cepat berikan.."
Ayu berusaha menggapai ponsel dari tangan kemal tapi usahanya sia-sia karena badan kemal yang lebih tinggi daripada badannya.
Tanpa sadar tubuh ayu begitu dekat dengan tubuh kemal. Sontak ayu mundur teratur dan memasang wajah cemberut.
"Baiklah akan kuberikan tapi panggil namaku dulu"
"Tapi kan kamu lebih tua ah maaf maksudku tidak sopan memanggil nama. Aku akan merasa canggung sekali."
"Kalau begitu panggil aku sesukamu."
"Hmm..baiklah aku akan memanggil om."
"Puf..bwahahaha.."
"Kenapa kamu tertawa?"
"Ya sudah terserah kamu mau memanggilku apa yang penting kamu nyaman."
"Jadi sekarang kembalikan ponselku."
Kemalpun akan mengembalikan ponsel ayu. Tapi ia masih ingin mengulur waktu.
"Eits.. tunggu dulu."
"Ya ampun apa lagi om?"
"Apa yang membuatmu terkejut tadi?"
"Apa aku ceritakan saja yang sebenarnya ya?" Batin ayu.
__ADS_1
to be continued